Cerita KKN (4); Seminar Program Kerja Desa

Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep
Kepala Desa Mangilu Menyambut Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep

Program kerja adalah ruh dari KKN.Mahasiswa yang sedang ber-KKN diharapkan menawarkan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masayrakat tempat dimana KKN dilaksanakan.

Begitupun  dengan saya dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok KKN Mahasiswa UNHAS gelombang 81, Desa Mangilu 2012.

Setelah melakukan survey selama sepekan setelah tiba di lokasi, saya (Sastra Inggris), Ode (teknik Geologi), Ale (Akuntansi), Mia (Ekonomi), Farra (Hubungan Internasional), Fadel (Administrasi Negara), Vivi (teknik Sipil), dan Purnamasari (perikanan) merampungkan program kerja yang akan dilaksanakan selama dua bulan kami ber-KKN di desa yang bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Kota Makassar ini.

Hal berikutnya yang kami lakukan adalah menentukan hari untuk menggelar seminar program kerja dan menyebarkan undangan ke warga Desa. Saya, Ode, dan Ole berbagi wilayah menyebar undangan. Untuk Kepala Desa, Babinsa, Kepala-kepala Dusun, RT/RW, kepala-kepala sekolah dan tokoh masyarakat.

Akhirnya, pada hari Rabu, 07 Maret 2012, posko kami menggelar seminar Desa. Seminar untuk menyosialisasikan program kerja yang akan kami laksanakan selama tinggal dan berbaur dengan warga desa ini.

***

Maret 2012.

Rabu, 07  Maret 2012, bertempat di Kantor Desa Mangilu, Kec  Bungoro Pangkep, posko Desa Mangilu menggelar seminar desa.  Seminar desa ini bertujuan untuk mensosialiskan program kerja yang akan akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Unhas berkerjasama dengan KODAM VII Wirabuana.

Selain dihadiri Kepala Desa Mangilu, seminar yang molor dua jam dari jadwal itu juga dihadiri oleh Badan Pembina Desa (Babinsa) Mangilu, Babinkamtibmas Bimas Polri Desa Mangilu, Kepala-kepala dusun, perwakilan sekolah SD dan SMP, dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mangilu, Abdul Malik M, mengucapkan selamat datang kepada mahsiswa KKN UNHAS dan berharap agar program-program kerja yang direncanakan menyentuh kebutuhan masyarakat. “Saya hanya mengusulkan dua program untuk mahasiswa KKN Unhas, pembuatan besi petunjuk jalan dan gotong royong membersihkan desa”, kata kepdes.

Babinsa Mangilu, Sersan dua (Serda) Usman yang juga memberikan sambutan mengajak semua elemen masyarakat untuk turut serta menyukseskan program kerja mahasiswa KKN Unhas gelombang 81 Desa Mangilu. “Saya berharap kepada msayarakat untuk turut berpartisipasi dalam setiap kegiatan gotong- royong yang digagas oleh mahasiswa KKN Unhas ini”, harap Pak Babinsa.

Foto bersama Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep usai seminar proker
Mahasiswa KKN UNHAS dan Mahasiswa KKLP STKIP Pangkep berpose bersama Ibu desa dan staf usai seminar proker

Pada sesi pemaparan program kerja yang diwakili oleh Koordianator Desa (Kordes) mahsiswa KKN Unhas Desa Mangilu, Muhammad Boeharto,  tidak banyak pertanyaan, kritik serta saran dari warga Mangilu. Hanya satu peserta seminar yang memberikan usulan agar program kerja mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah diperbanyak volumenya. Sedangkan satu perserta lain mempertanyakan bentuk kerjasama mahasiswa KKN Unhas dengan Kodam VII Wirabuana.

Selain mahasiswa KKN UNHAS, kemarin juga digelar Seminar Proggram Kerja Desa dari Mahasiswa KKLP STKIP Andi Matappa Pangkep yang juga akan berkegiatan di Desa mangilu selama dua bulan kedepan.

Kepala Desa Mangilu berharap, nantinya mahasiswa KKN Unhas dan KKLP STKIP A Matappa Pangkep bisa bekerjasama dan berkolaborasi dalam melaksanakan program kerja yang sama.(*)

Cerita KKN (3); Ketika Posko Mengalami Krisis Air

KKN atau Kuliah Kerja Nyata selalu memiliki kisah romansa tersendiri bagi mahasiswa yang menjalaninya. Ada saja hal-hal baru yang dijumpai selama kuran lebih dua bulan waktu KKN berlangsung. Tentang cinta lokasi antar sesama mahasiswa KKN seposko, lintas posko, cinta antara mahasiswa dengan bunga desa atau sebaliknya; pemuda desa dengan mahasiswi KKN.

Namun, cerita KKN (3) ini  bukan hendak menceritakan tentang topik percintaan yang penuh haru biru. Melainkan cerita tentang hari-hari awal saya dan teman-teman menjalani fase akademik terakhir ini.

***

Mandi, menumpang di sumur tetangga
Mandi, menumpang di sumur tetangga

Maret, 2012. Pekan pertama tiba di lokasi KKN.

Panas yang menyengat beberapa hari setelah kami tiba di lokasi,  berimbas ke posko saya dan teman-teman KKN Unhas gelombang 81, yaitu Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep Sulsel. Selama dua hari Posko mengalami kekurangan air. Bak penampung hujan yang selama ini menjadi andalan untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK) penghuni posko kering kerontang. Bersyukur keberadaan sumur pompa yang terletak disamping rumah sedikit membantu. Setidaknya untuk keperluan buang air. Kapasitas mesin pompa dengan kedalaman sumur dan volume airnya tidak seimbang. Alhasil mesin hanya bisa beroperasi sekitar satu jam tiap hari karena kehabisan air. Cukup untuk mengisi setengah bak mandi.

Sedang untuk mandi warga posko yang laki-laki terpaksa harus menumpang mandi disumur tetangga yang berjarak sekitar 100 meter dari posko.

Keadaan ini menyebabkan segenap warga posko jadi merindukan hujan. Berharap hujan deras turun setiap hari agar ketersediaan atau stok air di bak penampung tetap bisa memenuhi kebutuhan MCK penghuni posko.

Dilematis memang. Satu sisi warga posko merindukan panas agar jalanan tak berlumpur dan kendaraan senantiasa kinclong, namun disisi lain turunnya hujan adalah berkah. Bila hujan turun bahagianya minta ampun. Serasa tak ada kebutuhan yang maha dirindukan selain hujan.

Keadaan seperti ini juga membuat Bapak Dusun, Ayah kami di Posko Desa Mangilu yang kami temapati rumahnya selama KKN, ikut prihatin. Beliau senantiasa mengontorol mesin pompa agar bisa mengalirkan air ke bak kamar mandi.

Menurut Bapak Dusun, sebenarnya sudah ada pipa sambungan air dari sebuah perusahaa marmer  ke setiap rumah warga di Dusun ini. Pengadaan pipa itu merupakan salah satu bentuk Corporate Social Resonsinilty (CSR) dari perusahaan itu. Beberapa waktu lalu ada semacam Memonrandum of Understanding (MoU) tak tertulis antara warga dan pihak perusahaan terkait pengadaan pipa instalasi air itu. Pada awal pengoperasiannya, memang semua bak penampung yang ditempatkan dibeberapa dirumah warga dialiri air deras dengan lancar. Namun semenjak musim hujan turun , air tak lagi mengalir. Penyebabnya karena kebutuhan air di perusahaan terpenuhi melalui bak penampungan air hujan. Sehingga mereka tak perlu lagi menghidupkan mesin dan mengalirkn air ke setiap bak penampung di rumah warga. Hal inilah yang kemudian menyebabkan warga sekitar Dusun Sela mengalami kesulitan air untuk keprluan MCK pada saat-saat tertentu.

