Zanel Beta, A Clay Painter From Makassar

Zaenal Beta is finishing his painting at his studio in Fort Rotterdam, Makassar
On a bright afternoon, a man with long beard was seriously staring at his painting that he had just drawn. Then he looked at the painting and with a cut of bamboo (blade of split bamboo, traditionally used to cut umbilical chord) on his right hand as a brush, he continued fixing it. A minute later, a picture of a beautiful-brown Phinisi boat was ready to be adored.
Who was the man? What medium did he use to paint? What makes him different from ordinary painters? Why did the late Affandi, an Indonesian painting maestro dubbed him as an inventor? What did he invent?
He is Zaenal Beta. A celebrated clay painter from Makassar. For painting lovers in Indonesia, his name might be as familiar as shop opera actors for ordinary people or K-pop boyband singers for teenagers. In the world of Indonesian art particularly painting, Zaenal is really well-known. He is one of ‘the cultural heritages’ of Indonesia. As the only clay painter exist, Zaenal’s paintings are hunted by painting-collector not only from Indonesia but also from Europe, US, and many other countries.

“My clay paintings were adored by foreigners” , said the Makassar-born painter.

Of course, his popularity in clay painting arena is not a night-made success. He has undergone a long process and went through a long journey in shapping what he is today.

It was in 1980s, all the story began. When he joined Bachtiar Hafid’s Sanggar Ujung Pandang (Ujung Pandang Art Studio), a celebrated Art Studio at the time, he was elected by Dewan Kesenian Makassar (Makassar Art Council) to represent South Sulawesi in national painting exhibition in Jakarta.
Unfortunately, by the day he went to Jakarta, the canvas that he would use as his painting exhibition fell in muddy road.
“ It was in February, the exhibition was in April. I only had two months left. Pak Baktiar said that the painting that would be on the exhibition must be newest one. I was so frustated”, the father of four said.
But something unique happened when I came home with the muddy canvas. He tried to clean up the mud from the canvas. But after his palm swept the canvas, he saw a lot of pictures on the canvas. House, tree, animal, boat, and many more.

“Then I started realizing that this is that I ‘m seeking for so far, and this is that I’m going to do”, said he.
Days after that, he tried to use clay and draw painting from it.
April 1986, there was an event in Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Here, he met one of the Indonesian painters, Affandi.
Seing his masterpiece, Affandi called Zaenal and said, “ My next generation is born” to Zaenal.
Not knowing what Affandi’s sentence meant, Zaenal just nodded.
“I was just happy to meet my idol in painting at time. I got spec less”, explained Zaenal, whose real name is Arifin.
Then Affandi continued his sentence, “Zaenal, you have invented something in painting history”.
Getting acknowledged by a legend, made Zaenal started to realize that he had found something. Something that he would be proud of as a painter.

Zaenal Beta and one of his clay paintings in his mini studio in Fort Rotterdam Makassar

Coming back to Makassar, he tried to focused on what had made Affandi proud of him. He realized that clay painting is his life and passion.
In order to make his painting perfect, he started collecting clay from different regencies in South Sulawesi.
“Each regency has its own texture of land and clay, and including colour”, Zaenal said.
He traveled to Pare-pare, Toraja, Sidrap, and other regency in seeking the ideal clay he wanted in his painting.
All his struggles have paid off, his paintings are appreciated. In 2000, his paintings started to beautify the wall of hotels and offices in Makassar. He has also joined some art and painting exhibitions across Indonesia and overseas. Winning some art and painting competitions in national and international level.
Now, outside of painting in his mini studio in Fort Rotterdam Makassar, he is also sharing his knowledge to those who wanted to be painter. In 2010, he established Indonesian Schetser Makassar, a club that he believes as an embryo for the birth of the next great painters of the country.
A little contribution for his beloved nation. A motherland that he loves much.

Menulislah, Provoke Yourself!

Ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa, jika engkau ingin umurmu lebih panjang dari usiamu maka menulislah. Sekilas kalimat ini tak lebih dari sebuah kalimat motivasi bahwa menjadi penulis itu akan selalu dikenang, melalui karya tulisannya yang dibaca banyak orang.
Namun jika dimaknai lebih dalam, sesungguhnya adagium diatas adalah sebuah adagium provokatif (dalam pengertian positif) agar mulai mengambil pena, dan menulis apapun itu. Toh, untuk mencapai jarak sekian ribu mil, selalu dimulai dari langkah pertama. Diawal menulis, buang jauh-jauh tentang kulaitas. Nanti akan terbentuk seiring seringnya menulis dan menulis dan menulis. Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi! Begitu kira-kira.

Stephen King pernah mengatakan “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

Sehubungan dengan dunia tulis-menulis ini, 15 Oktober 2011 lalu, saya mengikuti kegiatan ONN OFF. sebuah kegiatan mengenai kepenulisan dan sosial media. Disponsori oleh Konsulat General Amerika Surabaya dan Makassar Coin A Chance (MCAC). Tempatnya di gedung American Corner (Amcor) Universitas Hasanuddin, lantai II gedung perpustakaan pusat UNHAS. Sebenarnya kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan. Tahun sebelumnya (2010) namanya Pesta Blogger. Tahun 2011 diganti menjadi ON OFF. Namun karena berhubung saya agak sedikti ‘kuper’ mengenai pergaulan dunia maya, saya baru mengenal kegiatan ini tahun lalu. Ya, pas ON OFF itu.

