Cerita KKN (8); Warga Belajar Menjadi Citizen Reporter

Ilham, Wartawan Harian Tribun Timur Membawakan Materi Jurnalisme Warga
Ilham, Wartawan Harian Tribun Timur Membawakan Materi Jurnalisme Warga

Hidup di desa selalu memiliki ceritanya sendiri. Diluar kebersahajaannya yang dipuja, terkadang ia bercerita tentang narasi duka yang tak terekspos oleh media. Menyadari hal itu, mahasiswa KKN posko Desa Mangilu menyusun salah satu program kerja yang kiranya bisa memberikan pengetahuan baru bagi warga agar Desa mereka dilihat dunia.

Program kerja yang dimaksud adalah seminar dan workshop tentang Jurnalismen Warga (citizen journalism). Peserta workshop sehari ini adalah para aparat desa, kepala-kepala sekolah, dan tokoh masyarakat.  Sebagai pembicaranya, kami mengundang wartawan harian Tribun Timur Makassar, Ilham S IP.

Alhamdulillah, pada hari pelaksanaannya, banyak warga yang hadir dan tertarik untuk menjadi citizen reporter atau menulis tentang desanya melalui media sosial.

Berikut catatannya yang saya tulis sehari setelah seminar.

***

Jurnalis Politik Koran Tribun Timur Makassar, Ilham S.IP,  berkesempatan hadir dan membawakan materi pada seminar tentang Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) di aula Kantor Desa Mangilu, Kamis (05/04). Seminar ini merupakan salahsatu dari enambelas (16) program kerja yang diagendakan oleh Posko KKN UUNHAS Desa Mangilu. Selain dihadiri oleh beberapa staf Desa Mangilu, seminar jurnalisme warga yang untuk pertama kalinya diadakan oleh mahasiswa KKN di Mangilu ini juga dihadiri oleh perwakilan guru-guru  SD dan SMP se-Mangilu, fasilitator Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mangilu dan beberapa orang warga. Juga Bapak Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Bapak Sersan Dua (Serda) Usman yang hadir dengan mengenakan pakaian loreng.

Pada sambutannya sebelum seminar, sekretaris Desa Mangilu, Mudatsir, mewakili kepala Desa yang berhalangan hadir mengapresiasi usaha dan kreativitas mahasiswa KKN Unhas untuk menggelar seminar jurmalistik warga ini. ”Saya mewakili pemerintah Desa Mangilu mengapresiasi kegiatan yang diadakan oleh adik-adik Mahasiswa KKN UNHAS ini. Ini akan menambah wawasan warga mengenai sesuatu yang tidak mereka ketahui selama ini.” kata pegawai negeri sipil ini.

Peserta dari Guru-guru SD serius mengiktui jalannya workshop
Peserta dari Guru-guru SD serius mengiktui jalannya workshop

Seminar yang berlangsung selama dua jam ini berhasil menarik perhatian peserta. Ilham S.IP.,  wartawan muda rubrik politik harian Tribun Timur Makassar berhasil membius peserta dengan bahasa yang sederhana namun dengan retorika yang memukau. Alumni jurusan Hubungan Internasional UNHAS ini menjelaskan definisi Jurnalisme Warga beserta beserta contoh kasus yang berhasil diliput warga dan menjadi isu nasional. “Bahasa sederhananya Bu Pak, jurnalisme warga itu adalah warga yang menjadi wartawan. Berita yang dilihat,

ditulis, dan dikirim ke media oleh warga. Bapak dan Ibu bisa menulis apa saja dan silahkan kirim ke Media.” Jelas Ilham.

Diujung seminar banyak peserta yang menanyakan langkah praktis dan bagaimana cara menulis berita citizen journalism yang benar. “Intinya ibu pak, kita hanya butuh memfungsikan semua indra kita dan menuliskannya dalam bentuk berita”, tutup Ilham. (*)

Cerita KKN (7); Guru-guru SD Berharap Ada Pelatihan Lanjutan

Ode Memberikan Pelatihan Komputer Dasar Untuk Guru-guru SD
Ode Memberikan Pelatihan Komputer Dasar Untuk Guru-guru SD

Salah satu program kerja yang kami rencanakan selama KKN adalah pelatihan IT untuk guru-guru sekolah dasar se desa Mangilu.

Ode, ITholic yang menggawangi program ini berhasil membuat beberapa ibu-ibu guru SD ketagihan belajar komputer.

Berikut catatannya yang saya tulis sehari setelah pelaksanaan program.

***

Guru-guru sekolah Dasar (SD) se-desa Mangilu masih membutuhkan pelatihan komputer lanjutan. Kemampuan yang mereka miliki saat ini dalam hal mengoperasikan dan menggunakan software komputer (laptop) masih terbilang rendah.  Demikian kesimpulan mahasiswa KKN UNHAS Gel 81 Desa Mangilu setelah berapa hari memberikan pelatihan penggunaan komputer dasar kepada guru-guru SD se-Mangilu. Dari empat SD yang didatangi, rata-rata guru-gurunya masih blank dalam menggunakan dan mengoperasikan menu dan software dasar komputer. Seperti menu-menu dalam program Microsoft Word dan Power Point. Selama ini yang mereka ketahui hanyalah menghidupkan dan mematikan komputer saja. Sedangkan terkait penggunaan dan fungsi menu dalam tiap software dasar yang ada mereka tidak terlalu serius mempelajarinya.

Hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, pelajaran untuk anak-anak SD tidaklah membutuhkan skill presentasi yang rumit. Kedua, komputer, menurut mereka

fungsinya hanya sebatas terkait administrasi sekolah. Sehingga yang wajib tahu segala hal tentang pengetikan dan urusan adminsitasri sekolah hanyalah administrator atau staf administrasi sekolah saja. Sedang untuk guru-guru pengajar, kemampuan mengetik dan menggunakan komputer secara serious tidaklah terlalu penting. Karena jarang diaplikasikan secara praktis dalam kelas atau dalam meningkatkan kecerdasan mengajar dan pengajaran dalam kelas.

Sebenarnya, tiap sekali seminggu, para guru SD ini memiliki peluang belajar komputer gratis. Menurut salah seorang guru yang sempat kami wawancarai, bahwa tiap hari Kamis tiap minggu ada Kelompok Kerja Guru (KKG) yang kegiatannya dipusatkan di Gedung Pelatihan dan Pendidikan PT. Semen Tonasa. Di KKG itu mereka diajarkan penggunaan dan pengoperasian komputer. Namun menurut meraka, kegiatan itu tidak terlalu menunjang peningkatan mereka dalam menggunakan komputer. “Pelatihan hanya

seminggu sekali dan hanya satu setengah jam saja. Bagaimana kami bisa komputer?”, sungut seorang guru di salahsatu SD yang kami datangi.

Tentu mereka menyambut baik kesediaan mahasiswa KKN Unhas memberikan pelatihan follow-up untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengoperasikan komputer. Namun mereka juga berharap, akan ada pelatihan lanjutan dari apa yang sudah diberikan sebelumnya.

Semoga ada waktu. (*)

Cerita KKN (6); TNI-Mahasiswa KKN UNHAS Gotong Royong Perbaiki Jalan

Mahasiswa KKN UNHAS berpose bersama Danramil Pangkep usai kerja bakti
Mahasiswa KKN UNHAS berpose bersama Danramil Pangkep usai kerja bakti

Semenjak KKN Gelombang 81 2012, UNHAS menggandeng Kodam VII Wirabuana. Sebagai sebuah program kerjasama, diharapkan antara TNI-Mahasiswa bersinergi untuk melaksanakan program KKN yang direncanakan.

Alhasil, diluar program kerja desa yang direncanakan sendiri oleh Mahasiswa, ada beberapa program kerja yang dilaksanakan bersama dengan prajurit TNI.

Untuk angkatan pertama tahun 2012, khsusus untuk KKN Kecamatan Bungoro, Pangkep, program kerja TNI-mahasiswa KKN adalah memperbaiki jalan penghubung desa tempat saya ber KKN dengan desa tetatngga sebelahnya.

Jadilah pasukan loreng berbaur dengan pasukan merah.

Berikut adalah catatan kecil saya yang dimuat di masding posko, sehari setelah kerja bakti perbaikan jalan dilaksanakan.

***

Maret,Pekan Kedua

Program KKN UNHAS gelombang 81 kerjasama Kodam VII Wirabuana mulai diinisisasi kemarin Minggu (11/03)  di Mangilu. Puluhan  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) gelombang 81 Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar dari berbagai posko se kecamatan Bungoro dan prajurit TNI dari Koramil Bungoro  berbaur bersama warga setempat  memperbaiki jalan penghubung antara Desa Mangilu dan Desa Tabo-tabo.

Dari jajaran pemerintah Desa Manglilu, hadir langsung  Kepala Desa, Abdul Malik M. Sedang dari TNI, Dandim Pangkep, Daramil Bungoro dam Babinsa Mangilu juga hadir memantau jalannya kerja bakti.

Kerja bakti awalnya dijadwalkan mulai pukul 07.30. Namun karena satu dan lain hal, mahasiswa dan warga baru datang sekitar pukul 09.30. Prajurit TNI sendri sudah standby dilokasi sejak pagi. Bahkan menurut informasi dari seorang prajurit, paginya mereka melaksanakan apel di lokasi dan langsung dipimpin Danramil.

Suasana akrab sangat jelas terlihat sepanjang jalannya kerja bakti. Sembari

bekerja, sesekali prajurit TNI bercengkarama hangat   denga mahasiswa.

Memang kerja bakti atau gotong royong perbaikan jalan kemarin, mahasiswa dan prajurit TNI hanyalah sebagai pelengkap untuk tidak dikatakan sebagai penggembira semata. Sebuah aksi formalitas atas program KKN kerjasama yang sudah ditandatangani oleh Rektor UNHAS dan Pangdam VII Wirabuana beberapa waktu lalu di Makassar.

Pasalnya, tak banyak yang dilakukan oleh prajurit TNI dan mahasiswa. Sebuah alat berat (loder) sewaan TNI cukup mengcover formalitas kegiatan perbaikan jalan itu. Prajurit TNI dan mahasiswa hanya melakukan finishing touch, merapikan tanah gemburan yang digali alat berat.

