Assessing SYL-IAS’ Political Rivalry in 2013 South-Sulawesi Gubernatorial Election

New Spirit, Command!
SYL and IA in one occasion in Makassar

The schedule of South Sulawesi regional head election is still few months ahead. But political atmosphere among candidates has raised tension in local mass media. For the past few months, the topic of Gubernatorial election has been under their spotlight. Two main media in Makassar, Fajar and Tribun Timur, always put the news as their headlines.

So far, two kings of politics for South Sulawesi region have stated their readiness to compete in upcoming regional election. Syahrul Yasin Limpo (SYL) and Ilham Arief Sirajuddin (IAS). SYL is the current governor of South Sulawesi and IAS is the current mayor of Makassar municipality. SYL is regional chairman of Golkar Party, the biggest party in the country, and IAS is the regional chairman of Democrat Party, the ruling party in the country, also the regional head of mass organization-turned politics, Surya Paloh’s Nasional Democrat (Nasdem).

It is obviously too premature to predict who will win the game. Since politics is not mathematics, It is difficult to assess who is more superior than others. These two prominent figures have the same chances and opportunities to be the next king of South Sulawesi. It is up to South Sulawesi citizens’ political choices to vote for either a new governor or an old ‘Komandan’.

Based on analysis expressed by some political experts in some media in Makassar, there are some aspects that we can draw to assess the political power of each candidate.

• Political Position and popularity; It is undeniable that political position is always in line with popularity. In my opinion, both SYL and IAS have the same power in term of this criteria.

• Incumbent factor; SYL’s position as an incumbent (the current Governor) has a significant role in leading him to be superior. According to Syarief Hidayat, a researcher of Indonesian Institute of Science (LIPI), an incumbent always has big chance to win an election. It is because of his large network and relation to prominent businessmen that will back-up his campaign in the next election. (Fajar, 01/02). But remember, IAS also, as a mayor of one of the biggest cities in Indonesia, precisely has a larger network as SYL.

• Running mate choices ; the figure of the second person as running mate in election is very crucial. For this criteria, IAS is a step ahead against SYL. The popularity of Aziz Qahar Muzakar (AQM) has been celebrated. AQM is the current member of Regional Representative Council (DPD) representing South Sulawesi in Senayan Jakarta. He is well-known for having loyal-fanatic- grass root supporters. For this reason, IAS is in advantageous position to beat SYL. On the other hand, SYL is still confused in choosing who is the best person to accompany him as his deputy in upcoming election. Few names are raised, including M Roem (the chairman of DPRD Sul-Sel), Rudyaanto Assapa (the regional chairman of Gerindra Sul-Sel) and Ashabul Kahfi (the regional chairman of PAN) but none is chosen. Seeing this condition, SYL is in dilemma.

However, there are many other things that we can consider to compare the power of these two figures including their tribes, Makasarese and Bugenese. But one thing in politics, it is a grey area. It can’t be calculated as it is. Whom you will vote for, let your conscience answer it.
***

Peluang Berkiprah di Organisasi Internasional

Para Pembicara dari Organisasi PBB Indonesia

Bertempat di Hotel Grand Clarion Makassar, pada Selasa (8/11) lalu, Direktorat Jenderal Multilateral Kementrian Luar Negeri RI mengadakan seminar mengenai peluang bekerja pada organisasi internasional. Seminar ini menghadirkan beberapa organisasi sayap Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) seperti United Nation Development Program (UNDP),  Asian Development Bank (ADB), dan UNICEF. Seminar dibuka oleh Sekretaris Dirjen Multilateral Kemenlu RI, Dominikus Supraptito.

Dalam sambutannya diawal seminar, Dominikus mengatakan bahwa  sejauh ini putra-putri Indoneisa belum memanfaatkan lowongan dan kesempatan untuk berkiprah di organisasi PBB dengan baik. Padahal katanya, dengan berkiprah di organisasi level internasional setidaknya kita memilki posisi dan peran strategis untuk menyuarakan kepentingan Indonesia di level dunia. Pun kalau ada, lanjut Dominikus, jumlahnya masih sangat sedikit dan belum ada yang menduduki posisi decision maker yang bisa menenggelamkan dominasi Negara maju. “Padahal Negara kita harus membayar untuk menjadi anggota dari organisasi internasional itu. Dari 216 organisai internasional yang Indonesia gabung, setiap tahun ada sekitar 250 miliar anggaran Negara dialokasikan untuk itu”, kata Domi. Lebih jauh ia mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara dengan penduduk sekitar 240 juta jiwa dikalahkan oleh Negara-negara dari daratan Afrika yang berhasil menempatkan putra-putri terbaik mereka menduduki jabatan strategis diberbagai organisasi level dunia itu. “Sebagai contoh, UNDP Indonesia itu dipimpin oleh orang Maroko. Padahal Maroko hanya berpenduduk sekitar 70 juta jiwa. Kalah jauh dari kita.  Bangladesh juga yang tingkat ekonominya jauh dibawah kita namun bisa mengirimkan putra terbaiknya untuk jabatan bergengsi di organisasi PBB”, tandasnya.