Posko KKN UNHAS Gelombang 81 Desa Mangilu sendiri menjadikan masalah air ini sebagai salahsatu program kerja KKN. Melakukan audiensi dengan pihak perusahaan agar air yang pernah mereka janjikan untuk dilairkan ke setiap bak penampungan di rumah warga bukanlah bualan kosong. Sebuah janji yang harus ditepati dan dipertanggungjawabkan. (*)

The Local Workshop of Generation Change 2013

Generation Change Workshop Jogjakarta
Generation Change Workshop Jogjakarta

Indonesia is home to many religions, tribes, and ethnics. Every city of the country tells its own story of diversity. That is the reason why his founding fathers give him a beautiful tagline, Bhineka Tunggal Ika, a Sanskrit  phrase  which means Unity in Diversity.

Like some other parts of the country, Makassar, a capital city of South Sulawesi Province has shaped himself as one of the diverse city in Indonesia in term of background of people living there. Beside Makasarese and Buginese as his two indigenous ethnics, there are also many other tribes contributing to the color of the life of the rapid-growth city. There are Mandarese, Toraja, Flores, Ambon,Papua, and many others.

Living together in a diverse community is sometimes not as easy as seeing a beautiful rainbow. It needs more than respecting the differences and understanding one another.

University students as the agent of change are expected to play their roles in contributing and promoting life in tolerance. As the next leader of the country, they are expected to maintain peace and promote the principle of unity in diversity. Through their creative and innovative ideas, the spirit of tolerance is expected to live in every person’s heart and the spirit of togetherness is spread to many groups of people.

For the students of Makassar, their ideas of promoting the spirit of unity in diversity had been transformed into one collective work which is the spirit of change. Their ideas are connected through a generation change workshop sponsored by the US Embassy Jakarta..

Saturday, April 6th 2013, twenty six students from various backgrounds (religion, ethnics, campus, and mayor) came and joined the first the generation change workshop in the city.  They came with one collective idea, finding ways to promote peace and life in tolerance for Makassar people.

And I myself, as the local facilitator of the workshop, am very happy being part of this workshop and being part of those having a movement plan for better Indonesia and for Bhineka Tunggal Ika.

Generation Change Workshop Pontianak
Generation Change Workshop Pontianak

***

It was the US Embassy of Jakarta who initiated and sponsored the workshop.  In April 2012, the embassy of the US in Indonesia invited thirty students from various cities in Indonesia to join and follow generation change-called training for three days in Jakarta. The thirty students from Aceh to Papua received materials about viral peace and change. The aim of the training was to promote peace and tolerance through the power of social media. The speakers and facilitators were two prominent figures in social movement arena and important figures in optimizing social media for social good.

After the April training, in December 2012 the US Embassy invited again six from the thirty students joining the April training to come and join a three day-train the trainers (ToT) training in Jakarta. Unlike the April training, this December workshop was focusing on training the participants to be trainer of tolerance in their area.

Coming back from ToT training, the six participants were given a project to conduct a tolerance workshop called generation change local workshop and they were expected to be the local facilitator.

Jogja, Pontianak, Lampung, Makassar (me), Aceh, and Papua are the region where the students came from. Each of them has to conduct a workshop based on materials they had received from the training in April and December and the content of the local workshop must be in line with local context of the region.

The US Embassy as the main sponsor of the project give the six students enough time (three months) to prepare and arrange the workshop in their own region. They should select at least 25 participants for the workshop and come from various backgrounds.

Jogjakarta, as the first city conducting the local generation change workshop had a great success in February 2013. Then it was followed by Pontianak in the beginning of March 203 and Lampung in the same month.

Then, Saturday April 6th 2013 is the day of regional Makassar as the fourth city to conduct the local workshop of generation change.

Generation Change Workshop Lampung
Generation Change Workshop Lampung

Makassar Generation Change Workshop ; Social Media for Tolerance amidst Diversity

Just like the three previous cities, the local workshop of generation change Makassar 2013 had a great success. Twenty six participants from thirty selected students from various backgrounds came and attended the one day workshop which took place on the second floor of Library building of Hasanuddin University.

As the facilitator (with a team from US Embassy), we made the workshop into two sessions. The first session (morning) was about tolerance and the second is about social media.

For tolerance session, I was expected to deliver three topics of discussion; Tolerance Challenge in Indonesia, Managing Diversity, and Students and Brawl. For the second session, Mr Shafiq Pontoh (co-founder of @idberkebun, co-initiator of @AyahAsi, and Chief @IDBerkibar) is expected to explain about how to optimize the social media for social good and change.

Before the workshop started at 9 AM, the 26 students were divided into five groups; religion, ethnic, social, culture, and economy. Every group was expected to discuss and figure out any discussion exercise given by the facilitator or speaker during the workshop. At the end of the day, they were expected to come up with an idea of tolerance campaign plan via social media.

To start the workshop, Mr Andrew Vaveiros from the US Consulate general Surabaya as the representative of the US Embassy Jakarta gave a short speech, welcomed the participants, and officially opened the workshop.

Then, as the local facilitator, I took the microphone and started warming up the discussion of the day.

Starting the first session, I addressee a question to participants. “If tolerance were a fruit, what would it be?”

And wow… their answers varied. Someone replied, “it would be a coconut. Because a coconut tree can produce fruits at any time. Just like tolerance that doesn’t recognize time”.

Then another said, “it would be Durian. Durian has many varieties but it is known as one Durian. Just like our life, we are different but united in one entity called Indonesia. Some other replied, Mango, Sour soup, and many others.

Then I asked every group to brainstorm the idea of tolerance challenge in Indonesia based on their group point of view and presented it in front of other groups followed by question and answer session..

For group culture and social, the main tolerance challenges in term of culture in Indonesia are the feeling of primodialism, exclusivism, and the social gap between certain ethnics.

Group religion said, the problem between majority and minority is still the main challenge in term of tolerance.

Group economy explained, the distribution of development become an important issue that must be taken into consideration. So far, the development still focuses on the Java Island.

After Q & A session, I continued to the next topic, managing diversity. For this topic, I ask the participants to arrange a story telling about managing diversity in Indonesia.  The story must have a topic, character which they themselves in group, and an ending. The story must follow the story line; once upon a time (the problem of tolerance), everyday (what really happen), until one day (their action), because of that (effect of their action), because of this (effect of the effect), and since that day (resolution).

I gave them 20 minutes to finish the story and presented in front of the other groups. Every member of the group must tell the story based on his role in the story line. So everyone had a chance to speak. It seemed that every group had a sense of story tellers. They were very good at managing their stories, the tittles, the problems, and the solutions they proposed.

Group social for examples, their story is about making a documenter film about the diversity of Indonesia and the characters of the film would be they themselves.

After the Q & A session, I continued to the next topic again, Youth and Brawls.

To begin the discussion, I played a video about several brawls happened in Makassar. Ranging from students brawls, gengs conflicts, students demonstration, and some other conflicts. Then I asked the group to brainstorm the idea of the topic by 5 W + 1 H.

After 15 minutes, every group came up the own idea. There are a lot of ideas coming up regarding the cause of conflict in Makassar and the image of the city as the dangerous city in Indonesia.

According to them, there are several factors causing anarcism brawls in Makassar such as provocation, absurd solidarity, and unfair media report. To overcome those issues, moral education is needed and a campaign that Makassar is not rude (Makassar tidak kasar).