Namun  diluar keformalitasannya kegiatan kemarin, tentu saja ini menjadi petanda baik bagaimana perbedaaan peran itu bisa dipersatukan. Mahasiswa yang selama ini bergelut dengan dinamika akademiknya di kampus dan prajurit TNI dengan segala citra ketegasan dan kedisiplinannya serta pengabdian totalnya pada Negara ternyata bisa menjadi sebuah energy dahsyat dalam menginisiasi sebuah perubahan dalam masyarakat.

Loreng-Merah
Loreng-Merah

Semoga kekompakan kolaborasi loreng-merah ini akan selalu terlihat mesra pada pelaksanaan program kerja sama lainnya yang akan dilaksanakan pada beberapa hari kedepan. Penanaman pohon di terminal baru Pangkep dan pembuatan kolam ikan lele di Sigeri.

Kegiatan kerjabakti kemarin sendiri, selain diikuti oleh mahasiswa UNHAS, prajurit TNI dan warga Mangilu, juga diikuti oleh mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep. (*)

Cerita KKN (5); Alhamdulillah, Bocah-bocah Mangilu Antusias Belajar English dan Mengaji

Mia bersama bocah-bocah TPA-nya. Antusias
Mia bersama bocah-bocah TPA-nya. Antusias

Selain menyusun program kerja untuk warga desa, kami juga membuat program kerja untuk anak sekolah. Di Desa Mangilu memang terdapat beberapa sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk siswa SD, selain mengajar Bahasa Inggris di sekolah mereka, kami juga membuka kelas mengaji sore harinya di posko. Alhasil, saban sore, posko selalu ramai dengan suara bocah-bocah ini mengeja huruf hijjaiyah.

Mia, akhwat ekonomi yang menggawangi program ini menjalankan perannya dengan sangat baik.

***

Pekan Kedua Maret 2012.

Puas dan bahagia. Dua kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan perasaan awak posko KKN Desa Mangilu ketika melihat antusiasme anak-anak SD Mangilu belajar bahasa Inggris dan mengaji. Senin pagi kemarin  (12/03), Farrah yang mendapat job mengajar bahasa Inggris di SDN 32 Sela, satu dari empat SD yang direncanakan untuk diajarkan bahasa Inggris, mendapat sambutan hangat dari siswa kelas IV dan V. Dibantu oleh awak posko yang lain, Farrah bisa memantik semangat bocah-bocah sepuluha tahunan itu untuk bercas-cis-cus ala bule. Mulai dari materi tentang nama bulan, hewan, pohon keluarga, nama-nama buahan, hingga perkelanan diri. Satu setengah jam waktu belajar yang dialokasikanpun ternyata tak cukup untuk menemani adik-adik kecil ini bercakap English.

Mungkin karena sudah memiliki dasar dalam perbendaharaan kosa kata, sehingga sepanjang proses pembelajaran,, mereka bisa dengan mudah memahami materi yang diberikan Farrah. Aura ceria, antusias, dan senang terpancar dari wajah-wajah polos generasi cilik Desa Mangilu ini. Bahkan diluar dugaan, diakhir pelajaran mereka mempersembahkan dance ala boyband untuk awak posko KKN Unhas

Sontak saja Ode, Ale, Mia, Fadel, Farra dan Boe kaget dan surprised. Entah darimana anak-anak ingusan ini belajar dance patah-patah ala boyband. Untuk ukuran anak berusia sepuluh tahun, hafalan lirik lagu dan dance mereka terbilang sempurna. Seandainya diiringi musik benaran, kelas bahasa Inggris kemarin mungkin layaknya kelas audisi boyband. Siswa cowok dan cewek bergantian tampil membawakan lagu-lagu hits boyband dan girlband teranyar lengkap dengan gerakan dancenya.

Sedang sore harinya, Mia yang mendapat giliran mengajar mengaji dan pemahaman keislaman, juga mendapat sambutan yang sama luar biasanya. Sekitar dua puluhan bocah-bocah Sela dan sekitarnya memenuhi ruangan tamu posko KKN Unhas dilantai dua rumah Bapak Kepala Dusun Sela.

Suara gemuruh kor mereka dalam melafalkan huruf-huruf hijjaiyah membuat suasana posko yang pada sore hari sebelumnya hening dan sepi, sore kemarin berubah riuh dan ramai. Mia berhasil memediasi antusiasme mereka dengan pelajaran agama yang tentu saja akan menjadi bekal dan panduan mereka dalam berkehidupan kelak ketika mereka sudah beranjak dewasa.

Sambutan hangat serta antusiasme mereka tentunya menjadi modal bagi awak posko KKN Unhas Mangilu untuk tetap memberikan dan mempersembahkan yang terbaik selama ber-KKN di Desa Mangilu. Semua itu semata pengabdian pada pertiwi yang kita cinta dan untuk masyarakat dan generasi yang merindukan perubahan.(*)

Cerita KKN (4); Seminar Program Kerja Desa

Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep
Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep

Program kerja adalah ruh dari KKN.Mahasiswa yang sedang ber-KKN diharapkan menawarkan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masayrakat tempat dimana KKN dilaksanakan.

Begitupun  dengan saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok KKN Mahasiswa UNHAS gelombang 81, Desa Mangilu 2012.

