Cerita KKN (8); Warga Belajar Menjadi Citizen Reporter

Ilham, Wartawan Harian Tribun Timur Membawakan Materi Jurnalisme Warga
Ilham, Wartawan Harian Tribun Timur Membawakan Materi Jurnalisme Warga

Hidup di desa selalu memiliki ceritanya sendiri. Diluar kebersahajaannya yang dipuja, terkadang ia bercerita tentang narasi duka yang tak terekspos oleh media. Menyadari hal itu, mahasiswa KKN posko Desa Mangilu menyusun salah satu program kerja yang kiranya bisa memberikan pengetahuan baru bagi warga agar Desa mereka dilihat dunia.

Program kerja yang dimaksud adalah seminar dan workshop tentang Jurnalismen Warga (citizen journalism). Peserta workshop sehari ini adalah para aparat desa, kepala-kepala sekolah, dan tokoh masyarakat.  Sebagai pembicaranya, kami mengundang wartawan harian Tribun Timur Makassar, Ilham S IP.

Alhamdulillah, pada hari pelaksanaannya, banyak warga yang hadir dan tertarik untuk menjadi citizen reporter atau menulis tentang desanya melalui media sosial.

Berikut catatannya yang saya tulis sehari setelah seminar.

***

Jurnalis Politik Koran Tribun Timur Makassar, Ilham S.IP,  berkesempatan hadir dan membawakan materi pada seminar tentang Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) di aula Kantor Desa Mangilu, Kamis (05/04). Seminar ini merupakan salahsatu dari enambelas (16) program kerja yang diagendakan oleh Posko KKN UUNHAS Desa Mangilu. Selain dihadiri oleh beberapa staf Desa Mangilu, seminar jurnalisme warga yang untuk pertama kalinya diadakan oleh mahasiswa KKN di Mangilu ini juga dihadiri oleh perwakilan guru-guru  SD dan SMP se-Mangilu, fasilitator Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mangilu dan beberapa orang warga. Juga Bapak Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Bapak Sersan Dua (Serda) Usman yang hadir dengan mengenakan pakaian loreng.

Pada sambutannya sebelum seminar, sekretaris Desa Mangilu, Mudatsir, mewakili kepala Desa yang berhalangan hadir mengapresiasi usaha dan kreativitas mahasiswa KKN Unhas untuk menggelar seminar jurmalistik warga ini. ”Saya mewakili pemerintah Desa Mangilu mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh adik-adik Mahasiswa KKN UNHAS ini. Ini akan menambah wawasan warga mengenai sesuatu yang tidak mereka ketahui selama ini.” kata pegawai negeri sipil ini.

Peserta dari Guru-guru SD serius mengiktui jalannya workshop
Peserta dari Guru-guru SD serius mengiktui jalannya workshop

Seminar yang berlangsung selama dua jam ini berhasil menarik perhatian peserta. Ilham S.IP.,  wartawan muda rubrik politik harian Tribun Timur Makassar berhasil membius peserta dengan bahasa yang sederhana namun dengan retorika yang memukau. Alumni jurusan Hubungan Internasional UNHAS ini menjelaskan definisi Jurnalisme Warga beserta beserta contoh kasus yang berhasil diliput warga dan menjadi isu nasional. “Bahasa sederhananya Bu Pak, jurnalisme warga itu adalah warga yang menjadi wartawan. Berita yang dilihat,

ditulis, dan dikirim ke media oleh warga. Bapak dan Ibu bisa menulis apa saja dan silahkan kirim ke Media.” Jelas Ilham.

Diujung seminar banyak peserta yang menanyakan langkah praktis dan bagaimana cara menulis berita citizen journalism yang benar. “Intinya ibu pak, kita hanya butuh memfungsikan semua indra kita dan menuliskannya dalam bentuk berita”, tutup Ilham. (*)

Cerita KKN (7); Guru-guru SD Berharap Ada Pelatihan Lanjutan

Ode Memberikan Pelatihan Komputer Dasar Untuk Guru-guru SD
Ode Memberikan Pelatihan Komputer Dasar Untuk Guru-guru SD

Salah satu program kerja yang kami rencanakan selama KKN adalah pelatihan IT untuk guru-guru sekolah dasar se desa Mangilu.