Materi inti dari kegiatan ini adalah seminar yang dibawakan oleh praktisi dunia maya (para bloggers, dan semazhabnya). Berbagi pengetahuan mengenai ‘the power of virtual world’ dan bagaimana kekuatannya itu dimanfaatkan untuk sebuah perubahan dalam masyarakat (social movement).
Untuk ON OFF 2011, ada dua pemateri inti. Ms. Aulia Halimatussaidah (seorang onlinepreneur, penulis, designer, dan bloger aktif) dan Ms. Yuli Tanyadjie (seorang urbanis, arsitek, dan tentu saja juga seorang penulis).

Mba Aulia membawakan materi. The power of social Media.

Ms. Aulia yang membawakan materi pada sesi pertama banyak memberikan penjelasan mengenai kekuatan media sosial (dunia maya) sebagai sumber inspirasi tulisan. Pemilik situs (blog) http://www.salsabeela.com ini , juga sharing mengenai tips menulis yang baik. Satu hal yang ditekankan oleh hijaber ini adalah mengenai kekuatan research sebelum menulis. Dia memberikan contoh penulisan novelnya tentang paris (saya lupa judul novelnya). Kita akan terkejut ketika kita mengetahui bahwa penulisnya sama sekali belum berkunjung ke kota mode itu. Deskripsi lika-liku kotanya benar-benar nyata. “Sebelum menulis novel itu, saya harus search tentang segala sesuatu mengenai Paris. Kalau perlu sampai mengetahui lorong-lorongnya”, jelas penulis yang sudah menelorkan beberapa novel ini.
Namun tentu saja, jangan pikir kata research ini sebagai suatu momok. Buat proses research itu se-fun mungkin. Research should be fun.

Tentang inspirasi tulisan,menurutnya banyak media sebagai sumber inspirasi. “Status di FB atau tweet teman di twiter pun bisa menjadi sumber inspirasi”, tambahnya.
Selain itu, kalau ingin menjadi penuli’beneran’, tentu saja harus mempunyai tekat baja.
Think big-Start small-act now!
***

Peserta bersama panitia ON OFF 2011 usai seminar.

Sedangkan Ms. Yuli yang memberikan materi pada sesi kedua, lebih banyak memprovokasi dan memberikan tips kepada peserta untuk mulai ‘action’ untuk sebuah perubahan sosial.

Yang pertama “Provoke yourself”. Harus punya inisiatif untuk memprovokasi diri untuk melakukan sesuatu yang baik. “Think seriously fun!”. Yang kedua, think out of the box, Excute inside the box! Tentang tips kedua ini, Ibu yang kini menjabat sebagai kepala sekolah Akademi Berbagi Makassar ini membeberi contoh bagaimana gerakan sosial di beberapa Negara diawali oleh ‘ide yang out of the box’. Di sebuah Negara di Eropa, ada eskalator yang tangga-tangganya jika diinjak akan berbunyi sesuai urutan tangga nada dalam musik. Juga tentang gerakan Indonesia Berkebun di Indonesia, Coin A Chance, dan beberapa gerakan lain di beberapa Negara dan kota. Yang ketiga dalah Open Minded-Break Bounderies. Bagi kita orang Indonesia, kita terkadanag terhalang oleh adat istiadat yang melekat dan sudah mengakar. Melanggarnya dianggap sebuah dosa budaya. Biskah kita berpikir terbuka dan menyikapi kemajuan zaman dengan bijak?

Yang keempat yang merupakan provokasi terakhir terkait inisiasi sebuah perubahan adalah COLABOARATE! Jangan pernah ragu untuk bekerjasama. Sebagai makhluk sosial dan manusia yang memiliki keterbatasan, kita dituntuk untuk membuka diri terhadap kemampuan orang lain. Bahwa masing-masing kita memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Lets colaboraet them!

Yang paling terkahir adalah sosialisaikan gerakan itu melalui tulisan dan manfaatkan kekuatan dunia maya dan jejaring sosial. BUKTIKAN SAJA!
Maka menulislah, provoke yourself to be a writer!

Foto bersama Konjen Amerika Surabaya, Mba Aulia (berjilbab), dan Mba Yuli (kanan). Bersama teman sekelompok meraih gelar ‘the best idea’ untuk kategori ‘ide out of box”. Menjaga keindahan Anjungan Losari Makassar dengan konsep Losari Berseri. (Saya, Afdal, wawan, Sapri, dan Ina).

Festival Penulis Internasional Makassar (MIWF) 2012: Ajang Bersua Penulis/Penyair Hebat

Festival Penulis Internasional Makassar 13-17 Juni 2012. Kesempatan bersua dengan penulis dan penyair hebat dunia. (foto;courtesy Rumata).

