Tini Thadeus, Kontroversi dan ‘Ceplas-ceplosnya’ Selama Menjadi Pjs Bupati Mabar

Hari ini, Rabu 17 Februari 2016, Tini Thadeus resmi mengakhiri jabatannya sebagai penjabat Bupati Manggarai Barat (Mabar) menyusul dilantiknya Bupati dan wakil Bupati Manggarai Barat terpilih periode 2015-2020 oleh gubernur NTT di Kupang. Bupati dan wakil Bupati Mabar terpilih, Agustinus Ch Dula-Maria Geong, hari ini diantik oleh Gubernur Frans Lebu Raya bersama dengan delapan Bupati dan wakil bupati terpilih lainnya sedaratan NTT yang memenangi pilkada 9 Desember 2015 lalu.

Melalui akun facebook pribadinya, kemarin Selasa 16/02, Tini Thadeus memohon pamit kepada seluruh masyarakat dan memohon izin untuk kembali kepada tempatnya semula di Kupang.

Selamat pagi, Bpk, Ibu, Kakak, Adek Bersaodara semua yang terhormat. Dari hati Yang Tulus dan Iklas Aku Tini Thadeus,SH Sek ” Mohon Pamit” dan Izinkan aku Balik Kupang utk kembali ke Habitus dan Menjlnkan sisa Pengabdian aku sebagai Abdi Negara dan Abdi Masy….”, demikian tulisan Tini di akun facebooknya yang ketika postingan ini ditulis sudah mendapat 243 ‘like’, 104 komentar, dan 1 ‘share’.

Selain pamit, ia juga memohon maaf  karena selama menjabat sebagai Bupati sementara Mabar tidak banyak yang ia buat. Ia juga minta maaf jika dalam komunikasi sosialnya selama ini ada yang terganggu. Kepada pegawai perpanjangan kontrak dan semua guru komite, ia meminta mereka untuk tersenyum dan mendoakan mereka agar sukses dalam keluarga dan pengabdian.

Kontroversial 

Tini Thadeus hadir sebagai Pjs Bupati Mabar setelah dilantik di Kupang pada 31 Agustus 2015 menyusul berakhirnya masa tugas bupati dan wakil bupati Mabar Agustinus Ch Dula dan Maximus Gasa periode 2010-2015. Tini Thadeus yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT di-SK-kan oleh Mendagri sebagai Pjs Bupati Mabar dan kemudian dilantik oleh Gubernur. Ia datang ke Mabar pada saat musim politik yang panas, jelang pelaksanaan pemilihan Bupati dan wakil bupati baru. Ia datang pada saat beberapa tokoh Mabar bertarung merebutkan kursi yang ia duduki sementara. Banyak pihak yang kemudian berharap bahwa sebagai Pjs Bupati, Tini Thadeus bisa memainkan peran yang ‘netral’ dalam pilkada Mabar. Menjadi penjaga ritme dari kegaduhan politik yang terjadi. Tokoh sentral yang bisa mendamaikan keriuhan pesta demokrasi. Bahwa sebagai seorang pribadi mungkin ia mendukung salah satu pasangan calon Bupati, namun sebagai pejabat publik, Bupati sementara, ia memiliki tanggung jawab agar pesta demokrasi berjalan damai dan lancar. Namun, apa yang kemudian terjadi adalah Tini Thadeus benar-benar berperan sebagai ‘orang gubernur’ yang siap mengamankan kepentingan gubernur dalam pilkada Mabar. Utamanya pasangan calon bupati yang didukung gubernur. Sebuah peran yang ia mainkan dengan penuh kontroversi.

 Selama kurang lebih enam bulan menjadi Pjs Bupati Mabar, banyak pernyataan publik dan ceplas-ceplosnya yang dinilai kontroversial dan tak patut dilakukan oleh seorang pejabat publik seperti dirinya apalagi sebagai seorang Pjs yang mestinya datang untuk menyukseskan dan mengamankan kegiatan Pilkada. Karena itu, ia kerapkali mendapat ‘cercaan’ media dan ‘dibully’ habis-habisan oleh pengguna sosial media.

Beberapa kontroversinya yang kemudian menjadi perbincangan masyarakat dan ‘bulan-bulanan’ media dari sejak pertama ia dilantik diantaranya adalah:

Yang pertama, ketika temu pisah dengan mantan Bupati Agustinus Ch Dula dan Wakil Bupati Maksimus Gasa pada 31 Agustus 2015 lalu. Pada saat itu, ia dan istrinya mengenakan baju serba merah. Banyak pihak yang menilai dan menafsir baju merah itu mengacu pada PDIP. Salahsatu partai pendukung calon Bupati (incumbent) Gusti Dula yang maju kembali pada Pilkada Mabar berpasangan dengan Maria Geong. Namun sebagaimana dilansir Floresa.co,  kala itu Thadeus membuat pernyataan agar undangan tidak salah tafsir atas kostum serba merah yang ia dan istrinya kenakan.

