Kumenunggu Kedatanganmu Sekali Lagi

Sayap-sayap pesawat basah. Terbang bersama butiran hujan. Pada landasan pacu yang ditinggal, menunggulah pertanyaan akan kapan lagi kembali. Lalu perjumpaan, kita rayakan sekali lagi.

Waktu memang pelari yang egois. Berlari sedemikian cepat dan tak peduli pada perjumpaan yang pendek. Walau seringkali, sebab itu pula, perjumpaan mesti dirayakan dengan manis.

Pergilah hujan, jauhlah awan.

Lalu di ujung kemarau, aku menunggu kedatanganmu sekali lagi.

Labuan Bajo, 29/09

Tini Thadeus, Kontroversi dan ‘Ceplas-ceplosnya’ Selama Menjadi Pjs Bupati Mabar

Hari ini, Rabu 17 Februari 2016, Tini Thadeus resmi mengakhiri jabatannya sebagai penjabat Bupati Manggarai Barat (Mabar) menyusul dilantiknya Bupati dan wakil Bupati Manggarai Barat terpilih periode 2015-2020 oleh gubernur NTT di Kupang. Bupati dan wakil Bupati Mabar terpilih, Agustinus Ch Dula-Maria Geong, hari ini diantik oleh Gubernur Frans Lebu Raya bersama dengan delapan Bupati dan wakil bupati terpilih lainnya sedaratan NTT yang memenangi pilkada 9 Desember 2015 lalu.

Melalui akun facebook pribadinya, kemarin Selasa 16/02, Tini Thadeus memohon pamit kepada seluruh masyarakat dan memohon izin untuk kembali kepada tempatnya semula di Kupang.

Selamat pagi, Bpk, Ibu, Kakak, Adek Bersaodara semua yang terhormat. Dari hati Yang Tulus dan Iklas Aku Tini Thadeus,SH Sek ” Mohon Pamit” dan Izinkan aku Balik Kupang utk kembali ke Habitus dan Menjlnkan sisa Pengabdian aku sebagai Abdi Negara dan Abdi Masy….”, demikian tulisan Tini di akun facebooknya yang ketika postingan ini ditulis sudah mendapat 243 ‘like’, 104 komentar, dan 1 ‘share’.

Selain pamit, ia juga memohon maaf  karena selama menjabat sebagai Bupati sementara Mabar tidak banyak yang ia buat. Ia juga minta maaf jika dalam komunikasi sosialnya selama ini ada yang terganggu. Kepada pegawai perpanjangan kontrak dan semua guru komite, ia meminta mereka untuk tersenyum dan mendoakan mereka agar sukses dalam keluarga dan pengabdian.

Kontroversial 

Tini Thadeus hadir sebagai Pjs Bupati Mabar setelah dilantik di Kupang pada 31 Agustus 2015 menyusul berakhirnya masa tugas bupati dan wakil bupati Mabar Agustinus Ch Dula dan Maximus Gasa periode 2010-2015. Tini Thadeus yang saat itu menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT di-SK-kan oleh Mendagri sebagai Pjs Bupati Mabar dan kemudian dilantik oleh Gubernur. Ia datang ke Mabar pada saat musim politik yang panas, jelang pelaksanaan pemilihan Bupati dan wakil bupati baru. Ia datang pada saat beberapa tokoh Mabar bertarung merebutkan kursi yang ia duduki sementara. Banyak pihak yang kemudian berharap bahwa sebagai Pjs Bupati, Tini Thadeus bisa memainkan peran yang ‘netral’ dalam pilkada Mabar. Menjadi penjaga ritme dari kegaduhan politik yang terjadi. Tokoh sentral yang bisa mendamaikan keriuhan pesta demokrasi. Bahwa sebagai seorang pribadi mungkin ia mendukung salah satu pasangan calon Bupati, namun sebagai pejabat publik, Bupati sementara, ia memiliki tanggung jawab agar pesta demokrasi berjalan damai dan lancar. Namun, apa yang kemudian terjadi adalah Tini Thadeus benar-benar berperan sebagai ‘orang gubernur’ yang siap mengamankan kepentingan gubernur dalam pilkada Mabar. Utamanya pasangan calon bupati yang didukung gubernur. Sebuah peran yang ia mainkan dengan penuh kontroversi.