Ode, ITholic yang menggawangi program ini berhasil membuat beberapa ibu-ibu guru SD ketagihan belajar komputer.

Berikut catatannya yang saya tulis sehari setelah pelaksanaan program.

***

Guru-guru sekolah Dasar (SD) se-desa Mangilu masih membutuhkan pelatihan komputer lanjutan. Kemampuan yang mereka miliki saat ini dalam hal mengoperasikan dan menggunakan software komputer (laptop) masih terbilang rendah.  Demikian kesimpulan mahasiswa KKN UNHAS Gel 81 Desa Mangilu setelah berapa hari memberikan pelatihan penggunaan komputer dasar kepada guru-guru SD se-Mangilu. Dari empat SD yang didatangi, rata-rata guru-gurunya masih blank dalam menggunakan dan mengoperasikan menu dan software dasar komputer. Seperti menu-menu dalam program Microsoft Word dan Power Point. Selama ini yang mereka ketahui hanyalah menghidupkan dan mematikan komputer saja. Sedangkan terkait penggunaan dan fungsi menu dalam tiap software dasar yang ada mereka tidak terlalu serius mempelajarinya.

Hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, pelajaran untuk anak-anak SD tidaklah membutuhkan skill presentasi yang rumit. Kedua, komputer, menurut mereka

fungsinya hanya sebatas terkait administrasi sekolah. Sehingga yang wajib tahu segala hal tentang pengetikan dan urusan adminsitasri sekolah hanyalah administrator atau staf administrasi sekolah saja. Sedang untuk guru-guru pengajar, kemampuan mengetik dan menggunakan komputer secara serious tidaklah terlalu penting. Karena jarang diaplikasikan secara praktis dalam kelas atau dalam meningkatkan kecerdasan mengajar dan pengajaran dalam kelas.

Sebenarnya, tiap sekali seminggu, para guru SD ini memiliki peluang belajar komputer gratis. Menurut salah seorang guru yang sempat kami wawancarai, bahwa tiap hari Kamis tiap minggu ada Kelompok Kerja Guru (KKG) yang kegiatannya dipusatkan di Gedung Pelatihan dan Pendidikan PT. Semen Tonasa. Di KKG itu mereka diajarkan penggunaan dan pengoperasian komputer. Namun menurut meraka, kegiatan itu tidak terlalu menunjang peningkatan mereka dalam menggunakan komputer. “Pelatihan hanya

seminggu sekali dan hanya satu setengah jam saja. Bagaimana kami bisa komputer?”, sungut seorang guru di salahsatu SD yang kami datangi.

Tentu mereka menyambut baik kesediaan mahasiswa KKN Unhas memberikan pelatihan follow-up untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengoperasikan komputer. Namun mereka juga berharap, akan ada pelatihan lanjutan dari apa yang sudah diberikan sebelumnya.

Semoga ada waktu. (*)

Cerita KKN (6); TNI-Mahasiswa KKN UNHAS Gotong Royong Perbaiki Jalan

Mahasiswa KKN UNHAS berpose bersama Danramil Pangkep usai kerja bakti
Mahasiswa KKN UNHAS berpose bersama Danramil Pangkep usai kerja bakti

Semenjak KKN Gelombang 81 2012, UNHAS menggandeng Kodam VII Wirabuana. Sebagai sebuah program kerjasama, diharapkan antara TNI-Mahasiswa bersinergi untuk melaksanakan program KKN yang direncanakan.

Alhasil, diluar program kerja desa yang direncanakan sendiri oleh Mahasiswa, ada beberapa program kerja yang dilaksanakan bersama dengan prajurit TNI.

Untuk angkatan pertama tahun 2012, khsusus untuk KKN Kecamatan Bungoro, Pangkep, program kerja TNI-mahasiswa KKN adalah memperbaiki jalan penghubung desa tempat saya ber KKN dengan desa tetatngga sebelahnya.

