Inspirasi Coin A Chance, Akademi Berbagi, Indonesia Berkebun, dan Nonadita

Dalam sebuah kegiatan yang dihelat oleh Kedutaan Besar Amerika beberapa waktu lalu di Hotel Sahid Jakarta, saya berkesempatan bertemu dan berdialog dengan beberapa pelopor gerakan sosial (Social Movement) di Indonesia. Gerakan sosial yang mereka pelopori setidaknya mampu membawa perubahan pada pola pikir masyarakat dalam berkehidupan di Negara yang majemuk dengan seribu satu persoalanya ini.
Di malam terakhir kegiatan, mereka sharing dan berbagi pengalaman dengan peserta training mengenai lika-liku gerakan yang menjadi ternd-setter social movement di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Berikut sedikit ulasan mengenai mereka dan ‘amal jahiriyah’ mereka untuk bangsa.

Nia Sadjarwo ; Coin A Chance
Cerita berdirinya Coin A Chance (CAC) ini merupakan bukti bagaimana jalinan sahabat dan jiwa optimis bisa membawa perubahan yang ditulis oleh tinta sejarah perkembangan sebuah bangsa.
Malam itu Ibu berparas ayu ini berbagi cerita.

Dilatarbelakangi oleh kepeduliannya bersama sahabat sekampusnya, Hanny Kusumawati, terhadap dunia pendidikan dan anak-anak yang hampir putus sekolah serta kebiasaan mereka yang suka mengoleksi (menyimpan) koin dalam sebuah wadah akhirnya mereka sepakat untuk menyimpan ‘koin’ di wadah yang lebih besar.

Pada tanggal 18 Desember 2008, sebuah situs resmi Coin A Chance (http://coinachance.wordpress.com) pun diluncurkan. Dan atas bantuan dari dagdigdug.com,sebuah penyedia hosting lokal, kini mereka pindah rumah ke http://coinchance.com/. Dalam perjalanannya, gerakan sosial virtual ini banyak mengundang decak kagum. Selama dua tahun keberadaanya, CAC sudah mengumpulkan lebih dari empat puluh juta rupiah.
Dengan tagline ‘drop, collect, send those kids back to school’, CAC sudah membantu beberapa orang anak putus sekolah untuk melanjutkan ikhtiar mereka menggapai mimpi. Dari jenjang TK hingga SMA.

Atas usaha dan pencapaiannya itu, CAC banyak mendapat penghargaan dari beberapa institusi. Model gerakan CAC juga telah diadopsi di beberapa kota besar yang disebut CAC network. Hingga kini, jumlah anggotanya di FB grup sudah mencapai 6. 700-an lebih. Cckckck…luar biasa!

Bersama Mba Nia Sadjarwo dan Mba Anggia CAC. Koin Untuk Kehidupan.

Ainun Chomsun: Pendiri Akademi Berbagi
Sebelumnya, saya memang sudah mendengar mengenai ‘sekolah gratis’ yang didirikan oleh Ibu Ainun ini. Beberapa kali mendapat email undangan dari kantor Bakti Makassar (sebuah lembaga bursa informasi kawasan Indonesia Timur di Makassar) untuk join beberapa kelas berbagi mengenai beberapa bidang ilmu. Namun karena waktu itu masih berada di lokasi KKN, sehingga beberapa undangan itu tak sempat dihadiri.
Namun tak dinyana, bersua jua dengan pendirinya.

Berawal di Jakarta, Akademi Berbagi ‘buka cabang’ di kota-kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, bahkan kota-kota di luar Jawa. Kelas di kota-kota selain Jakarta dilangsungkan dengan konsep Akademi, yakni memfasilitasi pertemuan antara khalayak dengan ahli atau praktisi di daerah bersangkutan. “Di suatu daerah pasti ada orang hebatnya,” kata Ainun Chomsun

Beragam tema menjadi bahasan kelas Akademi seperti manajemen sosial media, manajemen krisis untuk public relation, juga investasi antara lain. Untuk membuat lebih marak lagi, agenda akademi ke depan adalah membangun jaringan dan membangun website yang lebih komprehensif. Pegiat Akademi juga intensif mendorong komunitas-komunitas kepedulian di kota-kota lain untuk mengembangkan kegiatan berbagi ilmu dan pengembangan diri.
Sejauh ini, AK telah memiliki cabang dibeberapa kota di Indonesia yang dipimpin seorang kepala sekolah.

Bersama Ibu Ainun. Berbagi Itu Indah.

Indonesia Berkebun
Gerakan sosial inspiratif yang ikut berbagi kisah malam itu adalah Indonesia Berkebun. Malam itu, Mas Sgafiq Pontoh, salahseorang pelopornya berbagi kisah. Tentang konsep urban farming yang memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka.
Sejauh ini juga, gerakan ini sudah memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia.