The topic of youth and brawls was the last topic for tolerance. Now it is the time to go on with Mr Shafiq Pontoh, Social Media.

In this session, the Manado-born activist explained about Social Movement: Social Goods through Social Media. He gave the participants the strategies how to optimize the use of social media for social change.

He told about his experiences in founding and initiating several historical social movements in Indonesia, such as Indonesia Berkebun, Ayah ASI, and Indonesia berkibar. He explained that he also was part of the team of Coin for Prita, an online movement to support Ibu prita against an international hospital in Jakarta in 2010.

There are a lot of ideas of him that must be kept in mind. One important thing that, the change should have a story. Any social change should have story behind it. “We must touch people’s heart, not their logic’’, said he.

After Q and A, I asked the group to start planning an online tolerance campign based on strategies given by Mr Shafiq.

After 30 minutes discussion with their group peers, every group came up with their online campaign plan.

Social media; Save Laontara

Ethnic; Warna Indonesia

Religion; Religion Home

Culture; Tari dan Lagu Sulawesi

Ekonomi: 100 % Sulawesi

After the all groups presented their online campaign plan, Mr Shafiq gave some affirmations. “All of the plans are great and executable. I do hope that each group will execute them for tolerance and for  better Indonesia”, said he.

As the last part of the workshop, Mr Andrew gave closing remarks, thanking to participants for their enthusiast joining the workshop.

He also hopes that all the online campaign will be executed for promoting tolerance amidst the diverse Indonesia.

Generation Change Workshop Makassar
Generation Change Workshop Makassar

Lembaga Tes TOEFL ITP Resmi di Makassar

toefl Belakangan ini peminat untuk mengambil kursus TOEFL (Test of English as a Foreign Langugae) semakin meningkat. Itu karena seiring banyaknya peluang untuk melanjutkan study baik untuk jenjang master maupun doktor (Ph.D) di luar negeri khususnya english-speaking country.  Bahkan kini beberapa kampus dalam negeri juga menyaratkan skor TOEFL minimal bagi calon mahasiswa pasca sarjananya. Jika skor TOEFL minimal (biasanya 500) tidak terpenuhi maka tidak akan lulus seleksi masuk perguruan tinggi yang bersangkutan. Melihat peluang yang besar ini, lembaga-lembaga kursus Bahasa Inggris pun berlomba-lomba untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat yang berminat belajar TOEFL.  Mulai dari kursus TOEFL berbiaya murah, try out TOEFL secara berkala hingga mengadakan tes TOEFL resmi. Namun ternyata tak semua lembaga kursus memiliki hak untuk mengadakan tes TOEFL resmi. Jika sebuah lembaga kursus hendak mengadakan tes TOEFL resmi, lembaga kursus tersebut harus sudah ditunjuk oleh ETS ebagai pemegang hak paten TOEFL.  Nah khusus untuk di kota Makassar, Sulawesi Selatan, beriktut  nama lembaga kursus atau lembaga Bahasa yang berhak untuk mengdakan tes TOEFL resmi (official TOEFL ITP test).

  • Pusat Bahasa (PB)  Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar.  Lembaga ini merupakan lembaga bahasa miliki UNHAS. Berkantor di kampus UNHAS Jl. Perintis Kemerdakaan Tamalanrea. Biasanya PB UNHAS menggelar tes TOEFL resmi tergantung dari banyaknya peminat yang mendaftar untuk tes. Jika peminat sudah mencapai minimal 30 orang, tes sudah bisa dilakasanakan. Biaya tes TOEFL resmi di UNHAS sebesar Rp. 450.000 (empat ratus lima puluh ribu rupiah).
  • Pusat Bahasa (PB) Universitas Negeri Makassar (UNM). Sama seperti PB UNHAS, lembaga bahasa ini miliki UNM. Berkantor di Kampus UNM Makassar. Biaya tes TOEFL resmi di PB UNM kisaran Rp. 350.000- Rp. 450.000,-
  • English Language Centre (ELC) Makassar. Yang saya ketahui, hanya ELC satu-satunya lembagakursus Bahasa Inggris yang berhak mengadakan tes TOEFL ITP resmi di Makassar. Saya sendiri juga waktu hendak apply beasiswa keluar negeri  beberapa waktu lalu, tes TOEFL ITP di lembaga ini. di Makassar ada dua kantor ELC. Satu kantor pusat di Jl. Lamadukeleng Makassar dan satu kantor cabang di Jl. A.P Pettarani.  Biaya tes di ELC sebesar Rp. 400.000,-

Selain ketiga lembaga ini, sertifikat TOEFL dari lembaga manapun tidak akan diterima jika kita hendak mengapply scholarship ke luar negeri. Karena ada juga lembaga kursus yang hendak menraup keuntungan dengan menjual program TOEFL dan mengadakan tes TOEFL resmi versi mereka masing-masing yang tidak diakui ETS. Sebagai tambahan, selain mengadakan tes TOEFL resmi, ketiga lembaga diatas juga mempunyai kelas pelatihan TOEFL berbayar, dan juga menerima penerjemahan dokumen resmi  seperti  ijazah, sertifikat, dll dari Bahasa Indonesia-Inggris atau Inggris-Bahasa Indonesia. Biaya penerjemahan dokumen resmi sebesar Rp. 50.000-60.000 per lembar jadi selama seminggu. Jika layanan express tiga hari biayanya sebesar Rp. 60.000- 80.000, per lembar/halamana. Namun saya tentu dengan senang hati bila teman-teman pembaca menambah, mengoreksi, ataupun memberikan informasi tambahan terkait lembaga resmi yang berhak mengdakan tes TOEFL resmi di Makassar selain tiga lembaga diatas. Thanks a bunch!

Mr. Stanis yang Bersahaja

Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas)
Mr. Stanislaus Sandarupa (foto Kompas)

Kita semua tentu memiliki sosok yang kita kagumi. Entah karena kepakarannya dibidang tertentu atau karena satu dan dua hal yang lain. Bisa jadi sosok yang kita kagumi itu adalah orang yang biasa saja, tak memiliki jabatan apapun, seorang menteri, presiden, ilmuwan, gubernur, bupati, dosen, kepala desa, artis, atau bahkan orang tua kita sendri, ayah dan bunda. Bisa juga para Nabi yang menjadi penuntun jalan hidup dan berkehidupan kita hingga hari ini.

Saya sendiri memilki beberapa sosok yang saya sebut para inspirator. Ada mantan menteri, motivator, petualang, dosen, penulis bahkan teman kampus dan di komunitas serta organisasi. Ada yang saya kagumi karena lika-liku hidup mereka yang mengharu biru hingga mencapai kesuksesan, ada juga yang saya kagumi hanya karena satu hal yang mungkin sederhana, karena dia sederhana dalam kemapanan. Sederhana dalam kemapanan intelektual, bersahaja walau berlimpah materi.Tak pernah pongah walau dia berhak untuk melakukan itu.

Yah, alasan itu juga lah yang membuat saya kagum dengan sosok Bapak satu ini.

Kami memanggilnya Pak Stanis. Sering juga Mr. Stanis. Seorang dosen yang berpenampilan sederhana. Stelan favoritnya adalah kemeja polos, kadang juga kotak-kotak, dan celana panjang Emba. Untuk alat komunikasi, ia memilih Nokia ‘batu’ yang entah keluaran tahun berapa . sangat jadul. Benar-benar sebuah HP kusam. Tas? Bukan tas jinjing atau ransel ala professional. Melainkan sebuah ransel kecil lusuh yang entah dibeli tahun berapa.