Jadilah pasukan loreng berbaur dengan pasukan merah.

Berikut adalah catatan kecil saya yang dimuat di masding posko, sehari setelah kerja bakti perbaikan jalan dilaksanakan.

***

Maret,Pekan Kedua

Program KKN UNHAS gelombang 81 kerjasama Kodam VII Wirabuana mulai diinisisasi kemarin Minggu (11/03)  di Mangilu. Puluhan  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) gelombang 81 Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar dari berbagai posko se kecamatan Bungoro dan prajurit TNI dari Koramil Bungoro  berbaur bersama warga setempat  memperbaiki jalan penghubung antara Desa Mangilu dan Desa Tabo-tabo.

Dari jajaran pemerintah Desa Manglilu, hadir langsung  Kepala Desa, Abdul Malik M. Sedang dari TNI, Dandim Pangkep, Daramil Bungoro dam Babinsa Mangilu juga hadir memantau jalannya kerja bakti.

Kerja bakti awalnya dijadwalkan mulai pukul 07.30. Namun karena satu dan lain hal, mahasiswa dan warga baru datang sekitar pukul 09.30. Prajurit TNI sendri sudah standby dilokasi sejak pagi. Bahkan menurut informasi dari seorang prajurit, paginya mereka melaksanakan apel di lokasi dan langsung dipimpin Danramil.

Suasana akrab sangat jelas terlihat sepanjang jalannya kerja bakti. Sembari

bekerja, sesekali prajurit TNI bercengkarama hangat   denga mahasiswa.

Memang kerja bakti atau gotong royong perbaikan jalan kemarin, mahasiswa dan prajurit TNI hanyalah sebagai pelengkap untuk tidak dikatakan sebagai penggembira semata. Sebuah aksi formalitas atas program KKN kerjasama yang sudah ditandatangani oleh Rektor UNHAS dan Pangdam VII Wirabuana beberapa waktu lalu di Makassar.

Pasalnya, tak banyak yang dilakukan oleh prajurit TNI dan mahasiswa. Sebuah alat berat (loder) sewaan TNI cukup mengcover formalitas kegiatan perbaikan jalan itu. Prajurit TNI dan mahasiswa hanya melakukan finishing touch, merapikan tanah gemburan yang digali alat berat.

Namun  diluar keformalitasannya kegiatan kemarin, tentu saja ini menjadi petanda baik bagaimana perbedaaan peran itu bisa dipersatukan. Mahasiswa yang selama ini bergelut dengan dinamika akademiknya di kampus dan prajurit TNI dengan segala citra ketegasan dan kedisiplinannya serta pengabdian totalnya pada Negara ternyata bisa menjadi sebuah energy dahsyat dalam menginisiasi sebuah perubahan dalam masyarakat.

Loreng-Merah
Loreng-Merah

Semoga kekompakan kolaborasi loreng-merah ini akan selalu terlihat mesra pada pelaksanaan program kerja sama lainnya yang akan dilaksanakan pada beberapa hari kedepan. Penanaman pohon di terminal baru Pangkep dan pembuatan kolam ikan lele di Sigeri.

Kegiatan kerjabakti kemarin sendiri, selain diikuti oleh mahasiswa UNHAS, prajurit TNI dan warga Mangilu, juga diikuti oleh mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep. (*)

Cerita KKN (5); Alhamdulillah, Bocah-bocah Mangilu Antusias Belajar English dan Mengaji

Mia bersama bocah-bocah TPA-nya. Antusias
Mia bersama bocah-bocah TPA-nya. Antusias

Selain menyusun program kerja untuk warga desa, kami juga membuat program kerja untuk anak sekolah. Di Desa Mangilu memang terdapat beberapa sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk siswa SD, selain mengajar Bahasa Inggris di sekolah mereka, kami juga membuka kelas mengaji sore harinya di posko. Alhasil, saban sore, posko selalu ramai dengan suara bocah-bocah ini mengeja huruf hijjaiyah.