 Selama kurang lebih enam bulan menjadi Pjs Bupati Mabar, banyak pernyataan publik dan ceplas-ceplosnya yang dinilai kontroversial dan tak patut dilakukan oleh seorang pejabat publik seperti dirinya apalagi sebagai seorang Pjs yang mestinya datang untuk menyukseskan dan mengamankan kegiatan Pilkada. Karena itu, ia kerapkali mendapat ‘cercaan’ media dan ‘dibully’ habis-habisan oleh pengguna sosial media.

Beberapa kontroversinya yang kemudian menjadi perbincangan masyarakat dan ‘bulan-bulanan’ media dari sejak pertama ia dilantik diantaranya adalah:

Yang pertama, ketika temu pisah dengan mantan Bupati Agustinus Ch Dula dan Wakil Bupati Maksimus Gasa pada 31 Agustus 2015 lalu. Pada saat itu, ia dan istrinya mengenakan baju serba merah. Banyak pihak yang menilai dan menafsir baju merah itu mengacu pada PDIP. Salahsatu partai pendukung calon Bupati (incumbent) Gusti Dula yang maju kembali pada Pilkada Mabar berpasangan dengan Maria Geong. Namun sebagaimana dilansir Floresa.co,  kala itu Thadeus membuat pernyataan agar undangan tidak salah tafsir atas kostum serba merah yang ia dan istrinya kenakan.

Yang kedua, pada saat memberikan sambutan pada acara pesta nikah di Nggorang, Kecamatan Komodo pada 3 September 2015 lalu. Empat bulan jelang pilkada. Diantara yang hadir ada Fidelis Pranda. Salah satu bakal calon Bupati Mabar kala itu. Pada kesempatan tersebut, mulanya Thadeus mengajak masyarakat agar mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk ikut memilih pemimpin Mabar lima tahun kedepan.Ia juga menyampaikan agar pada 9 Desember memilih pemimpin yang peluang menangnya besar. Meski tidak menyebut nama Paslon, tapi masyakarat bisa menebak siapa sasaran tembak yang dimaksud Thadeus. Pada kesempatan tersebut, Thadeus juga membuat statement yang sedikit tendensius. Menyebut nama Fidelis Pranda tidak akan ada di TPS. Mendengar itu, Pranda hanya tersenyum kecut.

Yang ketiga, ketika ia kembali memberikan sambutan pada resepsi pernikahan yang digelar di Youth Center Labuan Bajo pada Jumat (18/09) malam. Pada acara resepsi nikah itu, mulanya ia menyampaikan beberapa pikirannya soal pernikahan. Namun, kemudian tiba-tiba ia menyerempet ke soal politik. Mengajak semua yang hadir supaya pada tanggal 9 Desember memilih ‘satu’. Ia juga mengatakan, diantara lima, kalau pilih dua, atau tiga, atau empat, itu semua suara rusak. Memilih satu diantara lima. Setelah mengatakan itu, ia lalu menyuruh hadirin untuk menerjemahkan sendiri apa maksud pernyataan dan ajakannya. Beberapa orang yang menghadiri resepsi nikah itupun menunjukkan wajah tak suka terhadap pernyataan Tini. Pada Pilkada Mabar lalu, no ‘satu’ adalah pasangan Gusti-Maria.

Yang keempat, menyebut aktivis penolak privatisasi Pantai Pede tidak rasional. Selama keberadaanya di Manggarai Barat, beberapa kali Tini Thadeus dalam kapasitasnya sebagai Pjs Bupati Mabar (dan orang titipan Lebu Raya?) memfasilitasi pertemuan sosialisasi pembangunan Hotel PT SIM di Pantai Pede antara PT SIM dan elemen masyarakat. Pada beberapa kali sosialisasi dan pertemuan itu, elemen masyarakat penolak privatisasi tetap teguh pada pendirian penolakan. Ia rupanya gerah. Pada Sabtu 10 Oktober 2015, Floresa.co menulis kegerahan Tini Thadeus dengan mengutip pernyataannya yang menganggap aktivis tidak mengkaji baik-baik aturan dan menyebut mereka tidak rasional. Menurutnya, demikian floresa.co, soal Pantai Pede sebagai tempat rekreasi umum yang menjadi salah satu alasan penolakan tidak tepat, mengingat, kata dia, investor tetap akan membuka akses untuk masyarakat berekrasi di Pantai Pede.