Di jususan Sastra Inggris kampus merah, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar ia mengampu beberapa mata kuliah yang merupakan kepakarannya. Dasar-dasar Filsafat, Logika, Semiotika, Antropolingiustik, dan beberapa mata kuliah linguistic dan kesusastraan lainnya termasuk beberapa mata kuliah pilihan seperti Bahasa Latin yang ia kuasai dengan baik, lisan dan tulisan.

Sekilas Nampak dari luar, tak akan ada yang istimewa dari sosoknya yang bersahaja itu. Namun sesungguhnya ia adalah bagaikan setumpuk kamus dan ratusan judul buku yang berjalan. Sangat cerdas. Seorang peneliti, budayawan, dan juga flisuf mungkin. Ia menghabiskan separuh hidupnya untuk meneliti budaya Toraja di Sulawesi Selatan. Ia masuk keluar pedalaman Toraja untuk menyelami makna yang terkandung dalam beberapa upacara adat. Karena kefasihannya berbahasa Inggris, Perancis, dan Bahasa Latin, bahasa ritual budaya Toraja diterjemahkannya demi kelangsungan budaya Toraja.

Ia lah yang menrjemahkan beberapa film dokumenter tentang beberapa ritual adat di Toraja ke bahasa Inggris untuk TV5 Perancis (1996). Ia juga pernah menerjemahkan sekitar 20 film selama sebulan dengan upah 200 dollar AS per hari.

Tak heran bila Harian nasional Kompas pernah memuat sosoknya di rubrik ‘Sosok’ koran itu dengan judul “Juru Kunci Tanah Toraja”. Sebuah julukan yang menggambarkan segala hal tentang Toraja ada apada dirinya dan mengalir bersama darahnya. Tittle akademik tertingginya adalah Dr (doktor), yang ia gondol dari University Chicago Amerika Serikat berkat beasiswa Ford Foundation pada tahun 1993. Sedangkan gelas masternya juga diperoleh dari kampus yang sama tapi melalui beasiswa Fullbright pada tahun 1989. Dan sarjana S1-nya diperoleh dari Sastra Inggris, Universitas Hasanuddin. Namun oleh koleganya sesama dosen di UNHAS ia seringkali dipanggil ‘Prof’. Sebuah panggilan ia elak dengan senyum sembari berujar, “ah, saya bukan dan belum profesor’.

Peluang Study Luar Negeri Mahasiswa NTT

Oleh: Jonatan Lassa* & Djwantoro Hardjito*

scholarships-signDari 299 pemenang beasiswa jenjang Master (S2) program Australian Partnership Scholarship (APS) 2005 hanya 1 orang NTT yang berhasil (lihat pengumumannya di http://www.apsprogram.or.id/ListSuccessfulCandidatesAPS2005.pdf). Dari 70 pemenang beasiswa Chevening tahun 2003 dan 2004 masing-masing hanya menempatkan 1 orang asal NTT. Kecuali beasiswa Ford Foundation dan ADS, pelamar asal NTT hampir selalu yang paling sedikit berhasil untuk mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri.
Kenyataan ini, selalu menjadi kerisauan kami. Apakah ini salah satu indikator rendahnya kualitas pendidikan tinggi di NTT? Ataukah memang kurangnya informasi dan skill berbahasa? Untuk ke dua alasan di atas toh juga terjadi pada daerah-daerah seperti Aceh dan Papua serta Kalimantan dan Sulawesi. Tulisan ini memberikan informasi dan juga ajakan untuk turut berkompetisi mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Sumber-sumber Beasiswa
Beberapa beasiswa International Master (kuliah yang diselenggerakan dalam bahasa Inggris) untuk tahun 2006 yang masih terbuka peluang untuk dilirik salah satunya adalah beasiswa Norwegia (http://siu.no/vev.nsf/O/NORAD-NORAD+Fellowship). Kesempatan melamar beasiswa Asean untuk program S2 juga masih tersedia hingga Desember 2005 untuk periode akademis 2006, masih tersedia juga di Nanyang Technological University (www.ntu.edu.sg) serta Asian Institute of Technology Bangkok (www.ait.ac.th).

Setidaknya ada empat sumber beasiswa ke luar negeri yang bisa dipilih; Pertama, beasiswa yang berasal dari program bantuan (grants) pemerintah negara-negara tertentu seperti beasiswa pemerintah Australia melalui program Australian Development Scholarship yang tiap tahunnya disediakan 300-350 bagi mahasiswa dari Indonesia (lihat http://www.adsjakarta.or.id), beasiswa pemerintah Inggris seperti Chevening Scholarship, beasiswa pemerintah New Zealand yang lazim ditawarkan langsung universitas-universitas di New Zealand. Pemerintah Belanda menawarkan berbagai skema beasiswa seperti Stuned (tahun 2002 sedikitnya 192 mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa ini – lihat Kompas, 18 Januari 2003), NFP, Huygens dan Delta. Pemerintah Jepang menyediakan Monbusho scholarship dan masih banyak lagi beasiswa dari pemerintah Prancis, Jerman, Swedia, Belgia, Canada, Singapura, Thailand, Korea, Cina dll.

Sumber lainnya adalah beasiswa dari lembaga-lembaga internasional seperti Asian Development Bank, Beasiswa Erasmus Mundus dari Europan Union (target tahun 2006-2008 adalah menyediakan sedikitnya 2,500 beasiswa untuk mahasiswa internasional). Beasiswa dari lembaga-lembaga PBB seperti Unesco, FAO, maupun dari lembaga-lembaga nirlaba internasional seperti Ford Foundation, Yayasan Sampoerna dan Aminef yang mengelolah beasiswa Fulbright.

Sumber ketiga adalah beasiswa yang disediakan universitas-universitas tertentu di negara maju bagi calon-calon mahasiswa berbakat. Cukup dengan membuka website universitas yang bersangkutan, informasi mengenai beasiswa yang tersedia & persyaratannya bisa dengan mudah diperoleh. Sebagai contoh di Asian Institute of Technology (AIT), sebuah institusi international di Bangkok, Thailand, yang hanya menyelenggarakan pendidikan setingkat S-2 dan S-3 saja, lembaga-lembaga pemerintah/ non-pemerintah dari berbagai negara menyalurkan beasiswa melalui institusi ini.

Sumber keempat bisa diperoleh lewat seorang dosen/profesor/kelompok riset di suatu universitas tertentu. Hal ini dimungkinkan bila sang profesor memperoleh dana riset yang cukup besar. Untuk mengerjakan risetnya, sang profesor memerlukan asisten riset yang seringkali juga mahasiswa pasca sarjana. Dengan menggunakan sebagian dana riset tersebut, sang profesor bisa memberikan beasiswa kepada mahasiswanya, termasuk beaya hidup.

Beasiswa untuk belajar pada jenjang S-1 juga ditawarkan seperti oleh pemerintah Singapura untuk belajar di National University of Singapore dan di Nanyang Technological University.
Bentuk Beasiswa

Bentuk beasiswa bisa beragam, di antaranya yang paling enak tentu saja kalau meliputi beaya perjalanan (pergi dan pulang), beaya kuliah, beaya hidup termasuk di dalamnya asuransi kesehatan, seperti yang ditawarkan oleh Australian Development Scholarship (ADS). Beasiswa ADS bahkan memberikan tambahan beaya hidup kalau sang mahasiswa membawa serta keluarga.