Menanggapi sedikitnya anak Indonesia yang berkiprah di organisasi internasional, Ayu Sundari, Senior External Relation Officer ADB Jakarta yang berbicara pada sesi pertama mengatakan bahwa kultur kita sebagai orang Indonesia memberikan cukup pengaruh terhadap cara pergaulan kita. “Budaya kita, diam itu emas. Sedari kecil kita diajarkan untuk tidak banyak berbicara,memberikan pendapat, dan sebaginya. Sehingga ketika kita besar, kita sangat susah untuk berargumen, mengeluarkan pendapat. Ini berbeda dengan budaya barat yang lebih terbuka”, kata Ibu cantik ini. Ia melanjutkan bahwa tentu beberapa kondisi dan syarat yang diajukan oleh organisasi iternasional juga membuat anak-anak Indonesia tidak tertarik berkiprah dan meretas karir di organisasi itu. “Seperti di ADB misalnya. Syarat-syaratnya mungkin agak berat terutama untuk kaum perempuan dan cinta keluarga. Di ADB, kita menguatamakan lulusan S2 dengan usia maksimal 32 tahun, lulusan S1 diutamakan yang berpengalaman minimal 6 tahun dibidangnya dan tidak menerima freshgraduate, lihai berkomunikasi dan lancar berbahasa Inggris plus minimal satu bahasa resmi PBB lainnya seperti Perancis, dan siap jalan-jalan”, jelasnya. Ia melanjutkan, “Mungkin terlihat berat dan susah memang. Tapi sebenarnya tidak susah-susah amat kok. Karena yang akan diperoleh juga lumayan. Kerja dikit tapi gaji gede, memilki pengalaman hidup mendunia (world-life balance), dan yang paling penting bisa melakukan sesuatu untuk Negara (kalau menjabat posisi decision maker)”, tambahnya.

Hal senada juga diutarakan perwakilan UNDP Indonesia yang berbicara pada sesi kedua. Memang syarat-syaratnya terlihat gampang-gampang susah, namun keengganan kita untuk keluar dari zona kenyamananlah yang membuat kita semakin tidak tertarik untuk bergabung dan menjadi bagian dari UN family. “Di UNDP kita memilki 5 principles of recruitment. Yaitu competitive, fairness, obejectivity, transparency, dan accountability”, jelasnya. Sedangkan untuk syarat yang lebih spesifik, hampir sama dengan ADB dan organisasi PBB yang lain. Tingkat pendidikan dan pengalaman dibidang yang relevan tentu akan menjadi pertimbangan uatama.”Tapi di UNDP, kita tidak mengenal gaji pensiun. Jadi sepintarnya kita mengelola pemasukan selama masih aktif untuk kepentingan hari tua”, tambahnya.

Begitupula pada UNICEF yang bergelut dibidang anak-anak yang pada seminar itu diwakili oleh Kepala Kantor Perwakilan UNICEF untuk Sulsel dan Maluku, Purwakarta Iskandar. Syaratnya semua hampir sama. Namun selain lowongan untuk menjadi pegawai tetap, UNICEF juga membuka peluang bagi mahasiswa yang masih aktif kuliah untuk magang dan bekerja sebagai volunteer atau UNICEF internship.

Untuk selengkapnya mengenai informasi ketiga organisasi PBB diatas bisa langsung menengok situs mereka. UNDP di www.undp.or.id, www.adb.org untuk ADB, dan www.unicef.org untuk UNICEF. Selain beberapa situs diatas bisa juga mengakses situs berikut untuk informasi magang dan sejenisnya.

www.onlinevolunteering.org, www.unv.org/how-to-volunteer.html., www.unv.orgwww.undp.or.id/internship., www.undp.org/ohr/interns/intern.htm, atau untuk mengetahui lowongan internship untuk UNICEF bisa menhirim surat elektronik ke internship@unicef.org. Jika Anda tertarik untuk bergabung dan berkiprah di salahsatu organisasi internasional diatas, pastikan Anda berpengalaman di bidangnya, dan memilki kemampuan bahasa Inggris plus satu bahasa asing lainnya. Selamat berkiprah untuk dunia.   

***