Mia, akhwat ekonomi yang menggawangi program ini menjalankan perannya dengan sangat baik.

***

Pekan Kedua Maret 2012.

Puas dan bahagia. Dua kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan perasaan awak posko KKN Desa Mangilu ketika melihat antusiasme anak-anak SD Mangilu belajar bahasa Inggris dan mengaji. Senin pagi kemarin  (12/03), Farrah yang mendapat job mengajar bahasa Inggris di SDN 32 Sela, satu dari empat SD yang direncanakan untuk diajarkan bahasa Inggris, mendapat sambutan hangat dari siswa kelas IV dan V. Dibantu oleh awak posko yang lain, Farrah bisa memantik semangat bocah-bocah sepuluha tahunan itu untuk bercas-cis-cus ala bule. Mulai dari materi tentang nama bulan, hewan, pohon keluarga, nama-nama buahan, hingga perkelanan diri. Satu setengah jam waktu belajar yang dialokasikanpun ternyata tak cukup untuk menemani adik-adik kecil ini bercakap English.

Mungkin karena sudah memiliki dasar dalam perbendaharaan kosa kata, sehingga sepanjang proses pembelajaran,, mereka bisa dengan mudah memahami materi yang diberikan Farrah. Aura ceria, antusias, dan senang terpancar dari wajah-wajah polos generasi cilik Desa Mangilu ini. Bahkan diluar dugaan, diakhir pelajaran mereka mempersembahkan dance ala boyband untuk awak posko KKN Unhas

Sontak saja Ode, Ale, Mia, Fadel, Farra dan Boe kaget dan surprised. Entah darimana anak-anak ingusan ini belajar dance patah-patah ala boyband. Untuk ukuran anak berusia sepuluh tahun, hafalan lirik lagu dan dance mereka terbilang sempurna. Seandainya diiringi musik benaran, kelas bahasa Inggris kemarin mungkin layaknya kelas audisi boyband. Siswa cowok dan cewek bergantian tampil membawakan lagu-lagu hits boyband dan girlband teranyar lengkap dengan gerakan dancenya.

Sedang sore harinya, Mia yang mendapat giliran mengajar mengaji dan pemahaman keislaman, juga mendapat sambutan yang sama luar biasanya. Sekitar dua puluhan bocah-bocah Sela dan sekitarnya memenuhi ruangan tamu posko KKN Unhas dilantai dua rumah Bapak Kepala Dusun Sela.

Suara gemuruh kor mereka dalam melafalkan huruf-huruf hijjaiyah membuat suasana posko yang pada sore hari sebelumnya hening dan sepi, sore kemarin berubah riuh dan ramai. Mia berhasil memediasi antusiasme mereka dengan pelajaran agama yang tentu saja akan menjadi bekal dan panduan mereka dalam berkehidupan kelak ketika mereka sudah beranjak dewasa.

Sambutan hangat serta antusiasme mereka tentunya menjadi modal bagi awak posko KKN Unhas Mangilu untuk tetap memberikan dan mempersembahkan yang terbaik selama ber-KKN di Desa Mangilu. Semua itu semata pengabdian pada pertiwi yang kita cinta dan untuk masyarakat dan generasi yang merindukan perubahan.(*)

Cerita KKN (4); Seminar Program Kerja Desa

Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep
Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep

Program kerja adalah ruh dari KKN.Mahasiswa yang sedang ber-KKN diharapkan menawarkan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masayrakat tempat dimana KKN dilaksanakan.

Begitupun  dengan saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok KKN Mahasiswa UNHAS gelombang 81, Desa Mangilu 2012.

Setelah melakukan survey selama sepekan setelah tiba di lokasi, saya (Sastra Inggris), Ode (teknik Geologi), Ale (Akuntansi), Mia (Ekonomi), Farra (Hubungan Internasional), Fadel (Administrasi Negara), Vivi (teknik Sipil), dan Purnamasari (perikanan) merampungkan program kerja yang akan dilaksanakan selama dua bulan kami ber-KKN di desa yang bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Kota Makassar ini.