Yang kelima, pada hari pencoblosan, Rabu 9 Desember 2015. Beberapa jam setelah pencoblosan, akun facebook Tini Thadeus langsung mengucapkan selamat kepada pasangan Gusti-Maria. Ia mengucapkan proviciat sembari berkata bahwa pasangan Gusti-Maria adalah paket yang berkenan di kerahiman-Nya.

Postingan di facebooknya ini pun segera membuat gerah pengguna media sosial, utamanya tim sukses dan pendukung dari empat paket lainnya. Ucapan selamat Tini dinilai prematur karena hasil perhitungan resmi dari KPUD belum keluar. Pun perhitungan online juga masih sedang berlangung.

Yang keenam, postingannya di facebook terkait perpanjangan tenaga kontrak di lingkup kabupaten Manggarai Barat pada hari Kamis 11 Februari 2016. Pada postingan itu, Tini mengucapkan selamat dan proficiat untuk mereka yang merindukan datangnya SK perpanjangan kontrak. Sembari ia meminta maaf jika ada nama yang tidak ditemukan, karena itu bukan salahnya juga bukan salah mereka (yang tak ada namanya itu). Namun jika nama mereka ada, Tini meminta mereka untuk menyebut namanya tiga kali saat mereka membaca SK-nya.

Sontak, postingannya ini mengundang beragam komentar. Menganggap postingannya tidak etis.

Ancaman Demo dari Mateus Hamsi dan Curhat Tidak Enak Jadi Bupati 
Rupanya, tak hanya masyarakat biasa yang gerah dengan segala kontroversi yang dibuat oleh Tini Thadeus. Mateus Hamsi, salah satu calon Bupati Mabar pada pilkada 2015, rupanya ikutan gerah juga. Sebagaimana diberitakan floresa.co pada 19 September 2015, Hamsi menyampaikan teguran keras kepada  Tini Thadeus karena manuvernya yang dinilai mendukung salah satu pasangan calon. Dalam berita floresa.co, Hamsi mengaku menghubungi langsung Tini Thadeus sembari mengingatkan Tini Tadeus, sebagai Bupati sementara, untuk tidak membawa kekacauan di Manggarai Barat. Samsi juga mengingatkan Tini supaya tidak bermanuver. Ia katakan, jika Tini datang ke Mabar disponsori oleh Lebu Raya, Samsi akan turun demo besar-besaran. Mendemo Tini Thadeus.
Mendapati cercaan dan banyak ‘bully-an’ dari media dan pengguna sosial media terkait gerak geriknya sebagai Pjs Bupati Mabar, rupanya membuat Tini Thadeus sadar bahwa menjadi Bupati sungguh tak enak.
Pada acara sosialisasi pengembangan pengawasan pemilu partisipatif  yang diselenggarakan Bawaslu NTT di Labuan Bajo pada Senin 23 November 2015, Tini Thadeus mencurahkan isi hatinya (curhat). Pada saat memberikan sambutan ia mengatakan menjadi penjabat Bupati itu banyak persoalan. Sampai di dunia maya, namanya dicaci maki. Memang tidak enak jadi bupati.
Ceplas-ceplos di Sosial Media
Sebagai seorang pejabat publik, banyak masyarakat (utamanya pengguna sosial media semisal facebook) berharap bahwa gaya komunikasi Tini Thadeus haruslah berwibawa. Mengeluarkan kata-kata dan pernyataan terukur dengan bahasa yang menunjukkan kelas pejabat. Namun rupanya, Tini Thadeus memang tak ingin menjaga image. Postingan-postingan (status) di facebook pribadinya misalnya selalu menggunakan kata-kata sederhana dengan gaya tulis yang ceplas-ceplos.
Untuk mewakili dirinya, ia menggunakan kata ganti pertama tunggal informal ‘aku’. Terkesan ‘muda’ dan ‘gaul’. Hampir tak pernah dalam status facebooknya menggunakan kata ganti ‘saya’ untuk menunjuk dirinya.
Pun pada postingan facebooknya pada 12 Februari  sebagai respon atas ‘kegaduhan’ publik terkait  postingan facebooknya mengenai perpanjangan SK tenaga kontrak sehari sebelumnya ia menggunakan kata ganti ‘aku’ dan terkesan bukan respon dari seorang pejabat.
Pada postingan itu, ia menulis,
“Selamat pagi Saudaraku yg Pujian dan Marah2 terhdp Status FB aku. Terima kasih semua komennya. Tolong baca baik2 substansi pesannya. Kata kunci dari pesan itu hanya 2 kata yaitu Perpanjangan Kontrak artinya Tidak ada Terima Tenaga Kontrak Baru. Silahkan komen, Bagi aku komen Anda adalah Nutrisi Karya Panggilan aku dan Anda sedang mengamati / memperhatikan aku dari sisi yg Berbeda. Terima Kasih semuanya. Salam penuh kasih dari kami sek. Tabe.. tabe dan tabe”.
 