Yang kedua, pada saat memberikan sambutan pada acara pesta nikah di Nggorang, Kecamatan Komodo pada 3 September 2015 lalu. Empat bulan jelang pilkada. Diantara yang hadir ada Fidelis Pranda. Salah satu bakal calon Bupati Mabar kala itu. Pada kesempatan tersebut, mulanya Thadeus mengajak masyarakat agar mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk ikut memilih pemimpin Mabar lima tahun kedepan.Ia juga menyampaikan agar pada 9 Desember memilih pemimpin yang peluang menangnya besar. Meski tidak menyebut nama Paslon, tapi masyakarat bisa menebak siapa sasaran tembak yang dimaksud Thadeus. Pada kesempatan tersebut, Thadeus juga membuat statement yang sedikit tendensius. Menyebut nama Fidelis Pranda tidak akan ada di TPS. Mendengar itu, Pranda hanya tersenyum kecut.

Yang ketiga, ketika ia kembali memberikan sambutan pada resepsi pernikahan yang digelar di Youth Center Labuan Bajo pada Jumat (18/09) malam. Pada acara resepsi nikah itu, mulanya ia menyampaikan beberapa pikirannya soal pernikahan. Namun, kemudian tiba-tiba ia menyerempet ke soal politik. Mengajak semua yang hadir supaya pada tanggal 9 Desember memilih ‘satu’. Ia juga mengatakan, diantara lima, kalau pilih dua, atau tiga, atau empat, itu semua suara rusak. Memilih satu diantara lima. Setelah mengatakan itu, ia lalu menyuruh hadirin untuk menerjemahkan sendiri apa maksud pernyataan dan ajakannya. Beberapa orang yang menghadiri resepsi nikah itupun menunjukkan wajah tak suka terhadap pernyataan Tini. Pada Pilkada Mabar lalu, no ‘satu’ adalah pasangan Gusti-Maria.

Yang keempat, menyebut aktivis penolak privatisasi Pantai Pede tidak rasional. Selama keberadaanya di Manggarai Barat, beberapa kali Tini Thadeus dalam kapasitasnya sebagai Pjs Bupati Mabar (dan orang titipan Lebu Raya?) memfasilitasi pertemuan sosialisasi pembangunan Hotel PT SIM di Pantai Pede antara PT SIM dan elemen masyarakat. Pada beberapa kali sosialisasi dan pertemuan itu, elemen masyarakat penolak privatisasi tetap teguh pada pendirian penolakan. Ia rupanya gerah. Pada Sabtu 10 Oktober 2015, Floresa.co menulis kegerahan Tini Thadeus dengan mengutip pernyataannya yang menganggap aktivis tidak mengkaji baik-baik aturan dan menyebut mereka tidak rasional. Menurutnya, demikian floresa.co, soal Pantai Pede sebagai tempat rekreasi umum yang menjadi salah satu alasan penolakan tidak tepat, mengingat, kata dia, investor tetap akan membuka akses untuk masyarakat berekrasi di Pantai Pede.

Yang kelima, pada hari pencoblosan, Rabu 9 Desember 2015. Beberapa jam setelah pencoblosan, akun facebook Tini Thadeus langsung mengucapkan selamat kepada pasangan Gusti-Maria. Ia mengucapkan proviciat sembari berkata bahwa pasangan Gusti-Maria adalah paket yang berkenan di kerahiman-Nya.

Postingan di facebooknya ini pun segera membuat gerah pengguna media sosial, utamanya tim sukses dan pendukung dari empat paket lainnya. Ucapan selamat Tini dinilai prematur karena hasil perhitungan resmi dari KPUD belum keluar. Pun perhitungan online juga masih sedang berlangung.

Yang keenam, postingannya di facebook terkait perpanjangan tenaga kontrak di lingkup kabupaten Manggarai Barat pada hari Kamis 11 Februari 2016. Pada postingan itu, Tini mengucapkan selamat dan proficiat untuk mereka yang merindukan datangnya SK perpanjangan kontrak. Sembari ia meminta maaf jika ada nama yang tidak ditemukan, karena itu bukan salahnya juga bukan salah mereka (yang tak ada namanya itu). Namun jika nama mereka ada, Tini meminta mereka untuk menyebut namanya tiga kali saat mereka membaca SK-nya.

Sontak, postingannya ini mengundang beragam komentar. Menganggap postingannya tidak etis.