Nonadita
Anda mengenalnya?
Entah karena saya yang kurang informasi, saya baru mengenal Cewek mungil ini di acara GC & VP training. Bahkan pada saat makan malam sebelum acara, saya semeja dan sharing ringan dengan dia. Ketika itu saya hanya mengenalnya sebagai ‘Nonadita’.

Namun menjelang sesi berbagi, saya terhenyak kala MC yang malam itu dirangkap oleh Mba Nia CAC, mengenalkan siapa Nonadita.
Dia seorang blogger berprestasi dan atas keaktifannya ngeblog, dia meraih penghargaan Microsoft Bloggership Award 2009 dan diundang ke AS. Gadis berkacamata ini banyak berbagi mengenai kepenulisan, ngeblog, tips-tips menulis, dsb. Untuk kenal dekat dengan dia, baca saja blognya nonadita.com. Inspiratif.
Cool dah pokone…!

Bersama Nona ‘blogger’ Dita. Cantik, Cerdas, dan Mendunia.

Itulah semua para inspirator yang telah berbuat untuk bangsa ini. Kapan giliran kita?
Semoga.

Viral Peace and Generation Change Training US Embassy Jakarta

Dialog Dengan Wakil Dubes Amerika, Mr. Theodore G Osius.

Pada tanggal 26-29 April 2012 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Jakarta. Terpilih dan diundang oleh Kedutaan Besar Amerika Jakarta (US Embassy) untuk mengikuti training dengan tajuk Generation Change (GC) Training. Sebenarnya undangan untuk mengikuti pelatihan ini merupakan ‘hadiah hiburan’ setelah gagal berkelana ke Amerika melalui beasiswa SUSI (The Study of US Institute) On Religious Pluralism :D.

Sebagaimana diketahui, jika Anda seorang scholarship hunter, setiap tahun Amerika menawarkan beragam jenis beasiswa baik berupa short-training di Amerika maupun beasiswa untuk melanjutkan study S2 (postgraduate) lewat Fullbright. Nah untuk mahasiswa undergraduate ada beberepa beasiswa yang ditawarkan. Dari IIEF ada IELSP dan UGRAD (jika Anda belum kenal dengan jenis beasiswa ini, search saja di Google 😀 ). Sedangkan SUSI on Religious Pluralism sendiri merupakan program yang didanai oleh pemerintah Amerika untuk undergraduate students leaders yang bertujuan pada peningkatan pemahaman toleransi beragama diantara sesama dan meningkatkan skill leadership mereka. Selain SUSI, ada juga program yang fokusnya untuk mereka yang peduli lingkungan (environmental issues) dan New Social Media. Ketiga program ini plus IELSP dan UGRAD, seleksinya tiap tahun.

Jika IELSP dan UGRAD proses seleksinya dengan mengirimkan dokumen (hard copy) ke Jakarta serta menyaratkan skor minimum TOEFL, namun SUSI, New Social Media, dan Environmental Issues proses seleksinya hanya menulis Essay dan mengirimkannya via email. Syarat kemampuan Bahasa Inggris pun bukan dengan sertitfikat TOEFL namun dengan frasa ‘’Have Strong English Language Skill” di daftar persyaratannya .

Kembali ke Generation Change training, ternyata sesampai di Jakarta , kami yang diundang seluruhnya berjumlah 30 orang mahasiswa dari kampus negeri/swasta dari Aceh-Papua. 15 orang yang akan mengikuti training mengenai Generation Change dan 15 orang untuk Social Media dengan tajuk training ‘Viral Peace’ (VP). Namun dua mahasiswa lainnya berhalangan hadir.

Fasilitator utama untuk training GC adalah Mr. Wajahat Ali. Seorang blogger, penulis, dan aktivis dari San Francisco Bay Area, sedangkan untuk VP adalah Madam Khumera Khan. Executive Director of Muflehun, penulis, yang juga peraih empat title akademik dari Universitas bergengsi dunia Massachutess Institue of Technolog (MIT) USA. Sebelum di Indonesia, event Gen Change ini juga diselenggarakan di Filipina.

Selama dua hari pelatihan, ada materi yang didesain terpisah. GC dan VP. Namun ada beberapa materi juga yang digabung. Diantara materi yang dijelaskan adalah mengenai leadership community, religious tolerance, project management, social media advances and best strategis, dan tips-tips untuk menjadi sukses!

Dihari pertama pelatihan, Wakil Duta Besa Amerika untuk Indonesia, Ted Osius, menyempatkan hadir dan berdialog dengan peserta training. Peserta training menanyakan mengenai Demokrasi, keputusan Amerika atas pendudukan beberapa Negara Timur-tengah, dan beberapa masalah politik dan interanasional lainya. Sharing dan dialog dengan orang kedua Amerika di Indonesia ini diakhiri foto bersama.