Setelah melakukan survey selama sepekan setelah tiba di lokasi, saya (Sastra Inggris), Ode (teknik Geologi), Ale (Akuntansi), Mia (Ekonomi), Farra (Hubungan Internasional), Fadel (Administrasi Negara), Vivi (teknik Sipil), dan Purnamasari (perikanan) merampungkan program kerja yang akan dilaksanakan selama dua bulan kami ber-KKN di desa yang bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Kota Makassar ini.

Hal berikutnya yang kami lakukan adalah menentukan hari untuk menggelar seminar program kerja dan menyebarkan undangan ke warga Desa. Saya, Ode, dan Ole berbagi wilayah menyebar undangan. Untuk Kepala Desa, Babinsa, Kepala-kepala Dusun, RT/RW, kepala-kepala sekolah dan tokoh masyarakat.

Akhirnya, pada hari Rabu, 07 Maret 2012, posko kami menggelar seminar Desa. Seminar untuk menyosialisasikan program kerja yang akan kami laksanakan selama tinggal dan berbaur dengan warga desa ini.

***

Maret 2012.

Rabu, 07  Maret 2012, bertempat di Kantor Desa Mangilu, Kec  Bungoro Pangkep, posko Desa Mangilu menggelar seminar desa.  Seminar desa ini bertujuan untuk mensosialiskan program kerja yang akan akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Unhas berkerjasama dengan KODAM VII Wirabuana.

Selain dihadiri Kepala Desa Mangilu, seminar yang molor dua jam dari jadwal itu juga dihadiri oleh Badan Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Babinkamtibmas Bimas Polri Desa Mangilu, Kepala-kepala dusun, perwakilan sekolah SD dan SMP, dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mangilu, Abdul Malik M, mengucapkan selamat datang kepada mahsiswa KKN UNHAS dan berharap agar program-program kerja yang direncanakan menyentuh kebutuhan masyarakat. “Saya hanya mengusulkan dua program untuk mahasiswa KKN Unhas, pembuatan besi petunjuk jalan dan gotong royong membersihkan desa”, kata kepdes.

Babinsa Mangilu, Sersan dua (Serda) Usman yang juga memberikan sambutan mengajak semua elemen masyarakat untuk turut serta menyukseskan program kerja mahasiswa KKN Unhas gelombang 81 Desa Mangilu. “Saya berharap kepada msayarakat untuk turut berpartisipasi dalam setiap kegiatan gotong- royong yang digagas oleh mahasiswa KKN Unhas ini”, harap Pak Babinsa.

Foto bersama Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep usai seminar proker
Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep berpose bersama Ibu desa dan staf usai seminar proker

Pada sesi pemaparan program kerja yang diwakili oleh Koordianator Desa (Kordes) mahsiswa KKN Unhas Desa Mangilu, Muhammad Boeharto,  tidak banyak pertanyaan, kritik serta saran dari warga Mangilu. Hanya satu peserta seminar yang memberikan usulan agar program kerja mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah diperbanyak volumenya. Sedangkan satu perserta lain mempertanyakan bentuk kerjasama mahasiswa KKN Unhas dengan Kodam VII Wirabuana.

Selain mahasiswa KKN UNHAS, kemarin juga digelar Seminar Proggram Kerja Desa dari Mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep yang juga akan berkegiatan di Desa mangilu selama dua bulan kedepan.

Kepala Desa Mangilu berharap, nantinya mahasiswa KKN Unhas dan KKLP STKIP A Matappa Pangkep bisa bekerjasama dan berkolaborasi dalam melaksanakan program kerja yang sama.(*)

Cerita KKN (3); Ketika Posko Mengalami Krisis Air

KKN atau Kuliah Kerja Nyata selalu memiliki kisah romansa tersendiri bagi mahasiswa yang menjalaninya. Ada saja hal-hal baru yang dijumpai selama kuran lebih dua bulan waktu KKN berlangsung. Tentang cinta lokasi antar sesama mahasiswa KKN seposko, lintas posko, cinta antara mahasiswa dengan bunga desa atau sebaliknya; pemuda desa dengan mahasiswi KKN.

Namun, cerita KKN (3) ini  bukan hendak menceritakan tentang topik percintaan yang penuh haru biru. Melainkan cerita tentang hari-hari awal saya dan teman-teman menjalani fase akademik terakhir ini.

***

Mandi, menumpang di sumur tetangga
Mandi, menumpang di sumur tetangga

Maret, 2012. Pekan pertama tiba di lokasi KKN.

Panas yang menyengat beberapa hari setelah kami tiba di lokasi,  berimbas ke posko saya dan teman-teman KKN Unhas gelombang 81, yaitu Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep Sulsel. Selama dua hari Posko mengalami kekurangan air. Bak penampung hujan yang selama ini menjadi andalan untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK) penghuni posko kering kerontang. Bersyukur keberadaan sumur pompa yang terletak disamping rumah sedikit membantu. Setidaknya untuk keperluan buang air. Kapasitas mesin pompa dengan kedalaman sumur dan volume airnya tidak seimbang. Alhasil mesin hanya bisa beroperasi sekitar satu jam tiap hari karena kehabisan air. Cukup untuk mengisi setengah bak mandi.

Sedang untuk mandi warga posko yang laki-laki terpaksa harus menumpang mandi disumur tetangga yang berjarak sekitar 100 meter dari posko.