Setelah sukses dengan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2011 lalu, tahun ini Rumah Budaya Rumata’ akan kembali menggelar Makassar International Writers Festival (MIWF) untuk kedua kalinya. Rencananya festival sastra yang digagas oleh sutradara film Riri Reza dan penulis Lily Yulianti Farid ini akan menghadirkan penulis dan penyair lokal dan internasional i dan akan berlangsung selama empat hari, 13-17 Juni 2012. Festival ini dirancang dalam format yang akrab dengan diskusi, tur penulis, dan debat interaktif yang melibatkan warga.

Dikutip dari siaran persnya di http://chmbrs.tumblr.com/, festival ini bertujuan untuk memperkenalkan Makassar sebagai kota dunia yang menjadi tuan rumah berbagai kegiatan internasional, termasuk festival penulis yang mendatangkan para penulis dari berbagai negara, serta menumbuhkan minat baca serta apresiasi terhadap sastra karya tulis lainnya. Sebanyak 9 penulis mancanegara dan 15 penulis dari Makassar serta daerah lain di Indonesia akan berkumpul, berdiskusi, mengadakan pembacaan karya dan mengunjungi beberapa tempat di dan di sekitar Makassar untuk mengenal lebih jauh kota dan masyarakat Makassar.

Jika tema festival tahun lalu adalah ‘ Celebrate the world of Words (merayakan dunia kata-kata)’, maka tema MIWF tahun ini adalah Visiting the Memories (Menjenguk Kenangan) yang menitikberatkan persilangan antara sejarah, sastra dan ciri khas arsitektur sebuah kota, yang menandai masa tertentu. Pembacaan karya dirancang di berbagai gedung dan bangunan bersejarah yang tersisa di sejumlah lokasi, serta dialog antara-daerah dan antar-negara yang menjadikan Makassar sebagai titik pentingnya.
Bentuk kegiatan: Lokakarya/diskusi di beberapa kampus di Makassar, pembacaan karya, writers exchange program, cultural trip dan Program-program komunitas. Main venuenya di benteng Fort Rotterdam Makkassar.

Penulis internasional yang akan hadir dalam MIWF 2012 adalah Xu Xi, penulis keturunan Indonesia yang membagi dirinya diantara New York, Hong Kong dan Selandia Baru. Salah satu novelnya yang memperoleh penghargaan bergensi adalah Habit of a Foreign Sky (masuk nominasi Man Asia Literary Prize pada tahun 2007). Jennifer MacKenzie, penyair kelahiran Melbourne ini menciptakan hubungan sangat khusus dengan Indonesia melalui kumpulan puisi Borobudur. Kent MacCarter, Penyair asal Amerika Serikat menerbitkan kumpulan puisi In The Hungy Middle of Here (Transit Lounge), Omar Musa keturunan Malaysia-Australia adalah penyair dan rapper yang memenangi beberapa penghargaan diantaranya The Australia Poetry Slam (2008). Kelly Lee-Hickey penyair terkemuka Australia yang memenangi National Australia Poetry Slam 2010. Uthaya Sankar adalah penulis kontemporer asal Malaysia yang telah menerbitkan 12 buku dalam bahasa Melayu. Ng Yi Sheng adalah penulis termuda yang berhasil memenangi Singapore Literature Prize. Bernice Chauly adalah seorang penulis Malaysia, penyair, aktor, fotografer dan pembuat film. Elizabeth Pisani adalah ahli epidemiologi dari London yang terkenal karena karyanya tentang HIV / AIDS, khususnya untuk buku kontroversialnya berjudul “Wisdom of Whores:Bureaucrats, Brothels and the Business of AIDS.

Festival penulis tahun lalu. Inisiasi untuk melek literasi. (foto courtesy Rumata)

Akan hadir pula penulis nasional yakni Ahmad Tohari, sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Ahmad Fuadi adalah penulis novel “Negeri 5 Menara” yang memperkenalkan mantra Man Jadda Wajada. Mochtar Pabottingi, seorang penulis terutama puisi. Salah satu karya beliau yang terkenal adalah antologi puisi Tonggak 3 (1987).

Jika pada festival tahun lalu, taglinennya adalah ‘tribute to almarhum Mohammad Salim’, seorang yang telah membawa kemajuan bagi pengetahuan kebudayaan Sulawesi Selatan melalui naskah I La Galigo, maka tahun ini, Rumata’ ingin mengangkat figur almarhum Prof. Mattulada. Seorang tokoh panutan bagi masyarakat Sulawesi Selatan, seorang antropolog Indonesia yang disegani. Karya-karyanya merupakan referensi wajib bagi yang ingin meneliti tentang kebudayaan Sulawesi Selatan, sebagaimana Claire Holt dan Koentjaningrat untuk Indonesia, Denys Lombard untuk Jawa atau Anthony Rheid dan Matthes untuk Celebes. Selain itu, beliau juga adalah salah seorang inisiator berdirinya Universitas Hasanuddin, perguruan tinggi pertama di Indonesia timur.
Jika Anda tidakmemiliki kegiatan penting pada tanggal 13-17 Juni, mengikuti festival ini akan menjadi pengsisi waktu yang akan memberikan ilmu baru.

Referensi tulisan:
makassarwritersfestival.com
chmbrs.tumblr.com