Hal berikutnya yang kami lakukan adalah menentukan hari untuk menggelar seminar program kerja dan menyebarkan undangan ke warga Desa. Saya, Ode, dan Ole berbagi wilayah menyebar undangan. Untuk Kepala Desa, Babinsa, Kepala-kepala Dusun, RT/RW, kepala-kepala sekolah dan tokoh masyarakat.

Akhirnya, pada hari Rabu, 07 Maret 2012, posko kami menggelar seminar Desa. Seminar untuk menyosialisasikan program kerja yang akan kami laksanakan selama tinggal dan berbaur dengan warga desa ini.

***

Maret 2012.

Rabu, 07  Maret 2012, bertempat di Kantor Desa Mangilu, Kec  Bungoro Pangkep, posko Desa Mangilu menggelar seminar desa.  Seminar desa ini bertujuan untuk mensosialiskan program kerja yang akan akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Unhas berkerjasama dengan KODAM VII Wirabuana.

Selain dihadiri Kepala Desa Mangilu, seminar yang molor dua jam dari jadwal itu juga dihadiri oleh Badan Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Babinkamtibmas Bimas Polri Desa Mangilu, Kepala-kepala dusun, perwakilan sekolah SD dan SMP, dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mangilu, Abdul Malik M, mengucapkan selamat datang kepada mahsiswa KKN UNHAS dan berharap agar program-program kerja yang direncanakan menyentuh kebutuhan masyarakat. “Saya hanya mengusulkan dua program untuk mahasiswa KKN Unhas, pembuatan besi petunjuk jalan dan gotong royong membersihkan desa”, kata kepdes.

Babinsa Mangilu, Sersan dua (Serda) Usman yang juga memberikan sambutan mengajak semua elemen masyarakat untuk turut serta menyukseskan program kerja mahasiswa KKN Unhas gelombang 81 Desa Mangilu. “Saya berharap kepada msayarakat untuk turut berpartisipasi dalam setiap kegiatan gotong- royong yang digagas oleh mahasiswa KKN Unhas ini”, harap Pak Babinsa.

Foto bersama Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep usai seminar proker
Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep berpose bersama Ibu desa dan staf usai seminar proker

Pada sesi pemaparan program kerja yang diwakili oleh Koordianator Desa (Kordes) mahsiswa KKN Unhas Desa Mangilu, Muhammad Boeharto,  tidak banyak pertanyaan, kritik serta saran dari warga Mangilu. Hanya satu peserta seminar yang memberikan usulan agar program kerja mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah diperbanyak volumenya. Sedangkan satu perserta lain mempertanyakan bentuk kerjasama mahasiswa KKN Unhas dengan Kodam VII Wirabuana.

Selain mahasiswa KKN UNHAS, kemarin juga digelar Seminar Proggram Kerja Desa dari Mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep yang juga akan berkegiatan di Desa mangilu selama dua bulan kedepan.

Kepala Desa Mangilu berharap, nantinya mahasiswa KKN Unhas dan KKLP STKIP A Matappa Pangkep bisa bekerjasama dan berkolaborasi dalam melaksanakan program kerja yang sama.(*)

Cerita KKN (3); Ketika Posko Mengalami Krisis Air

KKN atau Kuliah Kerja Nyata selalu memiliki kisah romansa tersendiri bagi mahasiswa yang menjalaninya. Ada saja hal-hal baru yang dijumpai selama kuran lebih dua bulan waktu KKN berlangsung. Tentang cinta lokasi antar sesama mahasiswa KKN seposko, lintas posko, cinta antara mahasiswa dengan bunga desa atau sebaliknya; pemuda desa dengan mahasiswi KKN.

Namun, cerita KKN (3) ini  bukan hendak menceritakan tentang topik percintaan yang penuh haru biru. Melainkan cerita tentang hari-hari awal saya dan teman-teman menjalani fase akademik terakhir ini.