Keadaan ini menyebabkan segenap warga posko jadi merindukan hujan. Berharap hujan deras turun setiap hari agar ketersediaan atau stok air di bak penampung tetap bisa memenuhi kebutuhan MCK penghuni posko.

Dilematis memang. Satu sisi warga posko merindukan panas agar jalanan tak berlumpur dan kendaraan senantiasa kinclong, namun disisi lain turunnya hujan adalah berkah. Bila hujan turun bahagianya minta ampun. Serasa tak ada kebutuhan yang maha dirindukan selain hujan.

Keadaan seperti ini juga membuat Bapak Dusun, Ayah kami di Posko Desa Mangilu yang kami temapati rumahnya selama KKN, ikut prihatin. Beliau senantiasa mengontorol mesin pompa agar bisa mengalirkan air ke bak kamar mandi.

Menurut Bapak Dusun, sebenarnya sudah ada pipa sambungan air dari sebuah perusahaa marmer  ke setiap rumah warga di Dusun ini. Pengadaan pipa itu merupakan salah satu bentuk Corporate Social Resonsinilty (CSR) dari perusahaan itu. Beberapa waktu lalu ada semacam Memonrandum of Understanding (MoU) tak tertulis antara warga dan pihak perusahaan terkait pengadaan pipa instalasi air itu. Pada awal pengoperasiannya, memang semua bak penampung yang ditempatkan dibeberapa dirumah warga dialiri air deras dengan lancar. Namun semenjak musim hujan turun , air tak lagi mengalir. Penyebabnya karena kebutuhan air di perusahaan terpenuhi melalui bak penampungan air hujan. Sehingga mereka tak perlu lagi menghidupkan mesin dan mengalirkn air ke setiap bak penampung di rumah warga. Hal inilah yang kemudian menyebabkan warga sekitar Dusun Sela mengalami kesulitan air untuk keprluan MCK pada saat-saat tertentu.

Posko KKN UNHAS Gelombang 81 Desa Mangilu sendiri menjadikan masalah air ini sebagai salahsatu program kerja KKN. Melakukan audiensi dengan pihak perusahaan agar air yang pernah mereka janjikan untuk dilairkan ke setiap bak penampungan di rumah warga bukanlah bualan kosong. Sebuah janji yang harus ditepati dan dipertanggungjawabkan. (*)

Cerita KKN (2): Belajar Leadership Skill dari Kepala Desa dan Babinsa Mangilu

Kepala Desa Mangilu, Bapak Abdul Malik M membawakan sambutan pada seminar program kerja. Turut hadir, Pak Riski (Bimas Polri), Pak Usman, dan Kordes Mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep.

Jika pada tulisan sebelumnya saya bercerita mengenai program kerja dan dinamika selama kami ber-KKN di Desa Mangilu, tulisan ini akan bercerita tentang dua sosok ‘decision maker’ dalam struktur pemerintahan Desa tempat kami melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa waktu lalu itu.

Yang pertama adalah sosok orang pertama di Desa Mangilu. Bapak Kepala Desa, Abdul Malik M.

Pertemuan pertama saya dengan Pak Malik, begitu ia dikenal, adalah di ruang pola kantor Bupati Pangkep pada acara penyambutan oleh pejabat Kabupaten pada hari pertama kedatangan kami. Tak banyak yang saya bisa baca pada pertemuan pertama siang itu. Dari auranya, tampak jika ia seorang pendiam. Sebuah gambaran wajah yang niscaya dimiliki oleh kebanyakan pemimpin untuk menjaga wibawa. Ia menjawab pertanyaan kami seadanya. Tak ada penjelasan panjang lebar. Saya yang sebelumnya mendambakan kepala desa yan ramah (agar urusan KKN juga lancar), mulai membuang asa dan mengatur strategi untuk bernegosiasi dengan keadaan tersulit selama KKN. Bagaimanapun, kepala Desa tentu saja menjadi bagian terpenting dari suksesnya KKN mahasiswa. Ketidakharmonisan hubungan komunikasi dengannya akan berakibat fatal dan bisa jadi cerita indah tentang KKN hanya berupa dongeng yang tak pernah jadi nyata.

Namun sebagai seorang yang beragama, saya membuang jauh segala prasangka. Never judge a book by its cover. Begitu kata pepatah. Mungkin saja tampak luarnya begitu, namun sebenarnya ia memiliki sifat titisan malaikat. Siapa tahu?

Saya pun meyerahkan pada waktu, akan kemungkian terungkapnya sisi lain dari kepala desa ini.

Kesempatan saya untuk menyibak lebih jauh sisi lain sosok mantan satpam perusahaan marmer ini terbuka lebar kala teman-teman menunjuk saya sebagai kordes (Koordinator desa). Dengan status itu, memungkinkan saya untuk nantinya banyak berkoordinasi dengan orang nomor satu di desa penghasil marmer ini (terdapat lebih dari sepuluh perusahaan marmer ada di desa ini).

koordinasi pertama saya dengannya, ketika kami berencana menggelar seminar atau soisialisai program kerja setelah seminggu kami survey dan merancang program kerja. Dua hari sebelum pelaksanaan seminar, saya dan teman menemuinya di kantor desa untuk menandatangai undangan seminar desa. Disinilah sisi lain dari kepala desa ‘pendiam’ ini mulai tersibak. Ternyata ia seorang yang suka membicarakan banyak hal. Terutama menyangkut warga dan kondisi desanya. Tentang kesejahteraan, ketimpangan ekonomi, hingga pendidikan. Acara tanda tangan hari itu pun berakhir sempurna. Sebuah pertanda baik. Modal untuk beberapa pekan kedepannya.