Bentuk yang lain adalah beasiswa yang hanya menanggung beaya kuliah & beaya-beaya lain yang wajib dibayarkan oleh seorang mahasiswa (biasanya termasuk asuransi kesehatan). Dalam hal ini beaya transportasi ke negara tujuan belajar, beaya hidup dll. perlu diupayakan sendiri. Di beberapa negara, misalnya Australia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, mahasiswa diperkenankan bekerja dengan jumlah jam terbatas. Kalau hidup hemat, umumnya uang yang diperoleh bisa dipakai untuk menunjang hidup. Kesempatan bekerja ini bisa diperoleh di lingkungan kampus (di perpustakaan, menjadi tutor, asisten di laboratorium, mengoreksi hasil ujian mahasiswa dll.), bisa juga diperoleh di luar kampus (mengantar koran, petugas kebersihan/cleaner, pengantar makanan dll.).
Keuntungan sekolah di luar negeri

Tidak selalu sekolah/universitas di dalam negeri lebih rendah mutunya di banding sekolah/universitas di luar negeri. Di Amerika Serikat banyak universitas yang bahkan tidak memiliki kampus, dan hanya sekedar menjual ijasah dan gelar. Akan tetapi, umumnya beasiswa hanya akan diberikan untuk bersekolah di lembaga pendidikan yang kualitasnya diakui baik di negara yang bersangkutan.

Pengamat pendidikan dari Surabaya, Dr. Anita Lie, mengatakan keuntungan belajar di negara maju antara lain keunggulan mutu pendidikan, kesempatan untuk mengembangkan wawasan internasional melalui pengalaman hidup dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara (Kompas, 20 Maret 2003). Yang jelas, kemampuan berbahasa asing pastilah akan meningkat.

Bagi mahasiswa pasca sarjana yang menekuni riset di bidang tertentu, suasana akademik yang melingkungi umumnya akan memacunya untuk menghasilkan karya-karya tulis yang layak disajikan dalam pertemuan-pertemuan ilmiah internasional, maupun di jurnal-jurnal ilmiah terkemuka di dunia. Mengapa? Karena umumnya para akademisi di negara maju sangat menyadari pentingnya publikasi, dan sudah terbiasa melakukannya. Hal ini bisa jadi amat berbeda dengan suasana pendidikan di dalam negeri. Beberapa universitas bahkan menyediakan sejumlah dana untuk setiap mahasiswa jalur riset agar dapat menyajikan karya tulisnya di pertemuan ilmiah internasional.

Kemana mencari informasi adanya beasiswa ?
Seperti sudah disinggung di depan, informasi adanya beasiswa paling mudah didapatkan melalui internet. Umumnya lembaga-lembaga pemberi beasiswa memiliki website yang menyediakan informasi-informasi yang diperlukan pencari beasiswa. Beberapa sumber informasi awal dalam bahasa indonesia tersedia di website berikut: http://milisbeasiswa.blogspot.com/, http://www.dikti.go.id/ atau bisa dilihat juga di http://www.scholarshipnet.info/.

Ada pula sebuah kelompok korespondensi surat elektronik internet (email) khusus untuk menginformasikan beasiswa: http://groups.yahoo.com/group/beasiswa dengan anggota lebih dari tiga puluh ribuan atau milist yang khusus ditujukan bagi masyarakat NTT yang tertarik mendapatkan informasi dan sharing di: http://groups.yahoo.com/group/forumacademiantt). Tujuan utamanya adalah menawarkan berbagai layanan informasi beasiswa kepada anggota kelompok, kesempatan bertanya dan saling tukar informasi dll. Keanggotaan kelompok bersifat gratis. Melalui kelompok ini bisa didapatkan alamat-alamat website pemberi beasiswa.

Cara lain adalah melalui pengumuman dan berita di surat kabar. Beasiswa Australian Development Scholarship, Fullbright, Monbusho, British Chevening Award dll. setiap tahun diiklankan di berbagai surat kabar terkemuka di tanah air. Alternatif lain adalah melalui surat menyurat, entah ke kedutaan besar, ke universitas, atau langsung ke profesor-profesor tertentu yang sesuai dengan bidang yang di minati.

Apa saja yang perlu dipersiapkan ?
Hal utama yang perlu dipersiapkan tentu saja bahasa, sesuai dengan bahasa pengantar yang digunakan di universitas tujuan. Umumnya pemberi beasiswa menetapkan syarat kemahiran berbahasa, misalnya TOFL, IELTS dll. untuk bahasa Inggris. Ada pula yang menetapkan syarat kecakapan matematika seperti GMAT, atau tes potensi akademik seperti GRE dll. Acapkali, syarat kecakapan berbahasa menjadi kendala bagi kita. Sebenarnya bangsa Indonesia dikarunia kelebihan untuk mudah belajar bahasa asing yang banyak digunakan di dunia akademik, yaitu bahasa Inggris. Mengapa? karena kita menggunakan abjad yang sama, pula kebiasaan berbahasa Indonesia kurang menjadi kendala untuk mengucapkan kata-kata bahasa Inggris dengan baik. Sebagai bandingan, orang-orang dari Cina, Korea, Vietnam, Thailand dll., mengalami kesulitan ganda dalam belajar bahasa Inggris, karena bahasa ibu mereka menggunakan abjad berbeda, pula lafal bahasa ibu seringkali amat menyulitkan mereka melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan sempurna.

Hal yang lain tentunya a.l. latar belakang pendidikan kita sesuai dengan persyaratan pemberian beasiswa, proposal penelitian untuk mahasiswa jalur riset, surat rekomendasi, sasaran yang jelas, dan motivasi yang kuat untuk menempuh studi lanjut. Kenapa motivasi? Seringkali hal ini menjadi kriteria penting, karena amat menentukan keberhasilan studi.
Akhirnya, selamat berburu beasiswa ke luar negeri !

Penulis:
*) Alumnus FT Unwira Kupang 1999, Penerima beasiswa Chevening Scholarship Award 2004/2005.
E-mail: tanlas2000@yahoo.com. Silahkan lihat informasi beasiswa di: http://www.ntt-academia.org
**) dosen tetap FT Unwira Kupang, penerima beasiswa doktor Australian Development Scholarship 2002-2005, dan beasiswa Japan-ADB Scholarship Program 1991-1993.

Note: Tulisan diatas dicopy dari http://www.ntt-academia.org/beasiswa.html

Zanel Beta, A Clay Painter From Makassar

Zaenal Beta is finishing his painting at his studio in Fort Rotterdam, Makassar
On a bright afternoon, a man with long beard was seriously staring at his painting that he had just drawn. Then he looked at the painting and with a cut of bamboo (blade of split bamboo, traditionally used to cut umbilical chord) on his right hand as a brush, he continued fixing it. A minute later, a picture of a beautiful-brown Phinisi boat was ready to be adored.
Who was the man? What medium did he use to paint? What makes him different from ordinary painters? Why did the late Affandi, an Indonesian painting maestro dubbed him as an inventor? What did he invent?
He is Zaenal Beta. A celebrated clay painter from Makassar. For painting lovers in Indonesia, his name might be as familiar as shop opera actors for ordinary people or K-pop boyband singers for teenagers. In the world of Indonesian art particularly painting, Zaenal is really well-known. He is one of ‘the cultural heritages’ of Indonesia. As the only clay painter exist, Zaenal’s paintings are hunted by painting-collector not only from Indonesia but also from Europe, US, and many other countries.

“My clay paintings were adored by foreigners” , said the Makassar-born painter.

Of course, his popularity in clay painting arena is not a night-made success. He has undergone a long process and went through a long journey in shapping what he is today.