Atas gaya komunikasi ‘ceplas-ceplosnya’ ini, banyak kalangan yang memberi apresiasi. Bahwa sebagai pejabat publik, Tini Thadeus menampilkan dirinya yang apa adanya. Komunikasinya di sosial media tak memiliki sekat. Namun tak sedikit juga yang gerah dan menyarankannya untuk belajar komunikasi yang baik dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik.
Terlepas dari itu semua, Tini Thadeus, putera Manggarai Barat asli, kelahiran kampung Ru’a, Macang Pacar, 20 Agustus 1959 ini sudah menjadi bagian dari sejarah para pemimpin Manggarai Barat. Jebolan Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana dan mantan aktivis PMKRI, KNPI, dan mahasiswa pecinta alam Undana Kupang ini sudah mewarnai enam bulan dinamika politik-pemerintahan dari Kabupaten paling barat dari Pulau Flores ini. Tentu, untuk hal-hal yang baik akan jadi contoh, untuk hal-hal yang tak baik akan jadi pelajaran juga refleksi. Bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.
Selamat kembali ke Kupang, kraeng Tu’a! Sukses untuk pengabdiannya sebagai abdi negara. Sebagai kepala keluarga dan sebagai hamba Tuhan.
Jika Tuhan berkenan, mungkin Bapak akan kembali memimpin Manggarai Barat di masa mendatang. Who knows?!
Cowangdereng-Labuan Bajo, pertengahan Februari 2016. Tepat di hari pelantikan 9 Bupati dan Wakil Bupati terpilih se-NTT. 17 Februari 2016. 

 

Selamat Jalan, Prof Stan! Rest in Peace!

Bapak Stanislaus Sandarupa, Ph.D. Saat saya menulis sosoknya berikut di tahun 2012 silam, ia belum bergelar profesor. Ia baru diangkat jadi guru besar antropolinguistik UNHAS pada 1 Maret 2015.

Sepanjang hari ini, Senin 18/01/2016, berita tentang kepulangannya beredar di timeline fesbuk para sahabat, bapak/ibu dosen di UNHAS, dan kawan-kawan yang pernah menjadi mahasiswanya.

Hari ini, ia pulang menuju keabadian. Sebuah kehilangan yang sungguh bagi kami, bekas mahasiswanya, dan tentu saja bagi UNHAS, tempat segala ilmu dan pengabdiannya terhadap penelitian dicurahkan.

Selamat jalan, Prof.
Kami senantiasa mengenangmu sebagai guru terbaik!
Rest in Peace!

Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas) Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas)

Kita semua tentu memiliki sosok yang kita kagumi. Entah karena kepakarannya dibidang tertentu atau karena satu dan dua hal yang lain. Bisa jadi sosok yang kita kagumi itu adalah orang yang biasa saja, tak memiliki jabatan apapun, seorang menteri, presiden, ilmuwan, gubernur, bupati, dosen, kepala desa, artis, atau bahkan orang tua kita sendri, ayah dan bunda. Bisa juga para Nabi yang menjadi penuntun jalan hidup dan berkehidupan kita hingga hari ini.

Saya sendiri memilki beberapa sosok yang saya sebut para inspirator. Ada mantan menteri, motivator, petualang, dosen, penulis bahkan teman kampus dan di komunitas serta organisasi. Ada yang saya kagumi karena lika-liku hidup mereka yang mengharu biru hingga mencapai kesuksesan, ada juga yang saya kagumi hanya karena satu hal yang mungkin sederhana, karena dia sederhana dalam kemapanan. Sederhana dalam kemapanan intelektual, bersahaja walau berlimpah materi.Tak pernah pongah walau dia berhak untuk melakukan itu.

Yah, alasan…

View original post 341 more words

SMAK Fransiskus Xaverius Ruteng-Flores, Celebrating Students’ Multiple Inteligences

floresmu2
A first grade student of SMAK St Fransiskus Ruteng is delivering speech in the school family festival, Thursday November 12th

Thursday, November 12th.   The sunlight was hot enough for  the cold Ruteng, the capital city of Manggarai regency, Flores- East Nusa Tenggara. In the school yard of SMAK St. Franciscus Xavierus, one of the chatolic-based schools in the town,  two canvas shelters have been installed. Completed with several rows of benches and chairs underneath. The position of the two canvas shelters were directed to terrace of the school building used as a stage for many art performances.

A minute later, an announcement comes out of a speaker installed in the corner of the teachers’ room.  The announcement echoed throughout the school complex.  it was delivered in Bahasa Indonesia and then followed by a translation in English.

“Announcement. To all students participating in the English speech and pop song contest to get to the school yard because the race will begin soon “, said the beautiful voice from the speaker.

Soon after that, almost all students from several classrooms trickled out.  Their eyes stared the stage. Several others stood on the porch of the classroom. Waiting for the race began. The participants were seen to enter the music room to get a small briefing before they perform before the audience. Contestants for pop song contest wore professional singer-like outfits while the English speech contest participants wore school uniforms.

almost all classroom terraces were full of students. All their attention was leading up to the stage. Some teachers and other students were sitting under canvas shelters installed in the middle of the school yard.

The contest began. A nun who was also an English teacher at the school hosted the event. English speech competitions and pop singer officially began. Applause echoed throughout the school. Cries of support for the participants came from a variety of classes terrace. The entire academic community rejoiced. Celebrating that day with songs and english speech. Everybode dissolved in happiness.

That was the athmosphere of one of the student activities at SMAK St. Fransiskus Xaverius- Ruteng, widely known as SMAK Fransiskus.  In that afternoon, the school located just behind the Ruteng-old cathedral was being held a family party. It is an internal celebration of the school’s academic community, which took place from November 4th  to upcoming December 3rd.

The committee’s secretary of the event, John Setiawan Da, on the sidelines of the event told to insideflores that the family feast is held every year. However, in previous years, it was held on the anniversary of the school and just filled with extracurricular activities. This year, the school tried to provide students with variety of contests that students can join.  It aims to develope  students’ interest and talents as well as to celebrate the school saint, Saint Fransiskus, which is always celebrated in early December every year.

kepsek3
The school headmaster, Mr Martin Wilian, Pr S.Fil is delivering his speech to officially open the english speech contest at SMAK St Fransiskus Ruteng, November 2015

Yohan, getting his bachelor degree in Philosophy and teaching Bahasa Indonesia at the school, added that, for this year, beside  English speech contest and pop singer, there are also competitions and other games. The competition was clasified into three categories: academics, arts, and sports. For the academic category, there is a quiz competition among classes’ representatives and English speech contest. For the category of art, there is a pop song contest and traditional dance. As for the sports category, there are sepak takraw and volleyball.

“Each class sent repsentatives . Especially for the first and second grade. Because the third grade had to be busy with the preparations for upcoming national exams (UN) “, said Yohan.