***

Mandi, menumpang di sumur tetangga
Mandi, menumpang di sumur tetangga

Maret, 2012. Pekan pertama tiba di lokasi KKN.

Panas yang menyengat beberapa hari setelah kami tiba di lokasi,  berimbas ke posko saya dan teman-teman KKN Unhas gelombang 81, yaitu Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep Sulsel. Selama dua hari Posko mengalami kekurangan air. Bak penampung hujan yang selama ini menjadi andalan untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK) penghuni posko kering kerontang. Bersyukur keberadaan sumur pompa yang terletak disamping rumah sedikit membantu. Setidaknya untuk keperluan buang air. Kapasitas mesin pompa dengan kedalaman sumur dan volume airnya tidak seimbang. Alhasil mesin hanya bisa beroperasi sekitar satu jam tiap hari karena kehabisan air. Cukup untuk mengisi setengah bak mandi.

Sedang untuk mandi warga posko yang laki-laki terpaksa harus menumpang mandi disumur tetangga yang berjarak sekitar 100 meter dari posko.

Keadaan ini menyebabkan segenap warga posko jadi merindukan hujan. Berharap hujan deras turun setiap hari agar ketersediaan atau stok air di bak penampung tetap bisa memenuhi kebutuhan MCK penghuni posko.

Dilematis memang. Satu sisi warga posko merindukan panas agar jalanan tak berlumpur dan kendaraan senantiasa kinclong, namun disisi lain turunnya hujan adalah berkah. Bila hujan turun bahagianya minta ampun. Serasa tak ada kebutuhan yang maha dirindukan selain hujan.

Keadaan seperti ini juga membuat Bapak Dusun, Ayah kami di Posko Desa Mangilu yang kami temapati rumahnya selama KKN, ikut prihatin. Beliau senantiasa mengontorol mesin pompa agar bisa mengalirkan air ke bak kamar mandi.

Menurut Bapak Dusun, sebenarnya sudah ada pipa sambungan air dari sebuah perusahaa marmer  ke setiap rumah warga di Dusun ini. Pengadaan pipa itu merupakan salah satu bentuk Corporate Social Resonsinilty (CSR) dari perusahaan itu. Beberapa waktu lalu ada semacam Memonrandum of Understanding (MoU) tak tertulis antara warga dan pihak perusahaan terkait pengadaan pipa instalasi air itu. Pada awal pengoperasiannya, memang semua bak penampung yang ditempatkan dibeberapa dirumah warga dialiri air deras dengan lancar. Namun semenjak musim hujan turun , air tak lagi mengalir. Penyebabnya karena kebutuhan air di perusahaan terpenuhi melalui bak penampungan air hujan. Sehingga mereka tak perlu lagi menghidupkan mesin dan mengalirkn air ke setiap bak penampung di rumah warga. Hal inilah yang kemudian menyebabkan warga sekitar Dusun Sela mengalami kesulitan air untuk keprluan MCK pada saat-saat tertentu.

Posko KKN UNHAS Gelombang 81 Desa Mangilu sendiri menjadikan masalah air ini sebagai salahsatu program kerja KKN. Melakukan audiensi dengan pihak perusahaan agar air yang pernah mereka janjikan untuk dilairkan ke setiap bak penampungan di rumah warga bukanlah bualan kosong. Sebuah janji yang harus ditepati dan dipertanggungjawabkan. (*)

The Local Workshop of Generation Change 2013

Generation Change Workshop Jogjakarta
Generation Change Workshop Jogjakarta

Indonesia is home to many religions, tribes, and ethnics. Every city of the country tells its own story of diversity. That is the reason why his founding fathers give him a beautiful tagline, Bhineka Tunggal Ika, a Sanskrit  phrase  which means Unity in Diversity.

Like some other parts of the country, Makassar, a capital city of South Sulawesi Province has shaped himself as one of the diverse city in Indonesia in term of background of people living there. Beside Makasarese and Buginese as his two indigenous ethnics, there are also many other tribes contributing to the color of the life of the rapid-growth city. There are Mandarese, Toraja, Flores, Ambon,Papua, and many others.