Pada pelaksanaan seminar proker dua hari berikutnya, ada peryantaannya yang menggembirakan saya kala ia membawakan sambutan. “Kalau ada masalah mari kita bicarakan bersama. Jika ada keperluan, entah itu tanda tangan, ataupun sekedar koordinasi, hubungi saja HP saya. Insya Allah saya akan selalu siap memudahkan urusan adek-adek”, jelasnya.

Dan ternyata memang filosofi ‘memudahkan’ ini benar-benar menjadi gaya kepemimpinannya. Tiap kali bersua dan berdiskusi ringan di kala kami bertandang ke kantor desa untuk sebuah keperluan, ia selalu menyampaikan filosofi motto kehidupannya itu. “Saya akan selalu memudahkan urusan orang dek. Kalau kita memudahkan urusan orang, Insya Allah,  Allah akan memudahkan urusan kita”, tambahnya.

Bapak ini benar-benar bukan penganut paham birokrasi “jika masih bisa dipersulit,kenapa dimudahkan?” yang kini menjangkit kebanyakan birokrat di negeri ini. Dia mengusung sebuah paham pemerintahan denga mengacu pada common sense manusia. “Kalau bisa dimudahkan, kenapa dipersulit?”.

Karena sudah mengetahui leadership stylenya, saya dan teman-temanpun  tak sungkan untuk menghubungi beliau jika ada hal yang perlu dikoordinasikan. Terutama terkait pelaksanaan program kerja.

Karena koordinasi yang dinamis antara kami dan ayah tiga anak ini, sehingga semua program kerja yang direncanakan selesai dilaksanakan hingga hari terakhir KKN.

Pikiran saya diawal kedatangan mengenai dirinya benar-benar mentah.

Dalam sambutan pada malam perpisahan, ia memberikan apresiasi atas sumbangsih sederhana kami selama dua bulan untuk perubahan desanya. Juga meminta maaf jika pelayanannya kurang maksimal.

“Terimaksih adik-adik, atas kontribusi kalian selama ini. Saya mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan bagi adik-adik selama berada di desa ini ”, ucapnya.

Saya yang juga membawakan sambutan mewakili teman-teman pada malam itu tentu saja mengucapkan banyak  terimakasih atas pelayananan dan keramahan warga desa menyambut kami. Kami juga meminta maaf, jika pelaksanaan program kerja belum maksimal dan tidak sesuai ekspetasi masyarakat desa Mangilu.

“Ucapan trimakasih kami kepada Bapak Kepala Desa atas keramahan pelayanannya, dan mohon maaf sebesar-besarnya jika program kerja kami tidak maksimal dan menggembirakan warga desa Mangilu. Trimakasih, dan doakan kami agar menjadi bagian dari perubahan bangsa ini kedepan. Amin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh”, kata-kata saya mengakhiri sambutan malam perpisahan dihadapan puluhan warga desa Mangilu.

***

Satu sosok lain yang menjadi bagian penting dari kesuksesan KKN kami di desa Mangilu adalah Bapak Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Sersan Dua (sersan) Usman.

Sebagaimana uraian pada tulisan saya sebelumnya bahwa KKN Unhas gelombang 81 merupakan KKN kerjasama Unhas dengan Kodam VII Wirabuana, maka koordinasi saya sebagai kordes dengan pihak TNI tingkat desa pun adalah dengan Babinsa. Sedangkat koordinator kecamatan (korcam) berkoordinasi dengan Danramil.  Koordinasi yang dimaksud adalah terkait beberapa program kerjasama tingkat kecamatan dan pelaksanaan program kerja fisik tingkat desa/kelurahan.

Untuk program kerja kecamatan, Babinsa berkoordinasi dengan Danramil (yang berkoordinasi dengan korcam kami) kemudian diinstruksikan dengan saya.

Berbanding terbalik dengan kesan saya kala bertemu pertama kali dengan kepala desa, kesan saya ketika bertemu pertama kali dengan Serda Usman samasekali jauh dari imej sangar prajurit TNI. Wajahnya selalu nampak senyum. Bahkan seorang teman saya menjulukinya ‘Narji’. Anggota comedian grup Jagur. Memang wajah sersan dua ini sedikit mirip dengan pelawak temannya Wendy Cs itu (bukan saya yang bilang Pak 😀 ). Saya terlanjur ‘akrab’ dengan prajurit yang pernah ditugaskan di Aceh dan Timor Leste ini semenjak pertemuan pertama ketika ia berkunjung ke posko untuk mengenalkan diri pada hari kedua kami berada di Desa Mangilu.

Pada pertemuan itu, kami membicarakan rencana program kerjasama Unhas-TNI tingkat kecamatan serta alur koordinasinya, dan rencana program kerja fisik tingkat desa.

Karena sudah ‘love at the first sight’, sehingga memudahkan saya untuk berkoordinasi dengan tentara yang tinggal di asrama Koramil Bungoro Pangkep ini.