Pada malam terakhir pelatihan, sebuah keberkahan bertemu dengan beberapa penggerak perubahan sosial (social movement) di republik ini. Nia Sadjarwo (inisiator Coin A Chance), Ibu Ainun Chomsun (pendiri Akademi Berbagi), Shafiq Pontoh (Indonesia Berkebun), dan Nonadita (Mahasiswi IPB peraih penghargaan Microsoft Bloggership Award 2009). Mereka masing-masing menjelaskan kisah perintaan mereka dengan media dan jejaring sosial dalam memelopori sebuah perubahan. (Mengenai siapa mereka dan gerakan yang mereka pelopori, baca di tulisan berkutnya ye 😀 ).

Peserta Generation Change dan Viral Peace Training

Visiting Toraja : A Dream Comes True

Bersama Courtney di Kete-kesu. Mahasiswi pasca Duke University USA dan juga seorang peneliti Kakao.

Tanah Toraja. Siapa yang tak pernah mendengar nama salahsatu Kabupaten di Sulawesi Selatan ini? Saya sendiri, memori saya tentang Tanah Toraja mulai terekam ketika saya  masih duduk di kelas V SD melalui pelajaran IPS. Gambar Rumah Tongkonan yang ada dalam buku pelajaran IPS ketika itu benar-benar memberikan sebuah imajinasi akan keinginan mengunjungi tempat itu kelak ketika besar nanti. Walau sebagai anak kampung yang dibesarkan di pulau nun jauh dari Tanah Toraja (pedalaman NTT) belum terlalu mengerti arti dari kekayaan budaya. Yang saya kagumi ketika itu adalah bentuk rumah Tongkonan yang unik.

Beberapa tahun kemudian, khayalan dan imajinasi abstrak saya ketika masih SD itu ternyata dikabulkan Tuhan. Sebagai anak rantau yang sudah meninggalkan kampung halaman selepas tamat SD memungkinkan saya untuk menginjakkan kaki di Tanah Toraja.

Tiba di Makassar pada pertengahan 2004 setelah empat tahun sebelumnya berkelana di Bima (NTB), membuat jarak saya dengan Tanah Toraja semakin dekat. Namun bukan perkara mudah bagi anak rantau yang masih sekolah untuk begitu saja berkelana ke Tanah Toraja yang jaraknya dari Kota Makassar sekitar 350 KM dengan waktu tempuh antara 7-9 jam.

Namun kesempatan emas itu benar-benar datang. Pertengahan tahun 2010, ketika saya sudah kuliah semester empat di jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, kesempatan berkunjung dan melihat Tanah Toraja dan segala kekayaan budaya yang dimilikinya benar-benar menghampiri saya.

Saya mendapat kesempatan untuk menjadi interpreter dan menemani tamu asing dari sebuah perusahaan Kakao ternama di Makassar. Bersama seorang teman dari Jurusan Ilmu Ekonomi UNHAS, saya menemani empat orang tamu asing dari US, Kanada, dan Meksiko untuk melakukan serangkaian penelitian mengenai Kakao di wilayah kabupaten Luwu (Kabupaten ini merupakan penghasil Kakao terbesar di Sulsel).

Diatas Kakao yang baru dipanen di pedalaman Luwu

Sentral kegiatan kami adalah di wilayah Palopo. Selama tingga Minggu bolak-balik Palopo- Kabupaten Luwu untuk melakukan serangkaian interview dengan petani Kakao.

Setelah data penelitian dirasa cukup, empat tamu asing kami menanyakan kemungkinan jalan-jalan ke Toraja sekaligus refreshing mengkahiri penelitian mereka. Gayung pun bersambut. Saya yang memang sedari kecil mengimpikan jalan-jalan ke Tanah Toraja seolah mendapat durian runtuh. Jalan-jalan ke Tanah Toraja GRATIS! Thanks God..hehe. Teman dari Ekonomi juga setuju. Deal. Toraja, I’m coming.

Antara Palopo-Toraja. Jeda sejenak menikmati kabut

Tepat tiga hari sebelum pulang ke Makassar, kami pun benar-benar mengeksplorasi salahsatu warisan dunia UNESCO 2004 ini (Inscription World Heritage- C1038).

Setelah check-in di Toraja Heritage Hotel (THH) di Kete-kesu, sore harinya empat tamu asing kami tak sabar untuk memulai petualangan budaya menelusuri situs-situs budaya Toraja yang mistis. Oleh seorang guide lokal, kami dibawa ke beberapa tempat perkuburan orang Toraja. Londa, Lemo, Kete-kesu, dan beberapa tempat yang lain. Apakah Anda juga sudah pernah berkunjung kesana? Kalau belum, hayoook…segeralah! 😀

You see these bones?. Disalahsatu gua kuburan di Toraja.
Depan Kuburan ‘segar’. Lemo Toraja.
Stone Grave. Lemo.