Ancaman Demo dari Mateus Hamsi dan Curhat Tidak Enak Jadi Bupati 
Rupanya, tak hanya masyarakat biasa yang gerah dengan segala kontroversi yang dibuat oleh Tini Thadeus. Mateus Hamsi, salah satu calon Bupati Mabar pada pilkada 2015, rupanya ikutan gerah juga. Sebagaimana diberitakan floresa.co pada 19 September 2015, Hamsi menyampaikan teguran keras kepada  Tini Thadeus karena manuvernya yang dinilai mendukung salah satu pasangan calon. Dalam berita floresa.co, Hamsi mengaku menghubungi langsung Tini Thadeus sembari mengingatkan Tini Tadeus, sebagai Bupati sementara, untuk tidak membawa kekacauan di Manggarai Barat. Samsi juga mengingatkan Tini supaya tidak bermanuver. Ia katakan, jika Tini datang ke Mabar disponsori oleh Lebu Raya, Samsi akan turun demo besar-besaran. Mendemo Tini Thadeus.
Mendapati cercaan dan banyak ‘bully-an’ dari media dan pengguna sosial media terkait gerak geriknya sebagai Pjs Bupati Mabar, rupanya membuat Tini Thadeus sadar bahwa menjadi Bupati sungguh tak enak.
Pada acara sosialisasi pengembangan pengawasan pemilu partisipatif  yang diselenggarakan Bawaslu NTT di Labuan Bajo pada Senin 23 November 2015, Tini Thadeus mencurahkan isi hatinya (curhat). Pada saat memberikan sambutan ia mengatakan menjadi penjabat Bupati itu banyak persoalan. Sampai di dunia maya, namanya dicaci maki. Memang tidak enak jadi bupati.
Ceplas-ceplos di Sosial Media
Sebagai seorang pejabat publik, banyak masyarakat (utamanya pengguna sosial media semisal facebook) berharap bahwa gaya komunikasi Tini Thadeus haruslah berwibawa. Mengeluarkan kata-kata dan pernyataan terukur dengan bahasa yang menunjukkan kelas pejabat. Namun rupanya, Tini Thadeus memang tak ingin menjaga image. Postingan-postingan (status) di facebook pribadinya misalnya selalu menggunakan kata-kata sederhana dengan gaya tulis yang ceplas-ceplos.
Untuk mewakili dirinya, ia menggunakan kata ganti pertama tunggal informal ‘aku’. Terkesan ‘muda’ dan ‘gaul’. Hampir tak pernah dalam status facebooknya menggunakan kata ganti ‘saya’ untuk menunjuk dirinya.
Pun pada postingan facebooknya pada 12 Februari  sebagai respon atas ‘kegaduhan’ publik terkait  postingan facebooknya mengenai perpanjangan SK tenaga kontrak sehari sebelumnya ia menggunakan kata ganti ‘aku’ dan terkesan bukan respon dari seorang pejabat.
Pada postingan itu, ia menulis,
“Selamat pagi Saudaraku yg Pujian dan Marah2 terhdp Status FB aku. Terima kasih semua komennya. Tolong baca baik2 substansi pesannya. Kata kunci dari pesan itu hanya 2 kata yaitu Perpanjangan Kontrak artinya Tidak ada Terima Tenaga Kontrak Baru. Silahkan komen, Bagi aku komen Anda adalah Nutrisi Karya Panggilan aku dan Anda sedang mengamati / memperhatikan aku dari sisi yg Berbeda. Terima Kasih semuanya. Salam penuh kasih dari kami sek. Tabe.. tabe dan tabe”.
 
Atas gaya komunikasi ‘ceplas-ceplosnya’ ini, banyak kalangan yang memberi apresiasi. Bahwa sebagai pejabat publik, Tini Thadeus menampilkan dirinya yang apa adanya. Komunikasinya di sosial media tak memiliki sekat. Namun tak sedikit juga yang gerah dan menyarankannya untuk belajar komunikasi yang baik dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik.
Terlepas dari itu semua, Tini Thadeus, putera Manggarai Barat asli, kelahiran kampung Ru’a, Macang Pacar, 20 Agustus 1959 ini sudah menjadi bagian dari sejarah para pemimpin Manggarai Barat. Jebolan Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana dan mantan aktivis PMKRI, KNPI, dan mahasiswa pecinta alam Undana Kupang ini sudah mewarnai enam bulan dinamika politik-pemerintahan dari Kabupaten paling barat dari Pulau Flores ini. Tentu, untuk hal-hal yang baik akan jadi contoh, untuk hal-hal yang tak baik akan jadi pelajaran juga refleksi. Bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.
Selamat kembali ke Kupang, kraeng Tu’a! Sukses untuk pengabdiannya sebagai abdi negara. Sebagai kepala keluarga dan sebagai hamba Tuhan.
Jika Tuhan berkenan, mungkin Bapak akan kembali memimpin Manggarai Barat di masa mendatang. Who knows?!
Cowangdereng-Labuan Bajo, pertengahan Februari 2016. Tepat di hari pelantikan 9 Bupati dan Wakil Bupati terpilih se-NTT. 17 Februari 2016.