Ngobrol ringan usai kerja bakti membersihkan jalan desa bersama ketua PNPM Desa Mangilu.

Sebagai seorang TNI dengan citra disiplin dan totalitasnya dalam membela Negara, jalur koordinasi merupakan senjata sakral baginya. Sehinga tak heran saban sore ia meminta laporan kegiatan dari desa kami untuk kemudian ia teruskan ke Danramil-Dandim- hingga Pangdam.

Tiap kali berkunjung ke posko, diakhir perbincangan ia selalu mengucapkan kalimat, “kita koordinasikan mami nanti di’ ke saya. Seolah menjadi untaian doa penutup majlis.

Saya pun tiap kali ada kerja bakti di desa yang melibatlkan warga, saya selalu mengiirim sms atau menghubunginya. Dan ia membuktikan totalitas koordinasi dengan selalu hadir tiap kerja bakti itu. Bagi saya dan teman-teman, kehadirannya bersama loreng hijaunya tiap kerja bakti merupakan sebuah penghargaan (walau KKN kerjasama). Warga pun berbondong-bondong juga untuk ikut serta berpartsipasi dalam kegiatan kerja bakti.

Begitu juga dalam pelaksanaan kegiatan sosial Unhas-TNI tingkat kecamatan yakni sunatan massal. Ia sendiri yang mencari anak-anak usia SD yang belum disunat untuk diiktukan pada kegiatan sunatan missal Unhas-TNI yang pelaksanaanya akan dipantau rector dan Pangdam VII Wirabuana itu. Saya hanya mengusulkan satu orang anak. Itu pun cucunya pak Dusun tempat kami tinggal.

Karena sersan sederhana ini, saya menjadi mengerti arti sebuah garis koordinasi (komando), kerapihan dan keraturan mengeksekusi rencana kerja, dan arti sebuah ketepatan waktu (disiplin).

Diluar hubungna koordinasi itu, saya dan teman-teman kadang terlibat sharing ringan dan penuh keakraban dengan ayah anak tiga ini setiap ia berkunjung ke posko.

Dalam sambutannya pada malam perpisahan, tak banyak yang ia bicarakan selain harapannya agar kerjasama Unhas-TNI ini akan berlanjut pada KKN gelombangb berikutnya.
“Terimakasih sudah bekerjsama. Semoga KKN kerjasama Unhas-Kodam VII Wirabuana akan berlanjut terus pada KKN gelombang berikutnya”, harapnya.

Foto bersama pada malam perpisahan. Ketua BPD, Babinsa, Kepdes dan nyonya, dan Kepala Dusun.

Siap Komandan!

Cerita KKN: Tentang Kebersamaan dan Belajar Bermasyarakat

Membawakan Sambutan dan Memaparkan Rencana Program Kerja KKN dihadapan Warga Desa Mangilu

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah sebuah fase akademik yang meniscayakan Mahasiswa yang ingin selesai kuliah untuk mengikutinya.  Hampir semua perguruan tinggi (PT) di Indoensia baik swasta maupun negeri  memiliki fase akademik ini untuk setiap mahasiswanya. Walau ada yang menamainya secara berbeda. Seperti PPL, KPPLP, PKL, dan sebagainya. Namun satu kemiripan dari semuanya adalah hidup dan berbaur dengan masyarakat desa/ kelurahan dimana KKN itu dilaksanakan.

Begitupun dengan kampus tempat saya menimba ilmu, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. 1 Maret lalu, UNHAS mengirim sekitar 400-an mahasiswanya untuk ber-KKN di dua Kabupaten di Sulsel, Maros dan Pangkep selama kuranglebih dua Bulan (1 Maret- 27 April). Saya yang tahun sebelumnya gagal ikut (padahal sudah mendaftar dan ditempatkan di Bulukumba) karena menemani tamu asing sebuah perusahaan Kakao di Makassar melakukan penelitian di Luwu, akhirnya bisa bergabung dengan rombongan mahasiswa KKN Unhas Gelombang 81 tahun ini.

Bersama tujuh orang teman lain (empat cewek, tiga cowok) dari tujuh jurusan yang berbeda saya ditempatkan di Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Sekitar 1,5 jam dari Kota Makassar dengan sepeda Motor.

Di Desa penghasil marmer ini kami tinggal di rumah Kepala Dusun Sela, satu dari tiga Dusun yang ada di Desa Mangilu.

Pada hari pertama tiba di Mangilu, tak banyak yang kami kerjakan. Karena berangkat dari fakultas dan jurusan yang berbeda, hari pertama kami habiskan dengan saling mengenalkan diri sekaligus memilih kepala suku J. Saya dari Sastra Inggris, Ode anak Teknik Geologi, Ale dari Akuntasi, Fadel dari Administrasi Negara, Farra cewek Hubungan Internasional, Mia akhwat Ilmu Ekonomi, Purnama cewek Perikanan, dan Vivi anak Teknik Sipil berembuk menentukan arah mahligai KKN selama dua bulan kedepan.