Living together in a diverse community is sometimes not as easy as seeing a beautiful rainbow. It needs more than respecting the differences and understanding one another.

University students as the agent of change are expected to play their roles in contributing and promoting life in tolerance. As the next leader of the country, they are expected to maintain peace and promote the principle of unity in diversity. Through their creative and innovative ideas, the spirit of tolerance is expected to live in every person’s heart and the spirit of togetherness is spread to many groups of people.

For the students of Makassar, their ideas of promoting the spirit of unity in diversity had been transformed into one collective work which is the spirit of change. Their ideas are connected through a generation change workshop sponsored by the US Embassy Jakarta..

Saturday, April 6th 2013, twenty six students from various backgrounds (religion, ethnics, campus, and mayor) came and joined the first the generation change workshop in the city.  They came with one collective idea, finding ways to promote peace and life in tolerance for Makassar people.

And I myself, as the local facilitator of the workshop, am very happy being part of this workshop and being part of those having a movement plan for better Indonesia and for Bhineka Tunggal Ika.

Generation Change Workshop Pontianak
Generation Change Workshop Pontianak

***

It was the US Embassy of Jakarta who initiated and sponsored the workshop.  In April 2012, the embassy of the US in Indonesia invited thirty students from various cities in Indonesia to join and follow generation change-called training for three days in Jakarta. The thirty students from Aceh to Papua received materials about viral peace and change. The aim of the training was to promote peace and tolerance through the power of social media. The speakers and facilitators were two prominent figures in social movement arena and important figures in optimizing social media for social good.

After the April training, in December 2012 the US Embassy invited again six from the thirty students joining the April training to come and join a three day-train the trainers (ToT) training in Jakarta. Unlike the April training, this December workshop was focusing on training the participants to be trainer of tolerance in their area.

Coming back from ToT training, the six participants were given a project to conduct a tolerance workshop called generation change local workshop and they were expected to be the local facilitator.

Jogja, Pontianak, Lampung, Makassar (me), Aceh, and Papua are the region where the students came from. Each of them has to conduct a workshop based on materials they had received from the training in April and December and the content of the local workshop must be in line with local context of the region.

The US Embassy as the main sponsor of the project give the six students enough time (three months) to prepare and arrange the workshop in their own region. They should select at least 25 participants for the workshop and come from various backgrounds.

Jogjakarta, as the first city conducting the local generation change workshop had a great success in February 2013. Then it was followed by Pontianak in the beginning of March 203 and Lampung in the same month.

Then, Saturday April 6th 2013 is the day of regional Makassar as the fourth city to conduct the local workshop of generation change.

Generation Change Workshop Lampung
Generation Change Workshop Lampung

Makassar Generation Change Workshop ; Social Media for Tolerance amidst Diversity

Just like the three previous cities, the local workshop of generation change Makassar 2013 had a great success. Twenty six participants from thirty selected students from various backgrounds came and attended the one day workshop which took place on the second floor of Library building of Hasanuddin University.

As the facilitator (with a team from US Embassy), we made the workshop into two sessions. The first session (morning) was about tolerance and the second is about social media.

For tolerance session, I was expected to deliver three topics of discussion; Tolerance Challenge in Indonesia, Managing Diversity, and Students and Brawl. For the second session, Mr Shafiq Pontoh (co-founder of @idberkebun, co-initiator of @AyahAsi, and Chief @IDBerkibar) is expected to explain about how to optimize the social media for social good and change.

Before the workshop started at 9 AM, the 26 students were divided into five groups; religion, ethnic, social, culture, and economy. Every group was expected to discuss and figure out any discussion exercise given by the facilitator or speaker during the workshop. At the end of the day, they were expected to come up with an idea of tolerance campaign plan via social media.

To start the workshop, Mr Andrew Vaveiros from the US Consulate general Surabaya as the representative of the US Embassy Jakarta gave a short speech, welcomed the participants, and officially opened the workshop.