It was in 1980s, all the story began. When he joined Bachtiar Hafid’s Sanggar Ujung Pandang (Ujung Pandang Art Studio), a celebrated Art Studio at the time, he was elected by Dewan Kesenian Makassar (Makassar Art Council) to represent South Sulawesi in national painting exhibition in Jakarta.
Unfortunately, by the day he went to Jakarta, the canvas that he would use as his painting exhibition fell in muddy road.
“ It was in February, the exhibition was in April. I only had two months left. Pak Baktiar said that the painting that would be on the exhibition must be newest one. I was so frustated”, the father of four said.
But something unique happened when I came home with the muddy canvas. He tried to clean up the mud from the canvas. But after his palm swept the canvas, he saw a lot of pictures on the canvas. House, tree, animal, boat, and many more.

“Then I started realizing that this is that I ‘m seeking for so far, and this is that I’m going to do”, said he.
Days after that, he tried to use clay and draw painting from it.
April 1986, there was an event in Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Here, he met one of the Indonesian painters, Affandi.
Seing his masterpiece, Affandi called Zaenal and said, “ My next generation is born” to Zaenal.
Not knowing what Affandi’s sentence meant, Zaenal just nodded.
“I was just happy to meet my idol in painting at time. I got spec less”, explained Zaenal, whose real name is Arifin.
Then Affandi continued his sentence, “Zaenal, you have invented something in painting history”.
Getting acknowledged by a legend, made Zaenal started to realize that he had found something. Something that he would be proud of as a painter.

Zaenal Beta and one of his clay paintings in his mini studio in Fort Rotterdam Makassar

Coming back to Makassar, he tried to focused on what had made Affandi proud of him. He realized that clay painting is his life and passion.
In order to make his painting perfect, he started collecting clay from different regencies in South Sulawesi.
“Each regency has its own texture of land and clay, and including colour”, Zaenal said.
He traveled to Pare-pare, Toraja, Sidrap, and other regency in seeking the ideal clay he wanted in his painting.
All his struggles have paid off, his paintings are appreciated. In 2000, his paintings started to beautify the wall of hotels and offices in Makassar. He has also joined some art and painting exhibitions across Indonesia and overseas. Winning some art and painting competitions in national and international level.
Now, outside of painting in his mini studio in Fort Rotterdam Makassar, he is also sharing his knowledge to those who wanted to be painter. In 2010, he established Indonesian Schetser Makassar, a club that he believes as an embryo for the birth of the next great painters of the country.
A little contribution for his beloved nation. A motherland that he loves much.

Assessing SYL-IAS’ Political Rivalry in 2013 South-Sulawesi Gubernatorial Election

New Spirit, Command!
SYL and IA in one occasion in Makassar

The schedule of South Sulawesi regional head election is still few months ahead. But political atmosphere among candidates has raised tension in local mass media. For the past few months, the topic of Gubernatorial election has been under their spotlight. Two main media in Makassar, Fajar and Tribun Timur, always put the news as their headlines.

So far, two kings of politics for South Sulawesi region have stated their readiness to compete in upcoming regional election. Syahrul Yasin Limpo (SYL) and Ilham Arief Sirajuddin (IAS). SYL is the current governor of South Sulawesi and IAS is the current mayor of Makassar municipality. SYL is regional chairman of Golkar Party, the biggest party in the country, and IAS is the regional chairman of Democrat Party, the ruling party in the country, also the regional head of mass organization-turned politics, Surya Paloh’s Nasional Democrat (Nasdem).

It is obviously too premature to predict who will win the game. Since politics is not mathematics, It is difficult to assess who is more superior than others. These two prominent figures have the same chances and opportunities to be the next king of South Sulawesi. It is up to South Sulawesi citizens’ political choices to vote for either a new governor or an old ‘Komandan’.

Based on analysis expressed by some political experts in some media in Makassar, there are some aspects that we can draw to assess the political power of each candidate.

• Political Position and popularity; It is undeniable that political position is always in line with popularity. In my opinion, both SYL and IAS have the same power in term of this criteria.

• Incumbent factor; SYL’s position as an incumbent (the current Governor) has a significant role in leading him to be superior. According to Syarief Hidayat, a researcher of Indonesian Institute of Science (LIPI), an incumbent always has big chance to win an election. It is because of his large network and relation to prominent businessmen that will back-up his campaign in the next election. (Fajar, 01/02). But remember, IAS also, as a mayor of one of the biggest cities in Indonesia, precisely has a larger network as SYL.

• Running mate choices ; the figure of the second person as running mate in election is very crucial. For this criteria, IAS is a step ahead against SYL. The popularity of Aziz Qahar Muzakar (AQM) has been celebrated. AQM is the current member of Regional Representative Council (DPD) representing South Sulawesi in Senayan Jakarta. He is well-known for having loyal-fanatic- grass root supporters. For this reason, IAS is in advantageous position to beat SYL. On the other hand, SYL is still confused in choosing who is the best person to accompany him as his deputy in upcoming election. Few names are raised, including M Roem (the chairman of DPRD Sul-Sel), Rudyaanto Assapa (the regional chairman of Gerindra Sul-Sel) and Ashabul Kahfi (the regional chairman of PAN) but none is chosen. Seeing this condition, SYL is in dilemma.

However, there are many other things that we can consider to compare the power of these two figures including their tribes, Makasarese and Bugenese. But one thing in politics, it is a grey area. It can’t be calculated as it is. Whom you will vote for, let your conscience answer it.
***

Komunitas Bahasa Inggris di Makassar

How doI Speak,Mr? (foto: google)

Anda mendambakan kemampuan berbahasa Inggris sefasih bule? Atau jangan-jangan Anda sudah kursus kiri-kanan namun tak juga bisa ber-cas-cis-cus English? Tenang. Don’t panic! Mungkin ikhtiar Anda yang kurang. Coy, ngambil kursus saja tidak cukup. Apalagi kalau Kurus yang Anda ambil fokusnya ke grammar. Pasti kemampuan bicara yang Anda dambakan pun semakin jauh panggang dari api. Menurut sebuah situs belajar Bahasa Inggris, setidaknya ada beberapa hal yang harus kita ‘anut’ kalau mengimpikan kemampuan Bahasa Inggris yang fantastis dan bombastis (lebay 😀 ).

First, never study grammar rules. Yup, jangan belajar grammar. Analoginya, anak bayi yang sedang belajar ngomong. Mereka niru saja apa yang diucap oleh bokap-nyokapnya. Mereka gak belajar apa itu subyek, predikat, dst.Bahasa kasarnya, kalo Anda mau bisa cepat cuap-cuap, hantam saja. Ntar grammarnya, Anda bisa perbaiki sendiri seriring berjalannya waktu. (ya iyalah, supaya speakingnya semakin bagus, gak ndeso 😀 ).

Second, listen first. Mendengar coy. Biasakan telinga mendengar bagaimana kosakata English diucap. Jika Anda suka music, tips ini nyambung banget buat Anda. Banyak kan orang-orang hafal lirik lagu dan dengan enjoynya menyanyikan lirik-lirik English. Itu sangat membantu buat speaking. Nonton berita English, radio yang berbahasa inggris, dan sejenisnya. Asal jangan ngupingin orang. Bisa berakhir di pengadilan tuh 😀 .

Third, nah ini dia intinya yang mau saya jelasin disini.
GABUNG DENGAN KOMUNITAS ENGLISH!

Yup, karena kita belajar bahasanya orang, kita harus mengkondisikan diri kita dengan lingkungan Negara berbahasa Inggris. Syukur-syukur kalo dapat beasiswa dan tinggal di Amerika atau Eropa selama sekian Minggu. Kalo tidak? Hayok gabung di komunitas adalah solusinya.
Mengapa komunitas? Lha pake nanya lagi :D.

