Peluang Berkiprah di Organisasi Internasional

Para Pembicara dari Organisasi PBB Indonesia

Bertempat di Hotel Grand Clarion Makassar, pada Selasa (8/11) lalu, Direktorat Jenderal Multilateral Kementrian Luar Negeri RI mengadakan seminar mengenai peluang bekerja pada organisasi internasional. Seminar ini menghadirkan beberapa organisasi sayap Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) seperti United Nation Development Program (UNDP),  Asian Development Bank (ADB), dan UNICEF. Seminar dibuka oleh Sekretaris Dirjen Multilateral Kemenlu RI, Dominikus Supraptito.

Dalam sambutannya diawal seminar, Dominikus mengatakan bahwa  sejauh ini putra-putri Indoneisa belum memanfaatkan lowongan dan kesempatan untuk berkiprah di organisasi PBB dengan baik. Padahal katanya, dengan berkiprah di organisasi level internasional setidaknya kita memilki posisi dan peran strategis untuk menyuarakan kepentingan Indonesia di level dunia. Pun kalau ada, lanjut Dominikus, jumlahnya masih sangat sedikit dan belum ada yang menduduki posisi decision maker yang bisa menenggelamkan dominasi Negara maju. “Padahal Negara kita harus membayar untuk menjadi anggota dari organisasi internasional itu. Dari 216 organisai internasional yang Indonesia gabung, setiap tahun ada sekitar 250 miliar anggaran Negara dialokasikan untuk itu”, kata Domi. Lebih jauh ia mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara dengan penduduk sekitar 240 juta jiwa dikalahkan oleh Negara-negara dari daratan Afrika yang berhasil menempatkan putra-putri terbaik mereka menduduki jabatan strategis diberbagai organisasi level dunia itu. “Sebagai contoh, UNDP Indonesia itu dipimpin oleh orang Maroko. Padahal Maroko hanya berpenduduk sekitar 70 juta jiwa. Kalah jauh dari kita.  Bangladesh juga yang tingkat ekonominya jauh dibawah kita namun bisa mengirimkan putra terbaiknya untuk jabatan bergengsi di organisasi PBB”, tandasnya.

Menanggapi sedikitnya anak Indonesia yang berkiprah di organisasi internasional, Ayu Sundari, Senior External Relation Officer ADB Jakarta yang berbicara pada sesi pertama mengatakan bahwa kultur kita sebagai orang Indonesia memberikan cukup pengaruh terhadap cara pergaulan kita. “Budaya kita, diam itu emas. Sedari kecil kita diajarkan untuk tidak banyak berbicara,memberikan pendapat, dan sebaginya. Sehingga ketika kita besar, kita sangat susah untuk berargumen, mengeluarkan pendapat. Ini berbeda dengan budaya barat yang lebih terbuka”, kata Ibu cantik ini. Ia melanjutkan bahwa tentu beberapa kondisi dan syarat yang diajukan oleh organisasi iternasional juga membuat anak-anak Indonesia tidak tertarik berkiprah dan meretas karir di organisasi itu. “Seperti di ADB misalnya. Syarat-syaratnya mungkin agak berat terutama untuk kaum perempuan dan cinta keluarga. Di ADB, kita menguatamakan lulusan S2 dengan usia maksimal 32 tahun, lulusan S1 diutamakan yang berpengalaman minimal 6 tahun dibidangnya dan tidak menerima freshgraduate, lihai berkomunikasi dan lancar berbahasa Inggris plus minimal satu bahasa resmi PBB lainnya seperti Perancis, dan siap jalan-jalan”, jelasnya. Ia melanjutkan, “Mungkin terlihat berat dan susah memang. Tapi sebenarnya tidak susah-susah amat kok. Karena yang akan diperoleh juga lumayan. Kerja dikit tapi gaji gede, memilki pengalaman hidup mendunia (world-life balance), dan yang paling penting bisa melakukan sesuatu untuk Negara (kalau menjabat posisi decision maker)”, tambahnya.

Hal senada juga diutarakan perwakilan UNDP Indonesia yang berbicara pada sesi kedua. Memang syarat-syaratnya terlihat gampang-gampang susah, namun keengganan kita untuk keluar dari zona kenyamananlah yang membuat kita semakin tidak tertarik untuk bergabung dan menjadi bagian dari UN family. “Di UNDP kita memilki 5 principles of recruitment. Yaitu competitive, fairness, obejectivity, transparency, dan accountability”, jelasnya. Sedangkan untuk syarat yang lebih spesifik, hampir sama dengan ADB dan organisasi PBB yang lain. Tingkat pendidikan dan pengalaman dibidang yang relevan tentu akan menjadi pertimbangan uatama.”Tapi di UNDP, kita tidak mengenal gaji pensiun. Jadi sepintarnya kita mengelola pemasukan selama masih aktif untuk kepentingan hari tua”, tambahnya.

Begitupula pada UNICEF yang bergelut dibidang anak-anak yang pada seminar itu diwakili oleh Kepala Kantor Perwakilan UNICEF untuk Sulsel dan Maluku, Purwakarta Iskandar. Syaratnya semua hampir sama. Namun selain lowongan untuk menjadi pegawai tetap, UNICEF juga membuka peluang bagi mahasiswa yang masih aktif kuliah untuk magang dan bekerja sebagai volunteer atau UNICEF internship.

Untuk selengkapnya mengenai informasi ketiga organisasi PBB diatas bisa langsung menengok situs mereka. UNDP di www.undp.or.id, www.adb.org untuk ADB, dan www.unicef.org untuk UNICEF. Selain beberapa situs diatas bisa juga mengakses situs berikut untuk informasi magang dan sejenisnya.

www.onlinevolunteering.org, www.unv.org/how-to-volunteer.html., www.unv.orgwww.undp.or.id/internship., www.undp.org/ohr/interns/intern.htm, atau untuk mengetahui lowongan internship untuk UNICEF bisa menhirim surat elektronik ke internship@unicef.org. Jika Anda tertarik untuk bergabung dan berkiprah di salahsatu organisasi internasional diatas, pastikan Anda berpengalaman di bidangnya, dan memilki kemampuan bahasa Inggris plus satu bahasa asing lainnya. Selamat berkiprah untuk dunia.   

***