He added that since the party started on  November 4th, there are several contests held during school hours, they but do not interfere the learning process in the class. for sports competition, the game was held in the afternoon.

The peak of the event will be held on 3rd December. the commeete has set a plan that the closing ceremony will be filled with programs to officially close the one month-family party.

It was seen that during the festival, the whole academic community of SMAK Francis, both teachers and students, look very enthusiastic witnessing ongoing events in the school yard that was established 28 years ago.

Adopting Three ‘S’ Education Concept

Besides as a medium for all students’ talents, the family festival is also held  to maintain the dynamic balance between the academic and non-academic abilities of the students.

The school principal, Martin Wilian Pr SFil,  admitted that his school is adopting the concept of education at seminary. In seminary education concept, students are expected to develop three ‘S’. They are Sanctitas(purity), sanitas (helath), and scientea(knowledge). Those three ‘S’ are translated into programs focusing on a balanced position between the development of students’ academic and non academic abilities.

“Here, I want to create a school environment which is full of dynamics. The academic and non academic abilities of learners are equally appreciated “, said the priest who had been a chaplain priest in Iteng.

Since being appointed as a head of the SMAK Fransiskus in January 2015 from his previous position at the Seminary of St. John Paul II Labuan Bajo, he had issued several new policies for schools. He established development group for each subject and for students’ ectracuricular activities. He formed ‘a clump’ for every subject and extracurivular. Clump of art,  clump of sport, clump of PPKN, clump of history, and so on. Each clump has a teacher coordinator respectively.

“I want all the talents and interests of students are developed and empowered and all teachers receive the same treatment based on their respective capabilities”, said the Principal who is affectionately  called ‘Romo’ Martin.

No wonder that academic and extracurricular life is very much alive at this school. It was seen at the moment when floresmuda.com team held aClass Writing at the school.  Every afternoon, fifty selected students from grade one and two were seriously attending and sitting in a hall, receiving materials from the floresmuda.comteam.  At the same time, some groups of other students were busy with extracurricular activities in the school yard and in some other school classrooms.  what a beautiful academic life!

Floresmuda.com and Baku Peduli held training on ‘Journalism for Social Change‘ for High School Students in Flores

IMG_3727
Gregorius Afioma, Floresa.co’s editor in chief,  at SMAN 2 Komodo-Nggorang 

A newly established online media, floresmuda.com, colaborated with the local NGO of West Manggarai, Baku Peduli Centre-Watulangkas, held training on ‘journalism for social change’ for high school students in several senior high schools in the island of Flores. The training targeted students having passion in writing and journalism.

Floresmuda.com’s editor in chief, Edward Angimoy, in an occasion in Labuan Bajo-West Manggarai on November 10th said that the training is held to help students develop their skills in writing, develop their critical thinking, and introduce journalism for social change. The training is also aimed at preparing the future journalists for the island of Flores and for the East Nusa Tenggara region.

“The purpose of this program is actually to train students how to write. the three day-training that we design is definitely not enough to make them write. But at lest, it can stimulate them to start brainstorming ideas, looking at social problems and issues aorund them, and starting to write”, said Edward.

He added, there are several outcomes expected from the training program. first, the students participating in the training program are expected to manage wall magazine of their respective school. they are expected to be actively involve in designing and publishing school magazine by their own. second, the students participating in the training program are expected to be school writer or reporter for floresmuda.com. the alumnie of the training will be given chance to write article for the online media. they can write abou any event held by their schools, about their teachers, or about their own experirnce and send them to floresmuda.com. third, the team  from floresmuda.com and Baku Peduli are stil designing and setting a plan to conduct a youth camp for the alumnie of the training. the alumnie of the training from each school will be invited and gather them in one place. the youth camp is expected to be a good ‘space’ for students from different schools to share ideas and experience. they will exhange information and experience on many aspects of school life experience.