Komunitas umumnya adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama. Diantara anggotanya memiliki ketertarikan yang sama.

Beberapa tahun terakhir, banyak muncul komunitas dengan jenisnya yang beragam. Ada komunitas fotografi, android, backpacker, pecinta budaya jepang, dsb. Nah begitupun dengan Bahasa Inggris. Anggotanya memiliki ketarikan yang sama akan Bahasa internasional ini.

Nah ngomongin komunitas Bahasa Inggris (English Community), di bagi Anda yang tinggal di Kota Daeng (Makassar), berikut adalah beberapa komunitas Bahasa Inggris yang bisa Anda gabung dan menjadi bagian dari English-speaker family mereka.

MAKES (Al-Markaz for Khudi Enlightening Studies), Masjid Al-Markaz Makassar.

Suasana diskusi ditahun-tahun pertama terbentuknya MAKES (foto courtesy http://www.anasejati.wordpress.com)

Terbentuk medio 1998, komunitas ini menjadi komunitas kajian keislaman Berbahasa Inggris pertama di Makassar. Kata Al-Markaz sendiri diambil dari Bahasa arab yang berarti pusat. Walau orang sering menghubungkannya dengan nama Masjid tempatnya bermarkas. Masjid Al-Markaz. Sedangkan Kata ‘khudi’ diambil dari bahasa Persia yang berarti jati diri. So, arti namanya secara utuh adalah Pusat Kajian yang Mencerahkan Diri. Indah nian namanya bukan?

Sesuai namanya, komunitas ini mengedepankan kajian yang bisa mencerahkan setiap membernya. Bahasa Inggris hanyalah sebagai bahasa pengantar. Jika Anda fasih berbahasa Inggris karena gabung di komunitas ini, itu adalah bonus.

Membernya berasal dari berbagai latarbelakang. Ada mahasiswa S1, S2, hingga yang sudah bekerja. Bahkan ada anak SMA juga.

Kegiatan utamanya adalah English discussion tiga kali sepekan. Setiap Selasa sore, Kamis sore, dan Sabtu sore jam 4 (ba’da Ashar). Bertempat di pelataran Masjid Al-Markaz Makassar. Diluar kegiatan itu, ada beberapa kajian untuk meningkatkan kapasitas keilmuan member. Diantaranya adalah bedah buku,novel, dan film. Pelatihan kepenulisan akademik, seminar, dan pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan bersama. Termasuk bedah dan diskusi TOEFL dan IELTS.

Sejauh ini beberapa pendirinya tidak lagi tinggal di Makassar. Bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Beberapa membernya juga (disini tidak dikenal mantan member) sudah banyak berkiprah diberbagai bidang. Ada juga yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana diluar negeri. Australia, Amerika, dan Eropa. Tahun 2011 lalu, empat orang membernya sama-sama lulus dan diterima diterima di empat perguruan tinggi berbeda di Australia lewat beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Pada saat tulisan ini diketik, mereka tengah mengikuti training IELTS di Bali.

Jika Anda mencari komunitas Bahasa Inggris yang bukan hanya menawarkan kemampuan Bahasa Inggris, MAKES adalah tempat yang akan menginspirasi Anda.

Untuk bergabung, datang saja di diskusi mereka tiga kali sepekan. Selasa, Kamis,dan Sabtu sore di pelataran Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Semoga Anda tercerahkan! 

Suasana diskusi MAKES. Mencerahkan!

(tambahan; di Masjid ini juga terdapat beberapa lembaga Bahasa Asing. Sejauh ini yang aktif berkegiatan adalah Bahasa Jerman dan Perancis. Setiap Sabtu sore jam 4. Barangkali Anda tertarik juga dengan kedua Bahasa itu).

Pioneer English Meeting Club (PEMC) Benteng Fort Rotterdam Makassar

Berbeda dengan MAKES yang fokus ke kajian keisalaman, PEMC Benteng Fort Rotterdam agak sedikit ‘liberal’ (maaf hanya istilah nakal saja :D). Bermarkas di Benteng Fort Rotterdam Makassar, membuat klub ini selalu ramai. PEMC berdiri sekitar awal tahun 1990-an. Kegiatan intinya adalah diskusi Bahasa Inggris setiap pekan. Jika MAKES melaksanakan diskusi tiga kali sepekan, PEMC hanya sekali saja tiap pekan. Yaitu tiap hari Minggu pagi jam 10 teng. Selain diskusi klub ini juga mengadakan diskusi TOEFL untuk anggotanya. Diluar kegiatan itu, kadang juga menyelenggarakan English Camp, dan beberapa kegiatan lainnya.

Suasanan diskusi di PEMC Fort Rotterdam (foto PEMC FB group)

Keuntungan klub ini karena berada di dalam kompleks gedung sejarah peninggalan Belanda. Sehingga tiap Minggu, selalu saja ada bule yang datang berkunjung. Anda tentu saja bisa mempraktikan kemampuan Bahasa Inggris Anda, free. Asal berani saja 😀 .

Jika Anda masih belajar, klub ini menyelenggarakan Kurusu Bahasa Inggris juga. Waktunya tiap hari Minggu juga, jam 8, sebelum diskusi.

Untuk bergabung di klub ini, datang saja tiap Minggu jam 10 pagi di Benteng Rotedam Makassar. Cari spanduk merah bertuliskan PEMC. Teman-teman disana akan menyambut Anda dengan warm welcome .

Benteng Panyua English Club (BPEC) Fort Rotterdam Makassar

Selain PEMC, di Benteng Fort Rotterdam juga ada klub BPEC. Markasnya bertetanggaan dengan PEMC. Kegiatannya juga sama dengan PEMC, tipa hari Minggu. So, jika hari Minggu Anda ke Benteng yang terletak dekat Anjungan Losari ini, Anda tinggal pilih. Mau gabung di PEMC atau BPEC. Tentu saja kedua klub ini menawarkan dua atmosfir diskusi yang berbeda.

Kegiatan yang dilaksanakan hampir sama dengan PEMC. Diskusi,English camp, TOEFL,dsb. Letaknya didalam benteng juga memudahkan anggotanya untuk bercakap ria dengan bule yang datang berkunjung.

Untuk bergabung, datang saja di Benteng Rotterdam tiap Minggu jam 10 teng.

Benteng Panyua atau Fort Rotterdam. Gedung peninggalan Belanda yang kini menjadi objek wisata dan tempat belajar dan diskusi Bahasa Asing (foto: google)

Young English Lover (YEL) Makassar

Diantara semua English community di Makassar, mungkin klub ini yang paling ‘wah’. Anggotanya rata-rata pegawai yang bekerja di perusahaan atau kantor besar walau ada juga beberapa yang masih berstatus mahasiswa . Tempat meetingya pun di Kafe. Karenanya, klub ini tidak punya markas tetap. Satu-satunya mobile English club di Makassar.

Kegiatan intinya adalah English discussion yang diadakan tiap Minggu sore jam 4. Sebelumnya mereka meeting di kafe Barugae depan Mall Panakukang (MP). Kini tempat ‘hang out’ mereka di kafe Mazagena yang berlokasi masih sekitar MP. Untuk berdiskusi disini, Anda harus menyiapkan uang kisaran 10.000 sampai 15.000 rupiah untuk minuman/snack.
Tentu saja, jika Anda seorang pengangguran, mungkin klub ini cocok bagi Anda. Karena membernya kebanyakan ‘bos-bos’, mungkin saja Anda bertemu rejeki Anda disana. Siapa tahu? 😀

Hasanuddin English Community (HEC) Tepi Danau Universitas Hasanuddin Makassar

Suasana diskusi HEC. Resep manjur bisa English.