Then, as the local facilitator, I took the microphone and started warming up the discussion of the day.

Starting the first session, I addressee a question to participants. “If tolerance were a fruit, what would it be?”

And wow… their answers varied. Someone replied, “it would be a coconut. Because a coconut tree can produce fruits at any time. Just like tolerance that doesn’t recognize time”.

Then another said, “it would be Durian. Durian has many varieties but it is known as one Durian. Just like our life, we are different but united in one entity called Indonesia. Some other replied, Mango, Sour soup, and many others.

Then I asked every group to brainstorm the idea of tolerance challenge in Indonesia based on their group point of view and presented it in front of other groups followed by question and answer session..

For group culture and social, the main tolerance challenges in term of culture in Indonesia are the feeling of primodialism, exclusivism, and the social gap between certain ethnics.

Group religion said, the problem between majority and minority is still the main challenge in term of tolerance.

Group economy explained, the distribution of development become an important issue that must be taken into consideration. So far, the development still focuses on the Java Island.

After Q & A session, I continued to the next topic, managing diversity. For this topic, I ask the participants to arrange a story telling about managing diversity in Indonesia.  The story must have a topic, character which they themselves in group, and an ending. The story must follow the story line; once upon a time (the problem of tolerance), everyday (what really happen), until one day (their action), because of that (effect of their action), because of this (effect of the effect), and since that day (resolution).

I gave them 20 minutes to finish the story and presented in front of the other groups. Every member of the group must tell the story based on his role in the story line. So everyone had a chance to speak. It seemed that every group had a sense of story tellers. They were very good at managing their stories, the tittles, the problems, and the solutions they proposed.

Group social for examples, their story is about making a documenter film about the diversity of Indonesia and the characters of the film would be they themselves.

After the Q & A session, I continued to the next topic again, Youth and Brawls.

To begin the discussion, I played a video about several brawls happened in Makassar. Ranging from students brawls, gengs conflicts, students demonstration, and some other conflicts. Then I asked the group to brainstorm the idea of the topic by 5 W + 1 H.

After 15 minutes, every group came up the own idea. There are a lot of ideas coming up regarding the cause of conflict in Makassar and the image of the city as the dangerous city in Indonesia.

According to them, there are several factors causing anarcism brawls in Makassar such as provocation, absurd solidarity, and unfair media report. To overcome those issues, moral education is needed and a campaign that Makassar is not rude (Makassar tidak kasar).

The topic of youth and brawls was the last topic for tolerance. Now it is the time to go on with Mr Shafiq Pontoh, Social Media.

In this session, the Manado-born activist explained about Social Movement: Social Goods through Social Media. He gave the participants the strategies how to optimize the use of social media for social change.

He told about his experiences in founding and initiating several historical social movements in Indonesia, such as Indonesia Berkebun, Ayah ASI, and Indonesia berkibar. He explained that he also was part of the team of Coin for Prita, an online movement to support Ibu prita against an international hospital in Jakarta in 2010.

There are a lot of ideas of him that must be kept in mind. One important thing that, the change should have a story. Any social change should have story behind it. “We must touch people’s heart, not their logic’’, said he.

After Q and A, I asked the group to start planning an online tolerance campign based on strategies given by Mr Shafiq.

After 30 minutes discussion with their group peers, every group came up with their online campaign plan.

Social media; Save Laontara

Ethnic; Warna Indonesia

Religion; Religion Home

Culture; Tari dan Lagu Sulawesi

Ekonomi: 100 % Sulawesi

After the all groups presented their online campaign plan, Mr Shafiq gave some affirmations. “All of the plans are great and executable. I do hope that each group will execute them for tolerance and for  better Indonesia”, said he.

As the last part of the workshop, Mr Andrew gave closing remarks, thanking to participants for their enthusiast joining the workshop.

He also hopes that all the online campaign will be executed for promoting tolerance amidst the diverse Indonesia.

Generation Change Workshop Makassar
Generation Change Workshop Makassar