IMG_3213
A session of the training on ‘Journalism for social change’ in SMAK Fransiskus Ruteng, November 2015

 

“We design that each school can only send maximum 20 students to join the training. and for now, we start from schools in Manggarai. next year (2016) we will reach schools to other regencies accross the Flores island. we select only three to four high schools for each regency. so in West Manggarai there would be only three to four schools, East Manggarai, and Manggarai, and so on. in selecting participating schools, we are based on several considerations such as the students composition in term of religion of respective school and the school facilities”, said Edward.

As the beginning step, the team has conducted training in four different high schools so far. they are SMK Stella Maris- Labuan Bajo, SMAK Fransiskus Xaverius-Ruteng, SMAN 2 Komodo-Nggorang, SMAN 3 Komodo-Merombok, and MAN Labuan Bajo.

The training program started from November October 27-29 in SMK Stella Maris-Labuan Bajo, 12-14 November in SMAK Fransiskus Ruteng, 17-19 November in SMAN 2 Komodo, 20-21 November in SMAN 3 Komodo, 28 November in MAN Labuan Bajo and it will continue to some sother schools in upcoming months.

Twenty students were antuciastic in joining the training. in SMAK Fransiskus Ruteng, as asked by the school principle, the school sent fifty students for training. SMAN 2, twenty two students, SMAN 3 Komodo, SMK Stella Maris, and MAN Labuan Bajo sent twenty students respectively.

The facilitors and mentors for the training are Edward Angimoy (floresmuda.com), Gregoeius Afioma (floresa.co), and Kornelis Rahalaka (floreskita.com).

So far, several alumnies from the training become active contributor for floresmuda.com. they write on many issues and topics ranging from straight news to feature and opinion.

A Tale of a former Kepala Desa; A Tale of Indonesian Democracy

Yesterday afternoon (April 25), several hours before Maghrib prayer time, I got called from a family member from my lovely Kampung telling that the former Kepala Desa (head of village) of my village who run for West Manggarai legislative election on April 09 doesn’t succeed in gaining enough votes to secure one seat for West Manggarai regional representative for period of 2014-2019.

The former ‘Kades’, backed by Nasional Democrat Party, only collected hundreds of votes from dozens of polling station across the electoral district I (Dapil I) which includes four sub-districts; Komodo, Boleng, Sano Nggoang, and Mbeliling. According to the phone call, the former kades turned out to be stressed out after knowing that the votes he gained from the election did not meet the minimum vote set by General election Commision to become the next legislative member of West Manggarai.

In the village where once he became its head for two periods, he only got no more than 90 votes out of 600 registered voters. What makes it worst is that the former kades, who is now becoming a businessman, had totally sold out what he had from his business. Dozens of cows had been sold out , some other sources of income had been maximized, all neighboring villages had been visited, but it turned out to be nothing. All hard works, tireless effort have paid off in a very bad outcome.

It’s still fresh in my mind when I visited him in his well-established house back in September last year. He shared his vision and mission in becoming a legislative member and asked me to go with him during the campaign period. The similar approach was also made to persuade several friends of mine (from the same village) who are still studying in several universities in Makassar. He was very optimistic that he could smoothly run for the next legislative member. He believed that his popularity as a former Kepala Desa for two periods and as a locallly well-known businessman would give a great impact in gaining more votes. In addition, gaining support from university students from Makassar would be important for him in increasing his electabilty.

As a boy born and raised in the village, I personally supported his move and wished him a great success. It would be great if we have our own ‘man’ in the DPRD office, so the development of the village can be accelerated. But he and his campaign team seems to forget to know that politics has nothing to do with mathematics calculation.

After April 9 election, he eventually knows that in politics, being good and popular is not just enough. It’s all about money, money, and money. A point of which other candidates outside his village put their eyes on so they can win the people’s hearts and minds.

In the polling station, people have no time to think of what he had done for the village during two periods of his office when he became Kepala desa. People only think of how the person who has given them cash can run smoothly to the DPRD office regardless of where he/she comes from and what religion he belives in. Even the person is someone unknown for them and coming from outside their kampung. Now, I have no idea of what he is gonna do in several days to come. I do hope that he is not gonna be too stressed out and just let the life flow like water because there is still a long way to go.

A Tale of Indonesian democrazy 2014_

travel, enjoy, respect

berwisata; pintu melihat kehidupan

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.