Diantara semua klub atau komunitas diatas, HEC merupakan saudara bungsu. Baru terbentuk Mei 2011 lalu. Walaupun masih terbentuk, klub yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama ini sudah menunjukan eksistensinya sebagai sebuah klub atau komunitas berbahasa Inggris favorit.

Markasnya di gedung IPTEKS, tepi danau kampus Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Kegiatan utamanya adalah disksui Bahasa Inggris tiap Jumat sore jam 4 dan diskusi TOEFL tiap Rabu jam 4 sore. Diluar kegiatan itu, HEC juga mempunyai program English Full Day tiap bulan dengan mengundang native speaker.

Jika Anda ingin bergabung di komunitas bungsu ini, datang saja di tiap diskusi mereka hari Jumat sore atau diskusi TOEFL tiap Rabu sore jam 4.

HEC members dengan native speakers. Santai tapi serius.

Itulah beberapa English Community yang mungkin Anda cari untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris Anda. Juga tempat berbagi ilmu dan pengalaman dan juga sahabat. Jika Anda hendak bergabung disalahsatu komunitas diatas, perbaiki niat. Semata untuk pengetahuan dan pengembangan serta peningkatan kapasitas diri. Akhirnya, selamat bergabung, semoga impian Anda untuk fasih Bahasa inggris segera menjadi nyata. Best of luck! 

Menulislah, Provoke Yourself!

Ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa, jika engkau ingin umurmu lebih panjang dari usiamu maka menulislah. Sekilas kalimat ini tak lebih dari sebuah kalimat motivasi bahwa menjadi penulis itu akan selalu dikenang, melalui karya tulisannya yang dibaca banyak orang.
Namun jika dimaknai lebih dalam, sesungguhnya adagium diatas adalah sebuah adagium provokatif (dalam pengertian positif) agar mulai mengambil pena, dan menulis apapun itu. Toh, untuk mencapai jarak sekian ribu mil, selalu dimulai dari langkah pertama. Diawal menulis, buang jauh-jauh tentang kulaitas. Nanti akan terbentuk seiring seringnya menulis dan menulis dan menulis. Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi! Begitu kira-kira.

Stephen King pernah mengatakan “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.”

Sehubungan dengan dunia tulis-menulis ini, 15 Oktober 2011 lalu, saya mengikuti kegiatan ONN OFF. sebuah kegiatan mengenai kepenulisan dan sosial media. Disponsori oleh Konsulat General Amerika Surabaya dan Makassar Coin A Chance (MCAC). Tempatnya di gedung American Corner (Amcor) Universitas Hasanuddin, lantai II gedung perpustakaan pusat UNHAS. Sebenarnya kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan. Tahun sebelumnya (2010) namanya Pesta Blogger. Tahun 2011 diganti menjadi ON OFF. Namun karena berhubung saya agak sedikti ‘kuper’ mengenai pergaulan dunia maya, saya baru mengenal kegiatan ini tahun lalu. Ya, pas ON OFF itu.

Materi inti dari kegiatan ini adalah seminar yang dibawakan oleh praktisi dunia maya (para bloggers, dan semazhabnya). Berbagi pengetahuan mengenai ‘the power of virtual world’ dan bagaimana kekuatannya itu dimanfaatkan untuk sebuah perubahan dalam masyarakat (social movement).
Untuk ON OFF 2011, ada dua pemateri inti. Ms. Aulia Halimatussaidah (seorang onlinepreneur, penulis, designer, dan bloger aktif) dan Ms. Yuli Tanyadjie (seorang urbanis, arsitek, dan tentu saja juga seorang penulis).

Mba Aulia membawakan materi. The power of social Media.

Ms. Aulia yang membawakan materi pada sesi pertama banyak memberikan penjelasan mengenai kekuatan media sosial (dunia maya) sebagai sumber inspirasi tulisan. Pemilik situs (blog) http://www.salsabeela.com ini , juga sharing mengenai tips menulis yang baik. Satu hal yang ditekankan oleh hijaber ini adalah mengenai kekuatan research sebelum menulis. Dia memberikan contoh penulisan novelnya tentang paris (saya lupa judul novelnya). Kita akan terkejut ketika kita mengetahui bahwa penulisnya sama sekali belum berkunjung ke kota mode itu. Deskripsi lika-liku kotanya benar-benar nyata. “Sebelum menulis novel itu, saya harus search tentang segala sesuatu mengenai Paris. Kalau perlu sampai mengetahui lorong-lorongnya”, jelas penulis yang sudah menelorkan beberapa novel ini.
Namun tentu saja, jangan pikir kata research ini sebagai suatu momok. Buat proses research itu se-fun mungkin. Research should be fun.

Tentang inspirasi tulisan,menurutnya banyak media sebagai sumber inspirasi. “Status di FB atau tweet teman di twiter pun bisa menjadi sumber inspirasi”, tambahnya.
Selain itu, kalau ingin menjadi penuli’beneran’, tentu saja harus mempunyai tekat baja.
Think big-Start small-act now!
***

Peserta bersama panitia ON OFF 2011 usai seminar.

Sedangkan Ms. Yuli yang memberikan materi pada sesi kedua, lebih banyak memprovokasi dan memberikan tips kepada peserta untuk mulai ‘action’ untuk sebuah perubahan sosial.

Yang pertama “Provoke yourself”. Harus punya inisiatif untuk memprovokasi diri untuk melakukan sesuatu yang baik. “Think seriously fun!”. Yang kedua, think out of the box, Excute inside the box! Tentang tips kedua ini, Ibu yang kini menjabat sebagai kepala sekolah Akademi Berbagi Makassar ini membeberi contoh bagaimana gerakan sosial di beberapa Negara diawali oleh ‘ide yang out of the box’. Di sebuah Negara di Eropa, ada eskalator yang tangga-tangganya jika diinjak akan berbunyi sesuai urutan tangga nada dalam musik. Juga tentang gerakan Indonesia Berkebun di Indonesia, Coin A Chance, dan beberapa gerakan lain di beberapa Negara dan kota. Yang ketiga dalah Open Minded-Break Bounderies. Bagi kita orang Indonesia, kita terkadanag terhalang oleh adat istiadat yang melekat dan sudah mengakar. Melanggarnya dianggap sebuah dosa budaya. Biskah kita berpikir terbuka dan menyikapi kemajuan zaman dengan bijak?

Yang keempat yang merupakan provokasi terakhir terkait inisiasi sebuah perubahan adalah COLABOARATE! Jangan pernah ragu untuk bekerjasama. Sebagai makhluk sosial dan manusia yang memiliki keterbatasan, kita dituntuk untuk membuka diri terhadap kemampuan orang lain. Bahwa masing-masing kita memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Lets colaboraet them!

Yang paling terkahir adalah sosialisaikan gerakan itu melalui tulisan dan manfaatkan kekuatan dunia maya dan jejaring sosial. BUKTIKAN SAJA!
Maka menulislah, provoke yourself to be a writer!

Foto bersama Konjen Amerika Surabaya, Mba Aulia (berjilbab), dan Mba Yuli (kanan). Bersama teman sekelompok meraih gelar ‘the best idea’ untuk kategori ‘ide out of box”. Menjaga keindahan Anjungan Losari Makassar dengan konsep Losari Berseri. (Saya, Afdal, wawan, Sapri, dan Ina).