Mr. Stanis yang Bersahaja

Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas)
Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas)

Kita semua tentu memiliki sosok yang kita kagumi. Entah karena kepakarannya dibidang tertentu atau karena satu dan dua hal yang lain. Bisa jadi sosok yang kita kagumi itu adalah orang yang biasa saja, tak memiliki jabatan apapun, seorang menteri, presiden, ilmuwan, gubernur, bupati, dosen, kepala desa, artis, atau bahkan orang tua kita sendri, ayah dan bunda. Bisa juga para Nabi yang menjadi penuntun jalan hidup dan berkehidupan kita hingga hari ini.

Saya sendiri memilki beberapa sosok yang saya sebut para inspirator. Ada mantan menteri, motivator, petualang, dosen, penulis bahkan teman kampus dan di komunitas serta organisasi. Ada yang saya kagumi karena lika-liku hidup mereka yang mengharu biru hingga mencapai kesuksesan, ada juga yang saya kagumi hanya karena satu hal yang mungkin sederhana, karena dia sederhana dalam kemapanan. Sederhana dalam kemapanan intelektual, bersahaja walau berlimpah materi.Tak pernah pongah walau dia berhak untuk melakukan itu.

Yah, alasan itu juga lah yang membuat saya kagum dengan sosok Bapak satu ini.

Kami memanggilnya Pak Stanis. Sering juga Mr. Stanis. Seorang dosen yang berpenampilan sederhana. Stelan favoritnya adalah kemeja polos, kadang juga kotak-kotak, dan celana panjang Emba. Untuk alat komunikasi, ia memilih Nokia ‘batu’ yang entah keluaran tahun berapa . sangat jadul. Benar-benar sebuah HP kusam. Tas? Bukan tas jinjing atau ransel ala professional. Melainkan sebuah ransel kecil lusuh yang entah dibeli tahun berapa.

Di jususan Sastra Inggris kampus merah, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar ia mengampu beberapa mata kuliah yang merupakan kepakarannya. Dasar-dasar Filsafat, Logika, Semiotika, Antropolingiustik, dan beberapa mata kuliah linguistic dan kesusastraan lainnya termasuk beberapa mata kuliah pilihan seperti Bahasa Latin yang ia kuasai dengan baik, lisan dan tulisan.

Sekilas Nampak dari luar, tak akan ada yang istimewa dari sosoknya yang bersahaja itu. Namun sesungguhnya ia adalah bagaikan setumpuk kamus dan ratusan judul buku yang berjalan. Sangat cerdas. Seorang peneliti, budayawan, dan juga flisuf mungkin. Ia menghabiskan separuh hidupnya untuk meneliti budaya Toraja di Sulawesi Selatan. Ia masuk keluar pedalaman Toraja untuk menyelami makna yang terkandung dalam beberapa upacara adat. Karena kefasihannya berbahasa Inggris, Perancis, dan Bahasa Latin, bahasa ritual budaya Toraja diterjemahkannya demi kelangsungan budaya Toraja.

Ia lah yang menrjemahkan beberapa film dokumenter tentang beberapa ritual adat di Toraja ke bahasa Inggris untuk TV5 Perancis (1996). Ia juga pernah menerjemahkan sekitar 20 film selama sebulan dengan upah 200 dollar AS per hari.

Tak heran bila Harian nasional Kompas pernah memuat sosoknya di rubrik ‘Sosok’ koran itu dengan judul “Juru Kunci Tanah Toraja”. Sebuah julukan yang menggambarkan segala hal tentang Toraja ada apada dirinya dan mengalir bersama darahnya. Tittle akademik tertingginya adalah Dr (doktor), yang ia gondol dari University Chicago Amerika Serikat berkat beasiswa Ford Foundation pada tahun 1993. Sedangkan gelas masternya juga diperoleh dari kampus yang sama tapi melalui beasiswa Fullbright pada tahun 1989. Dan sarjana S1-nya diperoleh dari Sastra Inggris, Universitas Hasanuddin. Namun oleh koleganya sesama dosen di UNHAS ia seringkali dipanggil ‘Prof’. Sebuah panggilan ia elak dengan senyum sembari berujar, “ah, saya bukan dan belum profesor’.

One thought on “Mr. Stanis yang Bersahaja

  1. Reblogged this on Boe-rkelana and commented:

    Bapak Stanislaus Sandarupa, Ph.D. Saat saya menulis sosoknya berikut di tahun 2012 silam, ia belum bergelar profesor. Ia baru diangkat jadi guru besar antropolinguistik UNHAS pada 1 Maret 2015.

    Sepanjang hari ini, Senin 18/01/2016, berita tentang kepulangannya beredar di timeline fesbuk para sahabat, bapak/ibu dosen di UNHAS, dan kawan-kawan yang pernah menjadi mahasiswanya.

    Hari ini, ia pulang menuju keabadian. Sebuah kehilangan yang sungguh bagi kami, bekas mahasiswanya, dan tentu saja bagi UNHAS, tempat segala ilmu dan pengabdiannya terhadap penelitian dicurahkan.

    Selamat jalan, Prof.
    Kami senantiasa mengenangmu sebagai guru terbaik!
    Rest in Peace!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s