Atas kesepakatan teman-teman, saya diamanahkan sebagai Koordinator Desa (Kordes) yang nantinya bertugas mengatur dan berkoordinasi dengan pihak terkait (Kepala Desa, Korcam, Supervisor, dll) untuk kesuksesan KKN. Selain memilih Kordes dan perangkat desa yang lain, hari itu juga kami berembuk dengan tuan rumah. Terutama mengenai masalah konsumsi selama dua bulan kami ber-KKN di desa ini. Masalah konsumsi ini harus diputuskan sebijak mungkin. Jika tidak bijak, bisa-bisa dua bulan KKN akan menjadi masa-masa suram nan runyam karena ongkos hidup yang diluar dugaan mahalnya. Semuanya untuk kenyamanan kita sebagai mahasiswa KKN dan tuan rumah yang akan kita tinggali rumahnya.

Oleh tuan rumah (Bapak Dusun), kami diberikan kebebasan untuk mengurus konsumsi sendiri. Memasak dan sebagainya. Karena rumah panggung, kami diberikan tempat di lantai dua. Tersedia dua kamar untuk perempuan, dapur beserta perlengkapan memasak. Sedangkan kami yang laki-laki share ruangan tamu sebagai tempat tidur yang juga nantinya digunakan sebagai tempat makan, maen game, komputer, rapat, dsb. Belakangan kami ketahui bahwa dinamika setiap posko KKN mengenai pengaturan konsumsi ini berbeda-beda. Ada yang memasak sendiri seperti kami namun ada juga dimasakkan oleh tuan rumah. Tergantung tuan rumahnya ingin dibayar berapa.

Mia dan Purnama MemberikanPelatihan Pembuatan Bakso Ikan Kepada Ibu-ibu Desa

Hari kedua sampai ketujuh kami melakukan survey, silaturahim ke Kantor Desa, sekolah-sekolah SD-SMP, rumah kepala Dusun, RT, Bidan Desa dan rumah-rumah warga. Mengenalkan diri sekaligus sharing informasi mengenai gambaran kehidupan Desa. Silaturahim ini juga bertujuan untuk mendapatkan informasi awal yang nantinya digunakan dalam penyusunan rencana kerja KKN sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Pada malam hari keenam, kamipun berembug mengenai rencana program kerja yang akan dipresentasikan pada Seminar Program Kerja di Kantor Desa pada dua hari berikutnya. Hasilnya, untuk program keahlian dan keilmuan individu, Saya akan mengajar Bahasa Inggris di SMP yang ada di Desa itu, memberikan kursus Bahasa Inggris (Conversation) untuk pemuda Desa yang kebanyakan berprofesi sebagai karyawan di beberapa perusahaan Marmer yang ada di Desa itu, dan juga mengadakan seminar mengenai Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) untuk warga. Ode akan melaksanakan pelatihan pemaanfaatan limbah marmer untuk warga dan juga memberikan pelatihan IT (Komputer Dasar) untuk guru-guru SD dan SMP. Ale akan mengadakan sosialisasi gemar menabung dengan memanfaatkan Celengan Bambu untuk siswa SD. Mia dan Purnama akan memberikan pelatihan UKM untuk Ibu-ibu desa. Memberikan pelatihan mengenai pembuatan Bakso Ikan. Selain itu Mia juga memberikan pengajaran mengaji dan keislaman untuk anak-anak SD setiap sore di Posko. Farra mengajar Bahasa Inggris di SD. Dan Vivi membuat plat besi petunjuk jalan. Sedangkan untuk program kerja tambahan, Lomba Cerdas Cermat antar SD dan pertandingan olahraga antar dusun masuk dalam daftar. Semua proker ini diluar program kerja kecamatan dan program  kerjasama dengan Fakultas Kedokteran UNHAS dan Perhimpunan Dokter Mata Indonesia yaitu mendata status gizi balita dan penderita katarak.

Ode Memberikan Pelatihan Komputer Untuk Guru-guru SD

Program kerja kami kemudian bertambah lagi setelah pada Seminar Program Kerja Desa, Bapak Kepala Desa memberikan usulan dua proker tambahan, yakni kerja bakti dan pembuatan besi plat penunuj jalan. Sedangkan dari warga masyarakat hanya memberikan usulan dan masukan mengenai masalah teknis terkait program kerja yang telah kami susun.

Memang untuk urusan proker ini, ketika masa pembekalan sebelum berangkat ke lokasi beberapa minggu sebelumnya, supervisor kami sudah mewanti-wanti agar sebisa mungkin menghindari program kerja fisik. Selain akan memakan biaya juga akan memberatkan mahasiswa KKN. Buatlah program kerja yang kira-kira masyarakat butuhkan dan upayakan menitikberatkan pada perubahan pola pikir masyarat.

Setelah pelaksanaan seminar Desa sebagai ajang perkenalan diri dan sosialisasi program kerja dihadapan warga masyarakat, kami mulai mengeksekusi pelaksanaannya.

Selama kurun waktu satu setengah bulan, belasan proker itu kami eksekusi satu persatu. Disinilah peran kebersamaan diantara teman-teman mengambil peran. Tentu saja ada riakan-riakan yang jika tidak bijak menyikapinya, akan berimbas pada kebersamaan dan suasana posko. Namun karena masing-masing memiliki itikad baik untuk belajar bermasyarakat, akhirnya kami bisa menyelesaikan proker itu secara sempurna dua hari sebelum penarikan.

Foto Bersama Bapak Babinsa dan Kepala Desa dan Nyonya